Moza maju ke depan untuk memberikan pengumuman kepada semua staf.
Ia melirik sekilas kepada Mayra yang berdandan cantik hari ini. Hatinya lega karena adiknya itu datang ke kantor tepat waktu.
"Sebentar lagi direktur kita Pak Arlo akan datang ke ruangan finance, kita semua harus berdiri menyambutnya di meja masing-masing dan memberikan salam. Lalu siapkan...."
Moza berhenti bicara karena mendengar suara derak pintu yang dibuka dari luar.
Para staf pun mematung dalam diam. Nampaknya mereka semua mengalami hal yang sama. Berada pada fase ketegangan yang maksimal.
Mereka menghembuskan nafas lega ketika Pak Roby yang muncul pertama kali melewati pintu. Sayangnya kelegaan itu hanya berlangsung sementara. Pria yang berjalan di belakang Pak Roby, itulah yang membuat nafas mereka kembali sesak.
"Silakan masuk, Pak Arlo," ucap Pak Roby sedikit membungkukkan badan.
"Terima kasih."
Fokus para karyawan tertuju pada satu titik. Yaitu pria berperawakan tinggi dan gagah yang mengikuti Pak Roby. Parasnya yang rupawan ditambah penampilan berwibawa, membuat takjub siapa saja yang memandangnya.
Namun tidak semua karyawan merasakan hal yang sama, khususnya Moza.
Mata Moza justru terbelalak lebar saat menyadari identitas pria yang kini berdiri di tengah ruangan finance.
Layaknya melihat hantu, lutut Moza bergetar lemas.
"Dia ini...pria menyebalkan yang ada bersamaku di dalam lift. Jadi dia adalah...Pak Arlo, direktur keuangan...,"
gumam Moza bergidik ngeri.
Rasa dingin menjalari kedua telapak tangan Moza. Terlebih ketika tanpa sengaja ia beradu pandang dengan sang direktur. Apakah ini perasaannya saja ataukah pria itu mengulum sebuah senyuman mengejek padanya.
Moza buru-buru menundukkan kepala, menghindar dari pandangan tajam Arlo Christian.
Bagaimana kebetulan semacam ini bisa terjadi. Semestinya direktur keuangan adalah seorang pria berusia empat puluh tahun ke atas yang bijak dan berpengalaman. Bukan pria muda yang bertampang arogan ini.
"Selamat pagi semuanya," ucap Arlo dengan suara baritonnya.
"Selamat pagi, Pak," jawab para staf.
"Saya adalah Arlo Christian. Mulai hari ini saya akan memimpin departemen finance. Saya harap kerjasama dari kalian semua untuk memberikan kinerja yang terbaik bagi departemen finance dan bagi Jaya Group. Kita melangkah bersama-sama, meningkatkan performa departemen finance menjadi lebih efektif dan efisien. Apa kalian siap memajukan departemen finance?" tanya Arlo dengan suara lantang.
"Siap, Pak," sahut Pak Roby paling keras.
Wajah Pak Roby memerah. Rata-rata anak buahnya menjawab pertanyaan sang direktur dengan suara lirih dan lembek. Seperti orang yang tidak makan selama beberapa hari.
Apa mereka belum sarapan pagi? Mustahil. Pak Roby tahu benar kebiasaan anak-anak milenial ini. Rasa lapar tak pernah henti melanda perut mereka. Buktinya setiap ada makanan gratis di kantor, langsung saja dilalap habis. Bahkan seringkali ia tidak kebagian.
Mana mungkin mereka datang ke kantor tanpa mengisi perut dulu. Apalagi si Dendi dan si Mahendra yang nafsu makannya besar.
Rasanya Pak Roby ingin menjitak kepala mereka satu per satu karena tidak bisa diajak kerjasama. Gara-gara ulah mereka, mungkin saat ini Arlo sudah menganggapnya gagal mendidik bawahan.
Pak Roby melirik ke arah Moza. Supervisornya itu selalu memiliki energi positif yang melimpah, namun kali ini ia lesu seperti ponsel yang kehabisan daya baterai.
"Grrrrrrr," Pak Roby menggeram dalam hati.
Ia mengarahkan tatapan yang menusuk kepada semua anak buahnya. Dengan mata melotot Pak Roby menggerakkan kepalanya dari bawah ke atas, pertanda ia berada di puncak kekesalan.
Para staf sudah paham dengan isyarat menyeramkan dari manajer mereka itu.
"Ehhhmmm, apakah kalian semua siap bekerja di bawah kepemimpinan Bapak Arlo?" ulang Pak Roby dengan suara bernada ancaman.
"Siapppp, Pak," sahut semua staf layaknya paduan suara.
Pak Roby tersenyum puas. Ancamannya telah berhasil membangunkan anak-anak bau kencur ini dari tidur panjang mereka. Bila tidak, ia pasti akan memberikan sanksi kepada mereka semua.
Nilai C atau bahkan D untuk performance mereka di akhir tahun. Sekalian saja supaya mereka kapok lalu menangis termehek-mehek, karena tidak mendapat kenaikan gaji.
Pak Roby menoleh kepada Arlo. Langkah selanjutnya adalah memberikan servis terbaik kepada direkturnya yang masih muda ini. Jangan sampai ia merasa tersinggung selama berada di ruangan finance.
"Apakah Bapak ingin diperkenalkan dengan para staf sekarang?" tanya Pak Roby dengan wajah sumringah.
"Iya, Pak, silakan," tandas Arlo.
"Deg," jantung Moza berdegup cepat.
Moza yakin seratus persen bahwa ia akan mendapat giliran pertama untuk diperkenalkan kepada direktur. Pasalnya ia adalah supervisor yang kedudukannya satu tingkat di bawah Pak Roby.
Benar saja. Pak Roby langsung menyebut namanya dengan penuh semangat.
"Moooo...zaaaa." Suara Pak Roby bak dengungan lebah yang bergema di telinga Moza.
Tidak ada pilihan lain. Moza harus menghadapi kenyataan yang bisa dibilang sangat pahit.
Mungkin terdengar hiperbola. Tetapi memiliki bos yang angkuh, galak, dan bermulut pedas merupakan malatepaka terbesar bagi seorang pekerja kantoran.
"Moza," panggil Pak Roby sekali lagi.
Kedua alis Pak Roby berkerut sampai hampir menyatu di tengah dahi. Ia benar-benar gemas menyaksikan reaksi lambat Moza hari ini. Dimana Moza Fiorela yang biasanya gesit dan lincah? Pada masa genting seperti sekarang, ia justru berubah menjadi seekor siput yang lamban.
"I..iya, Pak."
Dengan kaki yang terasa berat, Moza melangkah menghampiri Pak Roby.
Baru tiga langkah ia berjalan, sebuah suara tegas menghentikannya.
"Stop! Tetap disitu."
Moza terkesiap mendengar titah dari Arlo Christian yang ditujukan padanya.
Bahkan Pak Roby pun sampai terbengong-bengong lalu mengelap dahinya dengan sapu tangan.
Ada gunanya juga ia membawa sapu tangan setiap hari di dalam saku celana. Bila tidak sang direktur akan tahu bahwa ia berkeringat dingin, akibat menanggung stres yang berlebihan.
Jika sikap anak buahnya terus begini, lambat laun ia bisa terkena serangan jantung.
"Maaf, Pak, kenapa Anda menyuruh Moza berhenti? Bukankah dia akan memperkenalkan diri pada Anda?" tanya Pak Roby keheranan.
"Benar sekali, tapi saya yang akan mengunjungi staf satu per satu. Saya akan berkenalan dengan mereka di meja kerja masing-masing. Makanya saya meminta... siapa tadi namanya?"
"Moza, Pak," timpal Pak Roby.
"Iya, Moza untuk berhenti," sambung Arlo.
Dalam hati Moza meragukan pertanyaan Arlo. Entah lelaki itu benar-benar melupakan namanya atau hanya berpura-pura lupa.
Pak Roby manggut-manggut seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oohhh, jadi begitu," katanya lega. Beban seratus kilo seakan terlepas begitu saja dari pundaknya.
Tanpa banyak bicara, Arlo melangkah menghampiri Moza.
Pria itu mengulurkan tangannya lebih dahulu, hingga semua orang di ruangan finance tercengang dibuatnya.
Terutama Dendi dan Pak Roby. Mulut mereka sampai melongo karena terheran-heran.
"Saya Arlo. Apa jabatanmu disini Nona Moza?"
Lidah Moza mendadak kelu. Tak pernah diduganya bila direkturnya yang arogan itu bersikap sedemikian ramah padanya. Jangan-jangan dia sengaja bermain peran demi meraih simpati anak buahnya.
"Saya supervisor keuangan Pak," jawab Moza berusaha tampil setenang mungkin.
Saat mereka berjabat tangan, Moza merasa genggaman tangan pria itu begitu erat. Seolah memberikan peringatan tertentu padanya.
"Berapa lama kamu bekerja disini?" tanya Arlo menyelidiki.
"Lima tahun, Pak. Sekarang memasuki tahun keenam."
"Cukup lama juga kamu bekerja," ucap Arlo.
"Iya, Pak. Sejak lulus kuliah Moza langsung mengabdi di Jaya Group, tidak pernah berpindah pekerjaan. Karena loyalitasnya tersebut dia dipromosikan menjadi supervisor," jelas Pak Roby memuji Moza.
Pujian dari Pak Roby nampaknya tidak berpengaruh pada Arlo.
"Yang terpenting bagi saya bukan lamanya seseorang bekerja di perusahaan, tapi bagaimana performance dan kepribadiannya. Saya menilai seseorang berdasarkan kejujuran, kedisplinan, dan juga karakternya," ucap Arlo menekankan kata terakhir yang disebutkannya.
Ia menatap ke wajah Moza, sehingga Moza merasa kalimat itu diarahkan kepadanya.
"Karakter? Harusnya dia menanyakan karakter dirinya sendiri sebelum menilai orang lain,"
gerutu Moza memaki Arlo dalam hati.
Arlo melepaskan tangan Moza lalu berlalu menuju ke meja Sisil yang letaknya paling depan.
Tak ingin tertinggal, Pak Roby segera menyusul bosnya itu.
"Ini namanya Sisil, staf kasir dan petty cash Pak," ujar Pak Roby setia mendampingi Arlo.
"Selamat pagi, Pak. Saya Sisil," sapa Sisil dengan ramah.
Binar kekaguman tampak jelas di mata Sisil. Melihat pria tampan memang anugerah tersendiri bagi para wanita.
Arlo menjabat tangan Sisil sebentar lalu beralih ke meja Jolin. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Berbeda dengan reaksinya saat berkenalan dengan Moza. Dan hal itu terus berlanjut hingga kepada staf berikutnya. Arlo hanya menjabat tangan mereka sebentar sambil menganggukkan kepala.
"Kenapa meja ini kosong?" tanya Arlo pada Pak Roby.
"Oh, ini meja milik Herel, staf senior bagian piutang. Dia izin tidak masuk karena harus menemani ayahnya di rumah sakit," terang Pak Roby.
Arlo mengernyitkan dahinya.
"Bagian piutang tidak masuk? Padahal setelah ini saya akan meminta data piutang yang belum tertagih, analisa umur piutang dan laporan pembayaran selama tiga bulan terakhir. Saya juga membutuhkan penjelasannya secara detail."
"Tenang saja, Pak, ada Moza. Dia sangat menguasai pekerjaan Herel. Moza bisa menggantikan Herel memberikan laporan apa saja yang Bapak minta," jawab Pak Roby meyakinkan Arlo.
Semangat Moza padam seketika. Tak pelak lagi ia harus berurusan dengan Arlo Christian sepanjang hari ini.