Bab 6 Pertemuan Tak Terduga

1389 Kata
"Rel, aku ke lobi duluan ya." "Iya, Mbak," kata Herel melipat jaketnya. Moza berjalan menaiki tangga menuju lobi utama Jaya Group. Kondisi kantor yang belum terlalu ramai memudahkan Moza untuk mempercepat derap langkahnya. Tujuan pertamanya adalah memasuki lift sebelum karyawan lain datang. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Moza menundukkan kepala untuk merapikan blazernya. Namun ia merasakan aura seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Spontan, Moza mengira bahwa orang itu adalah Herel. "Rel," panggil Moza menoleh ke belakang. "Siapa yang kamu panggil, Nona?" jawab sebuah suara berat dan dalam. Antara malu dan terkejut, Moza membelalakkan matanya. Ternyata yang ada di belakangnya bukanlah Herel melainkan seorang pria dewasa. Moza belum pernah melihat pria ini sebelumnya. Dari jas beserta jam tangan mahal yang dikenakannya, sudah jelas pria ini bukan karyawan biasa. Mungkin saja ia adalah salah satu manajer atau tamu penting perusahaan. Ditilik dari usianya, pria itu berumur sekitar tiga puluhan awal, tidak jauh beda dengan dirinya. Wajahnya tampan bahkan sangat tampan. Membuat Moza teringat pada novel yang dulu sering dibacanya semasa kuliah. Bisa dikatakan pria ini merupakan perwujudan tokoh novel di dunia nyata. Bagaimana tidak. Semua tanda kesempurnaan ada pada dirinya. Ditambah kesan dominan yang terpancar dari sinar matanya, cukup membuat Moza tersihir untuk sesaat. Anehnya ia merasa familiar dengan bola mata abu-abu gelap yang dimiliki oleh pria itu. "Bukankah dia ini orang yang memperhatikan aku dan Herel di parkiran tadi?" gumam Moza menerka-nerka. Moza masih teringat bagaimana pria itu memandangnya dengan sengit dari jendela mobil. Sorot matanya seolah menghakimi dirinya. Entah apa sebabnya hingga pria itu tidak suka kepadanya padahal mereka belum saling mengenal. "Maaf, Tuan, saya kira Anda staf saya," jawab Moza meminta maaf. "Mungkin Nona terlalu memikirkan staf Nona itu sampai semua orang kelihatan mirip dia. Itulah efek jika berpacaran dengan rekan sekantor. Pikiran penuh halusinasi," balas pria itu dingin. Komentar sinis dari pria itu membuat Moza jengkel. Bisa-bisanya dia menuduh sembarangan tanpa bukti yang jelas. Apalagi pria itu mengatakan dirinya telah berpacaran dengan rekan sekantor. Sungguh tidak masuk akal. "Aku tahu alasan kenapa pria ini mengawasiku tadi. Ternyata dia mengira aku dan Herel berpacaran di kantor," gerutu Moza di dalam hati. Tanpa sadar Moza mengerucutkan bibirnya, namun ia memilih diam seribu bahasa. Tidak ada gunanya juga menanggapi pria itu, apalagi sampai terlibat adu mulut dengannya. Toh, mereka tidak ada urusan satu sama lain. Untuk apa menghabiskan waktunya yang berharga hanya demi membela diri di hadapan orang asing. "Ting." Suara dentingan yang khas itu menandakan pintu lift akan segera terbuka. Daripada berlama-lama dengan pria menyebalkan, Moza memilih masuk ke dalam lift. Meski pria ini wajahnya setampan pangeran, Moza tidak sudi berdekatan dengannya. Semoga saja ini adalah pertemuan mereka yang pertama dan yang terakhir kalinya. Moza melangkah secepat kilat sebelum pria itu mengikutinya. Ia langsung menekan tombol angka tiga lalu berusaha menutup pintu lift. Di luar dugaan, pria itu menahan pintu dan menerobos masuk ke dalam lift. Moza bergeser dan merapat pada dinding, berusaha menjaga jarak di antara mereka sejauh mungkin. Sebaliknya pria itu malah sengaja makin mendekat padanya. "Kenapa tergesa-gesa menutup liftnya, Nona? Apa Nona tidak lihat saya juga ingin masuk? Lift ini adalah kepunyaan kantor, bukan milik pribadi. Kecuali jika Nona membangun sebuah lift khusus di kantor ini," sindir pria itu sembari berdiri di samping Moza. Lagi-lagi ucapannya membuat merah telinga Moza. Lidahnya benar-benar tajam. Andai ia tidak terburu-buru menyambut direktur keuangan, sudah pasti ia siap meladeni perkataan pedas dari lelaki arogan ini. Siapapun di kantor Jaya Group sudah mengakui kemampuan debatnya yang berada di atas rata-rata. "Saya tidak tahu kalau Anda ingin masuk ke dalam lift. Seperti kata Anda tadi, saya sedang banyak pikiran. Makanya keberadaan Anda tidak terlihat sama sekali oleh saya. Maafkan kelalaian saya, Tuan," jawab Moza santai. "Jadi bukan hanya pikiran Nona yang terganggu, tapi penglihatan Nona juga. Hati-hati, mungkin nanti Nona akan salah masuk ruangan atau salah mengeja nama sendiri," jawab pria itu merespon dengan sindiran. Ia berbicara sambil melemparkan pandangan lurus ke depan. Membuat Moza menggertakkan gigi karena menahan rasa kesal. Untung saja lift bergerak cepat menuju lantai tiga. Bila tidak, tekanan darahnya bisa naik drastis akibat berada satu lift dengan pria ini. Sebelum keluar dari lift, Moza ingin sekali memberikan sedikit pelajaran pada pria ini. "Permisi, saya duluan, Tuan," ucap Moza pura-pura bersikap sopan. Dengan gerakan tak terduga, Moza menyenggol lengan kokoh pria itu. Sepersekian detik kemudian, ia menginjak ujung sepatu pria itu dengan heelsnya. Dan Moza melakukan tindakan balas dendamnya dengan sepenuh hati. Tanpa menunggu reaksi dari musuhnya, Moza bergegas keluar dari lift. Dentuman sepatunya sampai terdengar di lantai koridor karena ia begitu terburu-buru. "Huuffftt, senangnya!" batin Moza terkekeh dalam hati. Moza mengeluarkan kunci dari dalam tasnya lalu membuka pintu ruang finance. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa Herel belum juga menyusulnya. Tidak mungkin Herel berada di parkiran selama berjam-jam. "Pagi, Mbak Moza," sapa Dendi menyelonong masuk ke ruangan. Ia bersiul sambil bersenandung gembira. Meski pembawaannya konyol, namun Moza menyukai semangat kerja dan optimisme dalam diri Dendi. "Pagi, Dendi," ucap Moza seraya menyalakan pendingin ruangan. Mengingat Dendi adalah teman baik Herel, Moza mencoba bertanya padanya. "Den, apa kamu melihat Herel di bawah?" "Nggak tuh, Mbak. Yang saya lihat malah si kembar Upin Ipin. Tuh, mereka sudah datang," tunjuk Dendi nyengir. Jolin dan Erika langsung melotot sambil mencebikkan bibirnya kepada Dendi. Kedua gadis itu memang selalu kompak jalan bersama. Berangkat dan pulang kerja pun bersama. Tak heran bila mereka mendapat julukan Upin dan Ipin. "Selamat pagi, Mbak Moza," sapa kedua gadis itu. "Pagi. Tolong bersihkan meja dan rapikan file kalian sebelum direktur datang," ucap Moza memberikan instruksi. "Siap, Mbak," jawab Dendi memberi tanda hormat. "Apa sebaiknya aku menelpon Herel? Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya," gumam Moza. Moza hendak mengambil ponselnya, ketika melihat Herel masuk dengan wajah pucat. Di belakang Herel, muncul Pak Roby. Manajernya itu mengenakan kemeja baru berwarna merah bata, lengkap dengan dasi yang senada. Penampilannya begitu rapi hari ini. Biasanya Pak Roby hanya mengenakan kemeja berwarna suram, itupun tanpa dasi. Bisa dipastikan perubahan Pak Roby kali ini dipicu oleh keinginannya menjaga image di depan sang direktur. "Mbak, maaf saya izin pulang. Adik saya tadi memberi kabar kalau papa saya tiba-tiba pingsan di kamar mandi. Sekarang Papa saya sedang dilarikan ke rumah sakit." Dari ekspresi dan suara Herel yang bergetar, sudah jelas pemuda itu tengah dilanda kecemasan. "Moza, biarkan Herel pulang. Dia sudah minta izin pada saya saat kami bertemu di lobi," sahut Pak Roby. Moza menganggukkan kepalanya. "Rel, pulang saja sekarang. Semoga papamu cepat sembuh," ucap Moza turut prihatin. "Terima kasih, Mbak. Pak Roby saya pulang dulu," pamit Herel. Tanpa menoleh lagi, pemuda itu beranjak keluar dari ruangan finance. "Moza, ayo ikut saya," kata Pak Roby memberi isyarat dengan tangannya. "Widih Bapak keren sekali hari ini," puji Dendi saat Pak Roby melewatinya. "Setiap hari juga saya keren," sahut Pak Roby. Moza menahan senyum mendengar jawaban Pak Roby yang selalu over percaya diri. "Moza, saya dengar dari security kalau direktur kita sudah datang pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum saya," ucap Pak Roby setelah berada di ruangannya. Iris mata Moza membesar ketika mendengar fakta mengejutkan itu. "Memang sepagi apa, Pak?" "Kata security sekitar jam tujuh lewat lima menit. Karena itu kita harus bersiap-siap. Mungkin sebentar lagi dia akan memanggil saya untuk menemaninya berkunjung kesini." Pak Roby berdehem sebelum melanjutkan ucapannya. "Moza, saya sedikit khawatir soal piutang. Hari ini Herel tidak masuk. Bagaimana jika Direktur meminta data-data piutang secara detail? Apa kamu mengetahui dimana Herel menyimpan semua data dan laporannya?" "Saya tahu semua pekerjaan Herel, Pak. Bapak tenang saja," jawab Moza penuh keyakinan. "Bagus kalau begitu." Diam-diam Pak Roby merasa lega karena memiliki supervisor yang handal seperti Moza. "Kriiingg, kriiing." Dengan tangan kiri, Pak Roby langsung mengangkat dering telponnya. "Jaya Group, selamat pagi. Dengan Roby, ada yang bisa dibantu," ucap Pak Roby penuh sopan santun. Selang beberapa detik, raut wajahnya berubah tegang. "Baik, Pak. Saya akan segera ke ruangan Bapak," jawab Pak Roby memperhalus suaranya. Setelah menutup telpon, Pak Roby mencodongkan posisi tubuhnya ke arah Moza. "Moza, beritahukan anak-anak untuk menyiapkan diri. Saya dipanggil menghadap oleh Pak Arlo, direktur kita. Sebentar lagi Beliau akan mengunjungi ruang finance untuk memperkenalkan diri pada kita semua." "Baik, Pak, saya mengerti." Pak Roby beranjak dari kursi lalu buru-buru meninggalkan ruangannya. Kabar dari Pak Roby tersebut membuat detak jantung Moza terasa lebih cepat. Tak dapat dipungkiri ia merasa was-was karena akan bertemu penguasa baru divisi finance. Moza berharap direkturnya itu adalah orang yang bijaksana, cerdas dan bisa melindungi bawahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN