Aksi membalas Bapak Guru

1097 Kata
Keesokan harinya. Jam sekolah sudah mulai, Jennifer dan gengnya sudah berkumpul di parkiran. Saat melihat tangan Celsi diperban, tentu saja membuat mereka terkejut. "Tanganmu kenapa?" tanya Karina. "Aku jatuh kemarin," balas Celsi dengan senyuman kecut di wajahnya. "Jatuh? Jatuh cintrong maksudmu, hahaha!" sahut Keni mengejek. "Gak ah aku jatuh dari tangga kemarin," Celsi mengelak. Zena hanya diam di samping Celsi. Ia juga bingung kenapa tangan Celsi seperti itu. Walaupun sudah bertanya Celsi selalu bilang "Rena". Benarkah Rena? Gadis culun yang selalu mereka bully. Tapi seharian kemarin ia tak melihat Rena. Namun yang membuat Zena curiga ini tentang kejiwaannya Celsi, entah waras atau tidak. Celsi sendiri meminta dirinya untuk merahasiakan apa yang dialaminya. Karena Celsi akan malu kalah dari Rena. Namun Zena masih tak percaya jika tidak melihat dengan kedua matanya sendiri. "Jenni kelas yok?" ajak Keni. "Malas, mending kita ke kantin," jawab Jennifer sembari memberi usul lagi. "Kantin? Jadi ceritanya kita mau bolos?" tanya Keni. "Yah. Kalau kau gak mau ikut terserah," ucap Jennifer ia lalu pergi. Mereka mengikuti Jennifer karena biasanya Jennifer sering mentraktir mereka makan. Kan sayang jika mereka menolak ikut Jennifer. *** Sudah waktunya jam pelajaran. Semua siswa sudah masuk ke kelas mereka masing-masing. Rena yang sudah berada di kelas, duduk di pojokan belakang ruangan. Kebetulan Jennifer dan gengnya kali ini tidak masuk karena bolos les. Itu sudah kebiasaannya. Apalagi kali ini ada pelajaran matematika. Rena sedikit melirik teman-temannya, ia sedikit terkekeh melihat tingkah mereka yang sedikit menjauhinya. Mereka kadang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tak masalah seperti ini, setidaknya aku bisa merasakan apa itu sekolah lagi," batin Rena lalu kembali membaca bukunya. Tibalah tiga pria populer di sekolah. Leo, Daniel dan Regan. Mereka semua melihat ketiga pria itu dengan tatapan kagum. Bahkan banyak sekali gadis di sekolah yang menyukai ketiganya. Ingin sekali mereka memiliki salah satunya. Terkhususnya adalah Leo, pria tampan berwajah papan datar, cuek dan irit bicara. Namun, semua gadis di sekolahnya mengurungkan niatnya. Karena ada Jennifer yang juga mengincarnya meski ditolak berkali-kali. Beberapa saat kemudian terlihat guru pelajaran mereka datang ke kelas. Pelajaran pun dimulai. Bapak guru berusia kurang lebih 26 tahun itu menjelaskan apa yang ia jelaskan sesuai dengan pelajarannya. Tiba-tiba terdengar suara yang membuat guru itu marah. Ada dua siswa yang sedang mengobrol. Bapak guru tidak terima jam pelajarannya terganggu. Jika ada Jennifer di kelas dia hanya diam atau menegurnya, namun kali ini Jennifer tidak ada di kelas. Bapak guru itu mengambil penghapusnya lalu melemparkan ke arah dua siswa yang mengobrol. Tapi lemparannya terlalu berlebihan dan melewati dua siswa itu dan terkena kepala seorang siswi yang duduk di pojokan belakang. Melihat penghapusnya melayang melewati mereka, refleks siswa itu langsung diam. Semua tatapan murid menatap dua siswa itu dan siswi yang berada di pojokan belakang. "Jika kalian mengobrol di jam pelajaran saya, lebih baik kalian keluar!" hardiknya. "Maaf pak," ucap mereka berdua serempak. Bapak guru itu memaafkan, lalu ia menatap ke arah kursi siswi pojokan belakang. Ia hanya menatap datar lalu membalikkan tubuhnya ke papan tulis. Tanpa membalikkan tubuhnya bapak guru bersuara. "Siswi yang berada di pojokan belakang sendiri. Bawakan penghapus ke depan!" Mendengar suara bapak guru, semua murid melihat siswi yang duduk di pojokan belakang termasuk tiga pria populer di sekolah. Beberapa detik kemudian mereka di kejutkan saat melihat Rena melempar penghapus itu ke arah depan. Dukh! Lemparan itu mengenai kepala sang bapak guru. Tentu saja semua terkejut tak main melihatnya. Bapak guru membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Rena. "Kau berani melawan gurumu!" Ingin sekali memberi pelajaran kepada Rena saat jam kosong. Tapi ia urungkan karena masuk jam pengajaran. Jadi ia urungkan memberi pelajaran kepada Rena seperti biasa. "Aku hanya membalas lemparan mu bapak guru terburuk," balas Rena santainya. Bagaimana tidak terkejut melihat Rena dengan santainya berkata bapak guru terburuk. "Anda yang melempar seharusnya anda ambil sendiri. Anda kan punya kaki, kecuali anda cacat, saya dengan senang hati akan mengambilkannya untuk anda," katanya lagi. Bapak guru dibuat terkejut dengan sikap Rena yang tidak seperti biasanya. Padahal Rena yang ia kenal itu cupu dan penurut ketika disuruh, padahal ia cerdas. Semua murid kembali terkejut dengan perkataan Rena yang begitu beraninya mengatakannya. Rena kembali bersuara. "Berhubung tadi bapak melempar 'kan penghapusnya mengenai kepalaku, jadi aku lempar balik penghapusnya ke kepala bapak. Tidak ada salahnya 'kan, aku hanya membalas, secara aku tidak terima bapak yang tiba-tiba melempar 'ku dengan penghapus, meskipun tidak sengaja, tapi ini sudah adil. Bapak tidak perlu minta maaf karena saya sudah membalasnya," "Rena keluar dari kelas saya!" Bapak guru itu berteriak menyuruh Rena keluar. Rena tersenyum sambil pamit ala-ala bangsawan. "Dengan senang hati bapak," Rena melangkahkan kakinya keluar kelas. Namun, langkah kakinya berhenti saat mendengar bapak guru berbicara. "Akan aku laporkan kamu, supaya beasiswa 'mu dicabut dan dikeluarkan," ancamnya. Rena terkekeh lalu ia membalikkan tubuhnya dan menatap bapak guru dengan senyuman seringai. "Lakukan saja, mungkin setelah ini bapak akan mendapatkan kejutan," ucap Rena sambil melangkah pergi. Semua murid diam-diam membisikkan perilaku Rena yang tidak biasa. Sungguh tidak bisa dipercaya. Sedangkan Leo dari tadi memperhatikan sikap Rena yang sangat berani tidak seperti biasanya. Setahunya, meskipun Cupu, Rena selalu baik dengan siapapun, inilah yang Leon suka. "Semuanya harap diam!" Mendengar suara lantang bapak guru itu, mereka semua diam. Setelah semuanya diam, bapak guru itu kembali melanjutkan aktivitasnya. *** Malam harinya. Kini terlihat seorang laki-laki berusia 26 tahun tengah duduk sendirian di ruangan tengah sambil menonton televisi. Ia tinggal sendiri di kontrakannya. Saat fokus menonton TV tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang hingga ia kesulitan bernafas dan berakhir pingsan. "Ck merepotkan," *** Beberapa saat kemudian. Byur! Siraman air mengguyur dirinya. Tentu saja laki-laki berumur 26 tahun itu langsung bangun dari pingsannya. Namun kemudian ia tersadar kalau kedua tangan dan kakinya terikat, dan mulutnya dilakban. Ia melihat sekelilingnya dan ternyata ia masih di dalam rumahnya. Yah, ia masih di ruangan tempat ia menonton TV. Seketika ia terbelalak melihat sosok yang dikenalinya. "Surprise!" Sosok Rena berdiri dengan sedikit memiringkan kepalanya di hadapan sang bapak gurunya. Ya, laki-laki yang diikat itu adalah bapak gurunya yang menyuruh Rena keluar dari kelas, hingga ia jadi bolos dan tidak masuk ke kelas tadi. Sosok Rena yang berdiri dengan sedikit memiringkan kepalanya serta tersenyum lebar sambil menatap bapak guru yang terikat. Bapak guru itu panik? Jelas ia sangat panik. Bapak guru itu ingin sekali berbicara kasar dengan Rena. Tapi, apalah dayanya yang mulutnya ditutup rapat oleh lakban. Kedua tangan dan kakinya diikat dalam posisi duduk di sofanya. Kalau ditanya, bagaimana cara Rena masuk? Jawabannya, karena sesuai ingatan pemilik tubuhnya, bapak guru memiliki kebiasaan mengunci pintu saat jam 9 malam. Karena saat ini masih jam 8 malam jadi ia bisa masuk ke rumah sang guru dengan mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN