Sarah yang awalnya mengepalkan tangan, kini mengusap air matanya dengan kasar. Ia langsung merogoh ponsel di sakunya. Dirinya kemudian langsung menelpon Andra. Setelah suara dering telepon itu membuatnya menunggu, akhirnya diangkat juga. “Halo, Sarah. Ada apa?” “Mulai sekarang, papaku sebagai salah satu pemegang saham mayoritas di Syailendra Grup akan mendukung apapun keputusan Kak Andra. Apapun itu,” ucap Sarah. Tangannya mengepal kuat. “Benarkah, Sarah?” Kemudian terdengar suara tawa dari Andra. “Terima kasih banyak untuk itu.” “Tapi ada syaratnya,” ucap Sarah kemudian. “Iya apa? Bilang saja apa yang kamu butuhkan.” Air mata Sarah masih menetes. Ia sudah membulatkan tekad. Jika Ananta tidak mau bersamanya, maka akan Sarah buat lelaki itu tidak bisa melakukan apapun kecuali meng

