Bab 4 Penyelidikan Moza

1406 Kata
Moza hanya menyantap makan siangnya sebentar. Waktu istirahatnya sudah tersita habis akibat insiden kalung misterius itu. Saat masuk di dalam ruangan finance, ia melihat para staf sudah kembali ke meja masing-masing. Seperti biasa, hanya Maira yang belum menampakkan diri. Tiga menit sebelum jam satu siang, Maira baru muncul dengan wajah sumringah. Ia duduk menghadap ke layar monitor komputernya sambil tersenyum-senyum sendiri. Melihat ekspresi Maira, Moza terdorong untuk menanyai adiknya itu. Ia harus memastikan apakah Maira benar-benar gadis yang dimaksud oleh si pengirim kalung. Namun Moza menahan dirinya sampai jam kantor usai. Sebagai pekerja profesional, ia mesti mengesampingkan urusan pribadi daripada pekerjaan. Daripada terus memikirkan Maira, Moza memilih berjalan kesana kemari untuk memeriksa pekerjaan anak buahnya. Tugasnya hari ini memang bertambah banyak karena harus membuat persiapan sebaik mungkin sebelum kedatangan sang direktur keuangan. Hingga tanpa terasa jam hampir menunjukkan pukul lima sore. Moza melihat Sisil menghampirinya dengan tergesa-gesa. "Mbak, ini kotak petty cash dan laporan pengeluaran kas hari ini. Silakan Mbak periksa dulu." "Iya, Sil. Duduklah, aku akan memeriksa secepat mungkin supaya kamu bisa pulang. Rehan pasti sudah menunggu." "Terima kasih, Mbak," ucap Sisil tersenyum. Karena sudah terlatih, Moza mampu memeriksa laporan sekaligus jumlah uang dengan cepat. "Sudah sesuai, Sil. Kamu boleh pulang." "Terima kasih, Mbak. Saya duluan," pamit Sisil meninggalkan meja Moza. Moza membawa kotak petty cash ke ruang brankas. Ia memang mengemban tanggungjawab untuk memegang brankas petty cash. Meskipun tugas ini cukup berat, Moza tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Ia justru merasa bangga karena diserahi kepercayaan yang besar. Setelah memastikan ruang brankas terkunci dengan sempurna, Moza berjalan ke area kerja para staf. "Kak, aku mau pulang," ucap Maira menghampiri Moza. "Mai, kamu pulang bersama Kakak saja. Tiga puluh menit lagi pekerjaan Kakak selesai." Dengan malas, Maira memutar bola matanya. "Aku sudah mengatakan berkali-kali, aku nggak mau naik motor. Wajahku bisa jerawatan terkena debu dan rambutku akan berantakan. Sudahlah, Kak, jangan menahanku. Taksi yang kupesan sudah menunggu di bawah," ucap Maira berlalu pergi. Sebenarnya Moza ingin mengejar Maira, tapi ia tidak ingin memancing keributan pada jam pulang kantor. "Nanti aku akan bicara dengan Maira di rumah," pikir Moza membereskan berkas-berkasnya. Karena Maira sudah pulang lebih dulu, Moza memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia merapikan file di dalam lemari kabinet agar besok lebih mudah menemukannya saat dibutuhkan. "Moza, saya pulang duluan. Saya ada janji dengan dokter gigi hari ini," ucap Pak Roby menenteng tas kerjanya. "Iya, Pak." Bersamaan dengan Pak Roby, para staf yang lain pun bergegas pulang. Kini tinggal Moza dan Herel yang ada di ruangan itu. Terkadang Moza merasa Herel sengaja bekerja lembur sekedar untuk menemaninya. Diam-diam, ia bertanya-tanya mengapa Herel yang berwajah tampan belum terlihat menggandeng seorang kekasih. "Mbak, di luar sepertinya mendung. Apa Mbak belum selesai?" "Sudah, Rel. Kamu duluan saja, aku akan mengunci pintu." Herel tampak enggan meninggalkan Moza, tapi akhirnya ia beranjak pergi. Moza mematikan pendingin ruangan lalu mengunci pintu ruangan finance. Ia terkejut saat melihat Herel berdiam diri di depan lift. "Rel, kamu belum turun?" "Liftnya dari tadi penuh, Mbak." "Hah, aneh. Biasanya jam setengah tujuh sudah sepi. Hanya sedikit karyawan yang memakai lift," ucap Moza mengernyitkan dahi. Tak lama, pintu lift terbuka. Moza dan Herel masuk beriringan. Moza memencet tombol ke lantai basement bersamaan dengan Herel, hingga tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan. "Maaf, Mbak," ucap Herel menarik tangannya. "Nggak apa-apa, Rel," jawab Moza canggung. Rasa canggung seperti ini acapkali dialami Moza saat ia berdua saja dengan Herel. Pernah beberapa kali, Moza menangkap ada yang berbeda dari sinar mata Herel terhadapnya. Tapi Moza segera menepis prasangkanya. Mana mungkin Herel yang usianya lebih muda memiliki perasaan khusus padanya. Lagipula tidaklah pantas bagi seorang atasan menjalin hubungan spesial dengan stafnya sendiri. Cinta hanya akan mengganggu kehidupan profesionalnya. Moza menyandarkan tubuhnya di dinding lift, sedangkan Herel berdiri tak jauh darinya. Mereka tidak saling bicara hingga pintu lift terbuka. Moza berjalan mendahului Herel menuju ke parkiran motor. Ia memasang helm lalu mencoba menyalakan motor maticnya. Satu, dua, hingga tiga kali, tapi motor itu tidak mau berjalan. Dengan wajah panik, Moza mengecek kondisi motornya. "Mbak, ada apa?" tanya Herel mendekati Moza. "Motorku mati, Rel. Entah apa penyebabnya." "Biar saya cek, Mbak." Herel menunduk dan memeriksa mesin motor Moza dengan seksama. "Mbak, sepertinya motor Mbak harus dibawa ke bengkel." "Lalu bagaimana, Rel? Ini sudah malam." "Begini saja, saya antarkan Mbak Moza pulang. Motor ini titipkan saja dulu ke security. Besok pagi-pagi saya akan membawa motor Mbak ke bengkel." "Rel, aku nggak mau merepotkanmu," ucap Moza merasa tidak enak hati. "Saya nggak merasa direpotkan, Mbak. Tunggu saja disini, saya akan bicara pada security." Herel berjalan menuju pos security, meninggalkan Moza yang masih terpaku di tempatnya. Keberadaan Herel membuat Moza merasa lega. Pasalnya pemuda itu selalu siap menolongnya. Dari kejauhan, Moza melihat Herel berbicara pada dua orang security yang bertugas. Tak lama kemudian pemuda itu kembali kepadanya. "Beres, Mbak. Saya antar Mbak pulang sekarang." "Terima kasih, Rel." Moza mengikuti Herel menuju ke motornya. Ia menunggu Herel memakai jaket dan helm, lalu menyalakan mesin motor. "Mbak, ayo naik," seru Herel dari balik helmnya. "I...iya." Moza naik ke atas motor ninja milik Herel dengan berpegangan pada pundak pemuda itu. Baru kali ini ia menyentuh bagian tubuh lelaki. Herel segera menjalankan motornya untuk keluar dari tempat parkir. Sebelum ke jalan raya, Herel menghentikan motornya sejenak dan menoleh kepada Moza. "Mbak, pegangan yang kuat. Saya akan sedikit ngebut karena sebentar lagi hujan." Moza mengangguk. Dengan ragu-ragu, ia mengulurkan kedua tangannya dan memegang pinggang Herel. Pemuda itu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Angin kencang yang berhembus, membuat Moza terpaksa memeluk Herel agar ia tidak terhuyung ke samping. Saat memeluk Herel, ia baru menyadari bahwa pemuda itu memiliki perawakan yang cukup atletis. Terus terang ini adalah kali pertamanya memeluk seorang pria, sehingga membuat jantungnya berdegup kencang. "Semoga Herel tidak merasakan detak jantungku. Ini akan sangat memalukan," pikir Moza gugup. "Rumah Mbak di perumahan Astonia ini, kan?" tanya Herel menoleh kepada Moza. "Iya." "Nomor berapa, Mbak?" "Blok F3 No 42." Herel memperlambat laju motornya menuju ke pos security perumahan. Setelah security mempersilakannya masuk, Moza memberi petunjuk kepada Herel untuk berbelok ke arah kanan. "Itu rumahku, Rel," tunjuk Moza. Herel menghentikan motornya dan menurunkan Moza di halaman rumah. "Terimakasih, Rel," ucap Moza membuka helmnya. "Besok pagi saya akan menjemput Mbak jam tujuh pagi." "Aku naik taksi saja daripada merepotkanmu. Kamu juga harus membawa motorku ke bengkel." "Saya tetap akan menjemput Mbak besok. Justru saya senang bisa membantu." "Sekali lagi terimakasih, aku masuk ke dalam dulu ya. Sampai jumpa besok," ucap Moza melambaikan tangan. *** "Jadi Kakak diantar oleh Herel? Apa Kakak resmi berpacaran dengannya?" tanya Maira menyambut Moza di depan pintu. Senyum meremehkan terbentuk di bibir Maira. "Kakak nggak berpacaran dengan Herel. Ayo kita ke kamar, Kakak ingin bicara denganmu." "Kebetulan aku juga mau menanyakan sesuatu pada Kakak," balas Maira. Moza mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Belum sempat Moza menunjukkan kotak itu, Maira sudah lebih dulu merebutnya. Dengan mata berbinar, Maira membuka kotak itu dan terpukau melihat isinya. "Ini dia kalung yang aku mau. Akhirnya dia memberikannya juga," ujarnya memegang kalung itu dengan antusias. Moza membelalakkan matanya. "Jadi kalung ini dihadiahkan untukmu, Mai?" "Iya, Kak. Justru dari pagi tadi aku menunggu-nunggu kalung ini datang. Aku kira kurirnya salah kirim, ternyata malah Kakak yang menerimanya." Sambil mengulum senyum, Maira bergerak menghadap cermin. Ia memasangkan kalung itu di lehernya sambil mematut diri. "Kalung ini sangat pas. Aku kelihatan cantik," gumam Maira puas dengan penampilannya. Melihat reaksi Maira, Moza segera menarik tangan adiknya. "Jujurlah pada Kakak, siapa yang mengirimkan kalung berlian ini?" "Yah tentu saja calon pacarku," jawab Maira enteng. "Pacar? Kenapa kamu nggak mengenalkan pacarmu kepada Kakak?" "Kami baru dalam tahap pendekatan. Lagipula Kak Moza bukan orangtuaku. Nggak semua urusan pribadiku harus aku ceritakan pada Kakak." "Mai, setelah orangtua kita tiada, aku yang bertanggungjawab atasmu. Kakak perlu tahu siapa pria yang dekat denganmu. Apakah dia pria baik-baik atau bukan. Menurut Kakak sikap pacarmu terlalu berlebihan. Baru mulai pacaran dia sudah memberikan kalung semahal ini." "Berlebihan bagaimana? Calon pacarku itu tajir melintir. Uangnya nggak akan habis meskipun dia membeli setumpuk berlian. Kekayaannya bisa diwariskan tujuh turunan." "Siapa namanya, Mai? Ajak dia ke rumah supaya Kakak bisa bertemu dengannya," pinta Moza. "Stop mengurusi aku, Kak. Aku ini sudah dewasa. Yang pasti jika aku bersamanya, aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan. Beda dengan Kakak yang hanya bisa memberiku barang-barang murahan." "Sudahlah, aku capek mau tidur dulu," ucap Maira meninggalkan kamar Moza. Moza menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan kelakuan Maira. Bagaimanapun ia bertekad untuk menyelidiki siapa pria yang kini menjadi pacar adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN