Bab 5 Kesan Pertama Yang Menyebalkan

1306 Kata
Usai berganti baju, Moza bergerak tanpa suara ke kamar Maira. Ia menempelkan telinganya di daun pintu. Berharap bisa mendengar sesuatu dari dalam yang bisa dipakai sebagai petunjuk. Kali ini Moza cukup beruntung, ia bisa mendengar suara manja adiknya yang sedang berbicara dengan seseorang. "Om, aku sudah terima kalungnya. Ternyata kurirnya salah memberikan kalung ini kepada orang lain. Om sih harus pakai teka-teki inisial huruf M," rengek Maira. "Om? Apa aku tidak salah dengar? Kalau Maira memanggilnya Om artinya...usia pria itu sudah tua? Jangan-jangan Maira dijadikan kekasih gelapnya," pikir Moza menebak-nebak. Moza kembali mendengar Maira bermanja-manja pada pria yang dipanggil Om itu. "Bagus sih, Om, kalungnya. Tapi berliannya kurang banyak, cuma di bagian liontin. Aku mau semuanya full diamond." Maira terdiam sejenak, nampaknya ia sedang mendengarkan jawaban dari pria di seberang telpon. "Oke, Om. Aku tunggu kadonya. Jangan lama-lama ya. Good night, Om," ucap Maira mengakhiri telponnya. Moza buru-buru menyingkir dari pintu, khawatir jika Maira menyadari keberadaannya. Sambil berjingkat, Moza kembali ke kamarnya. Otot-otot lehernya terasa tegang karena mencemaskan perbuatan adiknya. Moza merebahkan diri di tempat tidur sambil berpikir keras. "Aku tidak bisa membiarkan Maira melakukan sesuatu yang memalukan. Jika yang dia panggil Om itu adalah pria beristri, aku harus menghentikan hubungan mereka sebelum terlambat," batin Moza sembari memejamkan mata. **** "Tok, tok," suara ketukan keras di pintu membuat Moza berdiri. Ia memang sudah menanti di ruang tamu sejak dua puluh menit yang lalu. "Maaf, Mbak, saya baru datang. Tadi jalan di dekat bengkel macet," kata Herel menenteng helmnya. "Tidak apa-apa, Rel. Justru aku minta maaf karena merepotkanmu." "Tunggu sebentar aku akan coba membangunkan Maira sekali lagi," kata Moza bergegas ke dalam rumah. "Mai, apa kamu sudah bangun? Jangan sampai terlambat. Ini hari yang sangat penting. Direktur keuangan akan datang," ketuk Moza beberapa kali. "Aku sudah bangun dari tadi. Kakak ini cerewet sekali," seru Maira dari balik pintu. "Kakak berangkat dulu, Mai. Herel sudah menunggu Kakak di depan," pamit Moza. "Iya, selamat bersenang-senang dengan pacar Kakak yang miskin itu," ejek Maira setengah berteriak. Moza tidak menanggapi perkataan ketus Maira. Ia tidak ingin merusak moodnya sendiri di pagi hari. Moza memakai helmnya dan menemui Herel di ruang tamu. "Ayo kita berangkat sekarang, Rel," ajak Moza. Moza berusaha naik ke atas motor tanpa berpegangan pada Herel. Ia melirik jam tangannya. Moza teringat bahwa hari ini dia harus datang lebih awal untuk menyambut sang direktur. "Rel, bisa kamu agak ngebut? Aku harus mempersiapkan diri sebelum direktur baru datang." "Baik, Mbak Moza." Herel menghidupkan mesin motornya lalu melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Lagi-lagi Moza terpaksa harus memeluk Herel agar tidak terpelanting dari motor. Bagaimanapun yang terpenting bagi Moza adalah tiba di kantor secepat mungkin. **** Arlo menatap pantulan dirinya di depan cermin. Semua nampak pas. Setelan jasnya, rambutnya yang ditata dengan gel khusus, dan wajahnya yang tampan tak bercela. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Ditambah lagi dengan jabatan dan kekuasaan besar yang kini ada di tangannya. Mulai hari ini dia akan berada di puncak kehidupan. Dihormati dan disegani oleh semua orang. Tidak ada lagi Arlo yang dulu diejek dan direndahkan, terutama oleh kaum hawa. Ya, bagian dirinya yang menyedihkan itu telah lenyap untuk selamanya. Berganti dengan sosok baru yang percaya diri dan penuh daya tarik. Kini ia yakin sepenuhnya, para gadis yang dulu menghinanya itu akan berbalik mengaguminya. Bahkan mungkin mereka berlomba untuk mengejar cintanya. Tapi siapa yang peduli dengan hal itu, toh ia tidak tertarik untuk berhubungan dengan wanita. Arlo keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Disana sang mama sedang menyiapkan sarapan bersama para pelayan. Namun papanya belum terlihat di ruangan itu. "Sayang, kamu mau ke kantor sepagi ini?" tanya Ny. Ester keheranan. "Iya, Ma. Ini hari perkenalanku sebagai direktur keuangan yang baru. Aku ingin datang bersamaan dengan para staf. Aku harus memeriksa sendiri bagaimana kedisplinan mereka. Apakah mereka datang tepat waktu atau sering terlambat masuk kantor," jawab Arlo meminum segelas air lemon. Ia hanya memakan roti gandum dan lemon di pagi hari. Arlo memang sangat menjaga bentuk tubuhnya. Tubuh atletis adalah asetnya yang paling berharga sebagai pembentuk kepercayaan diri. Karena itu, Arlo tidak pernah sembarangan mengkonsumsi makanan dan minuman. "Dimana Papa?" tanya Arlo mencari tahu. "Papamu masih tidur. Katanya kurang enak badan karena lembur semalam." "Apa Mama yakin Papa tidak enak badan karena pekerjaan?" tanya Arlo meragukan alasan papanya. Ny. Ester mengangkat bahu. Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan pernyataan suaminya yang mantan cassanova itu. Bukan mantan, ia bahkan masih menjadi seorang cassanova meski sebagian besar rambutnya telah memutih. "Arlo, kamu mencari Papa?" Terdengar langkah kaki Tuan Nolan mendekat. Ny. Ester menoleh dan melihat suaminya datang bergabung di meja makan. Arlo memandang Tuan Nolan dengan tatapan sinis. Tak bisa dipungkiri bahwa papanya masih nampak gagah di usia senja. Mungkin karena kharisma alami tersebut, banyak wanita yang masih bertekuk lutut kepadanya. "Papa agak pusing, tapi Papa tetap bangun pagi karena ingin bertemu denganmu. Papa senang melihatmu bersemangat dalam bekerja. Lakukan yang terbaik, Arlo. Papa masih belum memutuskan siapa yang akan menggantikan Papa. Bisa Alex, bisa juga kamu," ucap Tuan Nolan menepuk pundak putranya. "Aku tidak tertarik menjadi CEO, Pa. Aku lebih senang bekerja di bidang yang sesuai dengan pendidikanku." "Papa membutuhkan direktur utama yang berkarakter kuat, tangguh, dan punya skill dalam memimpin ratusan karyawan. Latar belakang pendidikan adalah urutan nomor dua." "Pa, Ma, aku berangkat dulu," ucap Arlo menghabiskan sarapannya lebih cepat. Malas untuk mendengarkan basa basi papanya mengenai siapa yang berhak menggantikan kedudukannya kelak. "Kamu yakin akan ke kantor sekarang, Arlo?" "Iya, Pa. Sampai jumpa di kantor nanti." Arlo berlalu dari hadapan kedua orangtuanya. Sesungguhnya ia memiliki dua tujuan penting di hari pertamanya bekerja. Pertama untuk mengawasi karyawan dan kedua untuk menjalankan misi rahasia. Ia harus menemukan siapa staf wanita yang berani menjadi kekasih gelap ayahnya. "Wanita bernama depan M. M artinya...murahan, materialistis, dan misterius. Cocok sekali dengan karakternya," gumam Arlo sambil menyalakan mesin mobilnya. **** Kedatangan mobil lexus berwarna merah di Jaya Group, sukses menarik perhatian semua karyawan. Pak Amir, security yang bertugas shift pagi, buru-buru merundukkan kepala sebagai tanda hormat. Terlebih ketika mobil tersebut berhenti di depan posnya. Pasalnya, Pak Amir sudah diberitahu oleh Manajer HRD bahwa hari ini tuan muda kedua dari keluarga Sasongko akan datang ke kantor. "Selamat pagi, Tuan," sapa Pak Amir. Jendela mobil pun terbuka dari dalam. Tampaklah seorang pria tampan dengan setelan jas elegan duduk di balik kemudi. "Pagi, Pak. Saya Arlo Sasongko. Di lantai berapa ruang divisi finance?" "Di lantai tiga, Tuan Arlo." Arlo mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman kantor. "Kenapa masih sepi? Apa karyawan sudah berdatangan?" "Sebagian sudah, Pak. Tapi biasanya baru ramai menjelang jam delapan," jawab Pak Amir jujur. "Mereka harus diajari supaya lebih disiplin dengan waktu. Baru datang menjelang jam delapan adalah kebiasaan yang buruk," tandas Arlo. Belum selesai Arlo berbicara, terdengar deru motor yang memasuki gerbang kantor. Motor yang menimbulkan bunyi berisik itu semakin mendekat ke arahnya. Mata tajam Arlo tak lepas mengamati siapa sang pengendara motor. Seorang pria muda dan seorang wanita yang membonceng di belakang. Tangan wanita itu sedang memegang erat pinggang prianya. "Siapa wanita itu? Pagi-pagi sudah memeluk pria di hadapan umum. Apa dia pikir kantor ini tempat berpacaran?" gumam Arlo meradang. Arlo terus memperhatikan sepasang pria dan wanita itu hingga mereka membuka kaca penutup helmnya. Sang pria menganggukkan kepala, sementara si wanita tersenyum ramah pada Pak Amir. Wajah wanita itu lumayan cantik dengan setelan baju kerja berwarna biru cerah. "Pagi, Pak Amir." "Pagi Bu Moza. Hari ini berangkat dengan Mas Herel?" "Iya, Pak, motor saya masih di bengkel. Mari Pak." "Silakan, Bu Moza." Setelah motor itu berlalu, Arlo segera mencari tahu siapa kedua karyawan yang baru saja melintas di hadapannya. "Siapa kedua orang tadi, Pak, dan dari divisi mana?" tanya Arlo penuh selidik. "Yang wanita itu Ibu Moza, supervisor finance. Kalau yang pria adalah stafnya, namanya Mas Herel." "Divisi finance, jadi mereka anak buahku. Aku harus memperingatkan mereka nanti." "Tunggu dulu, Moza... supervisor finance? Apa mungkin dia itu...selingkuhan papaku," pikir Arlo geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN