"Arlo, nama itu mirip dengan...Ah, tapi itu mustahil. Dia direktur keuangan sekaligus kerabat Tuan Nolan Sasongko. Mana mungkin dia Arlo yang sama," sanggah Moza menepis pikirannya sendiri.
Selesai briefing, Moza menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Ia menyalakan laptop dan memulai pekerjaan yang telah menumpuk di atas mejanya.
"Mbak," sapa Sisil dengan rambut yang masih setengah basah.
"Iya," jawab Moza masih berkonsentrasi membaca mutasi rekening koran.
"Ini box petty cashnya. Silakan Mbak cek dulu sebelum saya buka," ucap Sisil dengan suara khasnya yang mendayu-dayu.
Moza meraih safety box kecil itu dan membuka isinya.
"Mbak, boleh saya pulang jam lima tepat. Hari ini anak saya ulang tahun," ucap Sisil terdengar ragu.
Jari jemari Moza sibuk menghitung uang, namun ia tetap mendengarkan apa yang diucapkan Sisil.
"Oke. Selamat ulang tahun ya untuk Rehan," jawab Moza.
Sisil adalah satu-satunya staf Moza yang telah berstatus janda. Entah apa penyebabnya hingga Sisil menjanda di usia dua puluh empat tahun. Yang jelas gadis itu menikah muda lalu bercerai dengan suaminya hanya dalam waktu singkat. Sisil harus menjadi orang tua tunggal bagi putranya yang baru berusia tiga tahun. Karena itu, Moza terkadang memberikan sedikit kelonggaran padanya.
Tak terasa Moza tenggelam dalam pekerjaan yang tiada habisnya. Sifat perfeksionisnya, membuat Moza tidak ingin ada kesalahan maupun hal yang terlewatkan olehnya. Ia juga sibuk memanggil anak buahnya secara bergantian untuk mengecek sejauh mana pekerjaan mereka. Hingga tak terasa jam telah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Mai, ayo kita makan siang," ajak Moza menghampiri adiknya yang sedang bercermin sambil membenahi bedak di wajahnya.
"Maaf, Kak Moza, aku sudah ada janji makan siang dengan teman."
"Teman? Siapa? Kamu tidak pergi bersama Jolin, Erika, maupun Sisil."
"Memangnya temanku hanya mereka? Aku cuma karyawan magang disini, satu bulan lagi aku juga akan pergi. Aku nggak perlu terlalu akrab dengan mereka."
"Mai, kenapa kamu selalu berkata begitu? Apa kamu nggak ingin menjadi karyawan tetap disini?"
Maira menatap Moza sambil menaikkan sudut bibirnya.
"Untuk apa bekerja keras dengan gaji yang nggak seberapa. Kakak yang seorang supervisor, gajinya hanya naik sepuluh persen per tahun. Sorry, tapi aku nggak tertarik menjadi karyawan biasa seperti Kakak. Aku bekerja disini hanya demi memenuhi tugas kuliah," ucap Maira mengeluarkan lipstiknya.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Maira. Seulas senyuman tersungging di bibirnya ketika memandang layar ponsel.
Moza berusaha mengintip untuk mencari tahu siapakah orang yang menghubungi adiknya. Namun dari samping, hanya terlihat samar-samar sederetan angka yang muncul di layar ponsel Maira.
Mengetahui lirikan mata sang kakak, Maira segera menyembunyikan ponselnya di dalam tas.
"Kak, aku pergi sekarang. Aku tidak mau temanku menunggu terlalu lama."
Suara berdecit dari kaki kursi Maira menandakan bahwa gadis itu sangat terburu-buru. Ia menyambar tas kerjanya lalu melangkah pergi.
"Tunggu, Mai.."
Maira tidak menghiraukan panggilan Moza. Secepat kilat, ia menghilang dari hadapan kakaknya.
Moza hanya bisa mengelus d**a menerima perlakuan adiknya itu.
Sebagai putri bungsu di keluarga, Maira memang dimanjakan oleh kedua orangtuanya sejak kecil. Berbeda dengan Moza yang terbiasa hidup mandiri. Namun kini setelah kedua orangtua mereka meninggal dunia, Maira tetap tidak mengubah sikapnya.
"Mbak, mau nitip makan siang?" tanya Herel berhenti sejenak. Dendi yang berdiri di samping Herel hanya cengar-cengir.
"Nggak usah, Rel. Aku mau makan di kantin."
"Kalau begitu kami duluan, Mbak," ucap Herel berjalan keluar dari pintu diikuti oleh Dendi di belakangnya.
"Lebih baik aku makan siang sekarang sebelum kantin karyawan penuh."
"Kriiinggg," dering suara telepon di ruangan yang telah kosong itu menghentikan langkah Moza.
Meskipun perutnya keroncongan karena lapar, Moza bergegas mengangkat telepon itu.
"Selamat Siang. Saya Moza dari Jaya Group. Ada yang bisa saya bantu," sapa Moza dengan ramah.
"Siang, Mbak Moza. Ini Atika."
"Tika, aku kira siapa. Ada apa?" tanya Moza kepada resepsionis kantor Jaya Group itu.
"Maaf, Mbak Moza. Ini ada kurir dari toko perhiasan. Dia bilang mau mengantarkan kalung untuk Mbak."
"Kalung? Aku nggak pernah pesan kalung, Tika."
"Mbak, tapi kurirnya bersikeras kalau penerimanya orang dari departemen finance. Nama depannya huruf M. Yang namanya berawalan huruf M disini khan Mbak Moza."
"Tika, kalau begitu aku turun ke bawah sekarang. Aku akan bicara langsung dengan kurirnya."
Moza menutup pintu ruangan finance lalu berjalan cepat menuju ke lift. Selama berada di dalam lift, Moza bertanya-tanya di dalam hati siapa yang telah mengirimkan kalung padanya. Ketika pintu terbuka, Moza langsung menuju ke lobi.
Ia melihat seorang laki-laki bertubuh pendek mengenakan seragam hitam sedang bersandar di meja resepsionis.
"Mbak Moza, ini Bapak Heri, kurir dari toko perhiasan Valentine," ucap Tika memperkenalkan laki-laki itu.
"Selamat siang, Mbak. Ini ada kiriman dari toko perhiasan kami kalung emas untuk Mbak," ucap laki-laki itu menyodorkan sebuah tas kepada Moza.
"Pak, maaf, tapi saya tidak memesan kalung apapun."
"Mbak, ada seorang customer kami yang membeli kalung dan meminta bingkisannya dikirimkan ke alamat kantor ini. Katanya harus diserahkan sendiri kepada wanita yang nama depannya huruf M di departemen finance."
Moza mengernyitkan dahinya.
"Apa Bapak yakin itu saya? Lalu siapa orang yang menyuruh Bapak mengirim kalung ini? Kenapa dia tidak menyebutkan nama lengkap penerimanya. Jangan-jangan kalung itu bukan untuk saya."
"Aduh, Mbak, saya tidak bohong. Mbak cek saja kertas yang ditempel di luar kotak perhiasan. Soal siapa pengirimnya saya tidak tahu. Saya hanya ditugaskan oleh atasan saya untuk mengantarnya ke kantor Jaya Group," jelas kurir itu nampak kesal.
"Baik, Pak, saya lihat sebentar."
Dengan hati-hati Moza mengeluarkan kotak berwarna merah dari dalam tas pembungkusnya. Ada secarik kertas yang tertulis di atas kotak itu.
"For M, my pretty woman in Finance Department," baca Moza perlahan-lahan.
"Aneh sekali, disini memang hanya tercantum inisial huruf M sebagai penerimanya,"
gumam Moza mengamati tulisan itu.
"Mbak, tolong diterima saja. Saya masih ada tugas ke tempat lain. Kalau ada pertanyaan telpon saja ke toko. Ini kartu namanya," ucap kurir itu menyerahkan kartu nama kepada Moza.
Tanpa banyak basa basi, kurir yang bernama Pak Heri keluar dari lobi Jaya Group. Meninggalkan Moza yang masih terbengong-bengong.
Atika malah tersenyum memandang raut wajah Moza yang kebingungan.
"Mbak, bawa saja kalungnya. Mungkin itu dari pengagum rahasia."
"Mana mungkin pengagum rahasia sampai memberikan perhiasan mewah seperti ini, Tika. Aku ke atas dulu ya. Aku mau menyimpan kalung ini."
Karena rasa penasaran, Moza menuju ke lift untuk kembali ke ruangan finance di lantai tiga. Namun ia justru berpapasan dengan Kenny, supervisor marketing yang menjadi rival abadinya. Pria itu selalu pura-pura ramah di hadapan Moza, kendati di ruang meeting mereka sering berselisih paham, terutama tentang masalah customer.
"Siang, Ibu Moza. Apa Anda sudah makan siang?"
"Belum Pak Kenny," jawab Moza seperlunya.
Mata jeli Kenny langsung tertuju pada kotak yang dipegang Moza.
"Wow, ibu Moza apa itu yang Anda bawa? Sepertinya sebuah kotak perhiasan. Dari siapa, Bu Moza?"
Moza tahu bagaimana sifat Kenny yang suka mencampuri urusan orang lain. Karena itu, Moza menyembunyikan barang yang dibawanya untuk menghindari tersebarnya gosip di kantor.
"Ini saya yang beli, Pak. Kebetulan diantar ke alamat kantor. Permisi, saya ke atas dulu."
Dengan gerakan cepat, Moza masuk ke dalam lift lalu menekan tombol angka tiga.
Begitu pintu lift terbuka, Moza langsung menuju ke ruangan finance.
Setelah berada di mejanya, ia membuka kotak kalung itu untuk mengamati apa isinya.
Manik mata Moza membesar saat melihat seuntai kalung emas berkilauan di dalam kotak itu. Dan yang paling menarik perhatiannya adalah liontin dengan bentuk huruf M yang bertabur kristal putih di atasnya.
"Apa ini berlian asli? Huruf M, itu inisial namaku. Tapi siapa yang mengirimkan kalung semahal ini untukku? Aku tidak memiliki kenalan orang kaya."
Moza masih terkagum-kagum mengamati kalung itu ketika tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya. Sesuatu yang membuat ia menjadi sangat gelisah.
"Huruf M, departemen finance. Selain aku yang namanya berawalan M... Apa jangan-jangan ini untuk...Maira."