Di sebuah kamar luas dengan dekorasi serba putih, seorang wanita paruh baya sedang berjalan mondar-mandir. Menilik dari wajahnya yang berkharisma disertai penampilan anggun berkelas, wanita itu sangat cocok memerankan karakter ibu suri dari sebuah kerajaan.
Kesan aura feminim yang dominan, pasti akan membuat orang-orang langsung menaruh rasa segan padanya. Wanita anggun itu adalah Ny. Ester Sasongko, istri pemilik Jaya Group.
"Tok, tok, tok," terdengar suara ketukan tiga kali di pintu.
"Siapa?" tanya Ny. Ester.
"Ini saya Nyonya, Titin."
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."
Seorang wanita berseragam abu-abu yang seumuran dengan Ny. Ester, masuk tergopoh-gopoh. Bulir keringat nampak menghiasi dahinya.
"Maaf, Nyonya, saya buru-buru naik ke lantai dua. Di bawah ada seorang kurir bernama Pak Heri yang mengantarkan kalung untuk Nyonya. Katanya kiriman dari Tuan Nolan."
Raut wajah Ny. Ester berubah senang.
"Jadi Nolan menepati janjinya untuk membelikan hadiah kejutan untukku."
"Iya, Nyonya. Tuan dan Nyonya sebentar lagi akan merayakan ulang tahun pernikahan. Tuan mungkin memberikan kalung sebagai tanda cintanya pada Nyonya," ucap Titin turut bahagia.
Bi Titin adalah kepala pelayan di kediaman keluarga Sasongko. Ia memang sangat loyal terhadap Ny. Ester. Pengabdiannya selama dua puluh lima tahun membuatnya memiliki empati yang besar terhadap majikannya itu. Bagaimana tidak. Ia mengetahui benar masa muda nyonya besarnya, yang pernah dikhianati oleh sang suami. Beruntung Ny. Ester memiliki hati seluas samudera hingga mau memaafkan suaminya.
Titin hanya berharap di hari tuanya, Tuan Nolan akan berubah setia terhadap isterinya.
"Aku akan turun sekarang, Tin," ucap Ny. Ester keluar dari kamarnya.
Diikuti Bi Titin dari belakang, Ny. Ester menuruni anak tangga satu demi satu. Begitu sampai di bawah, ia bergegas menuju ke ruang tamunya yang megah.
"Selamat siang, Nyonya," sapa pria bertubuh kurus.
"Siang, Pak, apa Anda kurir dari toko perhiasan?"
"Betul, Nyonya. Apakah Anda Ny. Ester Sasongko?"
"Iya, Pak."
"Ini, Nyonya. Kiriman perhiasan dari Tuan Nolan Sasongko," ujar kurir itu menyodorkan tas berisi kotak perhiasan.
"Terima kasih," jawab Ny. Ester tampak ceria.
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya."
Bi Titin mengantar kurir itu keluar dari pintu rumah, sedangkan Ny. Ester tidak sabar untuk membuka kotak hadiah dari suaminya.
"Sayang, aku memberikan kalung berlian berinisial huruf depan namamu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita. Semoga kamu suka."
Nolan
Senyuman merekah di wajah Ny. Ester. Ternyata suaminya justru lebih romantis padanya di saat usia mereka tidak muda lagi.
Perlahan-lahan, Ny. Ester membuka penutup kotak perhiasan dan melihat seuntai kalung emas cantik di dalamnya. Tangannya langsung meraih kalung berkilau itu.
Namun bola mata Ny. Ester langsung membesar ketika mengamati liontin bertabur berlian yang menghiasi kalung tersebut.
"Kenapa liontin ini berbentuk huruf M? Harusnya Nolan membelikan aku liontin huruf E sesuai nama depanku. Ini aneh sekali. Apa pihak toko keliru mengirimkan pesanan,"
gumam Ny. Ester curiga.
Ny. Ester kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Ia menekan nomor customer service toko Valentine yang tertera di paket itu.
"Selamat siang, Mbak, saya Ester Sasongko."
"Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa suara seorang gadis dari balik telepon.
"Mbak, tadi saya mendapat kiriman kalung dari Tuan Nolan Sasongko. Tolong cek pesanannya apakah benar liontin yang dikirimkan ke saya adalah liontin huruf M?"
"Baik, Nyonya, silakan menunggu sebentar. Saya akan memeriksa pesanan Tuan Nolan," ucap gadis itu.
Ny. Ester tetap memegang ponselnya sambil menunggu hasil pengecekan customer service itu.
"Halo Nyonya, terima kasih atas kesabarannya menunggu. Sebelumnya saya atas nama pihak toko ingin meminta maaf. Karena kami sudah keliru mengirimkan liontinnya, Nyonya."
"Maksudnya keliru bagaimana, Mbak?" tanya Ny. Ester penasaran.
"Tuan Nolan memesan dua liontin. Yang satu huruf M dan satu lagi huruf E. Tapi ternyata kami salah mengirimkan huruf M juga untuk Nyonya. Kami akan segera menukar liontin Anda dengan yang baru. Kurir kami akan datang ke rumah Nyonya. Sekali lagi kami mohon maaf," jelas customer service itu.
Penjelasan dari customer itu bagaikan suara guntur yang menghentak pendengaran Ny. Ester. Jika suaminya sungguh memesan dua liontin, artinya salah satunya pasti diberikan kepada orang lain. Dan tentu saja penerimanya adalah seorang wanita.
Pikiran buruk memenuhi benak Ny. Ester. Memori masa lalu tentang suaminya yang pernah memiliki kekasih gelap, membuat Ny. Ester dirundung kepedihan.
"Mungkinkah Nolan kembali pada kebiasaan lamanya? Apakah dia berselingkuh di belakangku? Aku harus menyelidikinya,"
pikir Ny. Ester di dalam hati.
"Nyonya Ester, apa Anda masih mendengar saya?"
Customer service itu mengulang pertanyaannya karena tidak kunjung menerima jawaban.
"Iya Mbak. Tidak masalah. Saya akan menunggu kurir datang untuk menukar liontin saya. Tapi saya minta jangan memberitahu suami saya soal kekeliruan ini."
"Baik, Nyonya, akan kami lakukan sesuai permintaan Anda. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Mbak, boleh saya tahu siapa nama penerima liontin huruf M dan dimana alamatnya. Saya ingin memastikan dia tidak mengalami hal yang sama seperti saya," ucap Ny. Ester mencari alasan.
"Disini hanya tertulis inisial gadis dengan huruf M dari departemen finance. Tidak ada nama lengkap penerimanya, Nyonya. Untuk alamatnya Jaya Group, Jalan Boulevard nomor 27."
"A...apa Mbak yakin? Alamat penerimanya Jaya Group."
"Iya, Nyonya. Kurir kami bahkan sudah mengantarkan liontin itu."
"Baik, Mbak, terima kasih," ucap Ny. Ester menutup ponselnya.
Cairan bening mulai menggenangi pelupuk mata Ny. Ester. Sekarang ia baru menyadari mengapa suaminya sering pulang terlambat akhir-akhir ini.
Tiap kali ditanya, Tuan Nolan selalu menggunakan alasan meeting atau bertemu kolega bisnis yang mengharuskannya pulang lebih malam. Namun Ny. Ester merasa ada yang ganjil. Sebagai seorang CEO yang akan pensiun, tidak seharusnya sang suami bekerja sekeras itu.
Suara dering ponsel membuat Ny. Ester berusaha menahan air matanya. Sambil menghembuskan nafasnya yang terasa sesak, Ny. Ester menerima panggilan itu.
"Halo, Mama. Apa Mama ada di rumah?"
Mendengar suara bariton dari pria muda itu, hati Ny. Ester sedikit terhibur.
"Iya, Sayang. Mama sedang ada di kamar. Ada apa kamu menelpon Mama tiba-tiba?" tanya Ny. Ester terkejut.
"Aku ingin memberikan kejutan untuk Mama. Aku mempercepat kepulanganku. Sekarang aku sudah tiba di bandara."
"Kamu sudah sampai di Jakarta, Sayang?" tanya Ny. Ester seolah tidak percaya.
"Iya, Ma. Aku ingin membantu menyiapkan pesta ulang tahun pernikahan Mama dan Papa."
"Seharusnya kamu memberitahu Mama kalau akan pulang hari ini."
"Kalau aku memberitahu dulu, maka bukan kejutan namanya. Tunggu, kenapa suara Mama serak? Apa Mama habis menangis?"
"Tidak, tenggorokan Mama hanya…agak perih," jawab Ny. Ester menutupi kesedihannya.
"Ma, tidak perlu berbohong padaku. Aku tahu hanya ada tiga orang yang bisa membuat Mama menangis. Pertama Papa, Kedua Kak Alex, dan ketiga aku. Dan di antara ketiga pilihan ini, hanya Papa yang paling mungkin menyebabkan Mama menangis."
Tebakan dari putra bungsunya itu membuat Ny. Ester tercengang.
"Nanti Mama akan menceritakan yang sebenarnya padamu setelah kamu sampai di rumah."
"Baiklah, Ma. Sampai jumpa di rumah."
****************
Seorang pria turun dari taksi dan melangkah masuk ke kediaman keluarga Sasongko. Ia membawa koper besar dengan tangan kanannya. Begitu melihat pria itu, para pelayan langsung menundukkan kepala penuh hormat.
Pria itu melepas kacamata hitamnya yang sontak membuat para pelayan wanita terpesona. Bagaimana tidak. Bola mata berwarna kecokelatan dilengkapi dengan alis tebal dan rangkaian bulu mata yang panjang, membuat tatapan pria itu mampu meluluhkan hati para wanita. Rahangnya tegas, ditunjang dengan tubuh yang tegap dan berotot. Sungguh suatu perpaduan fisik yang sempurna bagi seorang pria.
"Selamat datang, Tuan Muda. Biar saya bawakan kopernya," sapa Bi Titin penuh hormat.
"Terima kasih, Bi. Dimana Mama?"
"Nyonya sudah menunggu Anda di dalam, Tuan."
Pria tampan itu segera masuk ke dalam rumah dengan langkah lebarnya.
"Arlo, akhirnya kamu kembali juga," ucap Ny. Ester memeluk putra kesayangannya.
Sesudah berpisah dalam waktu lama, ibu dan anak itu saling merindukan.
Arlo berhenti sejenak untuk memperhatikan mamanya.
"Mama terlihat lebih kurus. Mata Mama juga sembab. Apa ini karena Papa? Papa mengulangi perbuatan buruknya lagi di belakang Mama?"
"Arlo, kita tidak perlu membicarakan hal ini. Kamu baru saja pulang. Lebih baik kamu istirahat, Sayang."
"Tidak, aku harus memastikan Mama baik-baik saja. Ayo kita ke kamar. Mama harus menceritakan apa yang terjadi sebenarnya padaku."
Ny. Ester menggandeng tangan Arlo menuju ke kamarnya.
Ia mengambil kalung dengan liontin huruf M dari dalam laci, lalu menunjukkannya kepada Arlo.
"Mama baru saja menerima liontin ini sebagai hadiah dari Papa. Tapi pihak toko mengatakan mereka keliru mengirim. Mama seharusnya mendapatkan liontin huruf E sesuai nama Mama, bukan huruf M."
"Lalu apa hubungannya dengan Papa?" tanya Arlo penasaran.
"Kesalahan ini terjadi karena papamu memesan dua liontin sekaligus. Dan kamu tahu kepada siapa dia mengirimkan liontin huruf M ini?"
Arlo menggelengkan kepalanya.
"Penerimanya adalah seorang wanita dari departemen finance di perusahaan kita. Nama depannya berawalan huruf M. Mama yakin wanita itu adalah...selingkuhan baru papamu," ucap Ny. Ester terbata-bata.
"Apa Mama yakin?"
"Iya, Arlo. Akhir-akhir ini papamu sering pulang malam. Bahkan dia pernah pergi ke luar kota dengan alasan menemui investor di akhir pekan."
Rahang Arlo menegang mendengar perkataan mamanya. Sambil menggertakkan gigi, ia menimang-nimang kalung itu di telapak tangannya.
"Departemen finance. Besok aku akan menjadi pimpinan disana. Mama tenang saja, aku akan menyelidiki siapa wanita tidak tahu diri itu. Jika terbukti dia mengganggu rumah tangga Mama, aku tidak akan segan memberi pelajaran padanya. Dan pelajaran itu akan membuatnya jera seumur hidup," tukas Arlo dengan mata berapi-api.