Sarah suka suasana ini. Makan malam bersama Ananta terasa romantis. Hanya ada mereka berdua. Hanya dirinya dan Ananta. Kebahagiaannya tersebut terlihat jelas dari senyuman Sarah. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Ananta yang sedang mengunyah. “Nggak makan, Sar?” Lelaki itu kemudian mendongak dan pandangan mata mereka bertemu. Sarah tidak tahu kenapa meski sudah bertahun-tahun bersama lelaki itu, dirinya tetap tidak bisa menatap mata Ananta terlalu lama. Jantungnya langsung berdebar dengan cepat dan seketika ia merasa malu. Ia hanya bisa memandangi lelaki itu lebih lama saat pandangan Ananta tidak tertuju padanya. “Makan.” “Dari tadi kamu ngeliatin aku aja.” Pipi Sarah terasa memanas. Ia jadi salah tingkah. “Enggak. Kamu geer banget.” Sarah kemudian menusuk dagingnya dengan g

