Bab 8 Sehari Bersamanya (Part 1)

1432 Kata
"Hmmmm, begitu. Pasti Nona Moza akrab sekali dengan anak buahnya, terutama yang pria. Sampai bisa mengetahui semua detail terkecil dari pekerjaannya," ucap Arlo sebelum berlalu ke meja staf selanjutnya. Kata-kata Arlo lebih terdengar bermakna satire daripada sebuah pujian. Moza tahu bahwa Arlo bermaksud mengusik hubungannya dengan Herel. Tapi bagi Moza itu tidaklah penting. Terserah saja bila pria menyebalkan ini berpikir yang bukan-bukan. Lagipula ia bukan wanita super yang memiliki kekuatan untuk mengontrol pikiran orang lain. Yang terpenting bagi Moza adalah bersikap profesional dalam menangani pekerjaannya. Pak Roby lanjut membuntuti Arlo. Ia sudah sama seperti seorang anak kecil yang mengekor di belakang orang tuanya. Apalagi Arlo bertubuh jangkung dan atletis, sedangkan Pak Roby pendek dan perutnya buncit. Jika dilihat lagi mereka mirip seperti pasangan tokoh dalam sebuah film animasi. Setelah berkenalan dengan semua staf, Arlo sampai di meja Maira. Sebagai karyawan magang, ia diperkenalkan paling akhir oleh Pak Setyo. Dari tempatnya berdiri, Moza melihat binar kekaguman di mata Maira saat memandang penampilan Arlo. Seolah ia baru saja bertemu dengan seorang bintang idola masa kini. "Selamat pagi, Pak," sapa Maira sambil tersenyum manis. Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Arlo. "Pagi," jawab Arlo menerima uluran tangan Maira. "Pak, ini Maira. Dia magang di kantor kita untuk menyelesaikan tugas akhir dari kampusnya. Bulan depan adalah masa kerja terakhirnya di Jaya Group." Arlo mengerutkan alisnya saat mendengar nama Maira. "Maira? Namanya juga memakai huruf M. Tapi usianya masih sangat muda. Mana mungkin Papa berpacaran dengan anak kuliahan seperti ini," pikir Arlo menepis pikirannya. Pak Roby keheranan melihat Arlo termenung untuk sesaat. Bahkan belum melepaskan tangannya dari Maira. "Ehemmm, Pak Arlo," ujar Pak Setyo berdehem. Arlo tersadar dari lamunannya dan melepaskan tangan Maira. Maira mengulum senyum. Merasa senang karena sepertinya sang direktur tampan ini punya ketertarikan khusus pada dirinya. "Bukankah setelah ini kita akan meeting bersama di ruangan Bapak?" tanya Pak Setyo mengingatkan Arlo. "Benar, Pak Setyo. Tapi saya juga memerlukan laporan piutang. Saya perlu menghitung rasio perputaran piutang dan mengukur persentase piutang tak tertagih. Karena itu setelah kita meeting, saya akan melanjutkan diskusi dengan...Nona Moza," ucap Arlo menjatuhkan pandangan kepada Moza. "Tentu saja, Pak Arlo. Moza akan menyiapkan laporannya untuk Bapak." Arlo membalikkan punggungnya, berjalan dengan langkah tegap diikuti oleh Pak Setyo. Kepergian Arlo dari ruangan finance, membuat para staf bisa bernafas lega. Moza bisa merasakan paru-parunya kembali terisi penuh oleh oksigen ketika direkturnya itu pergi. "Haduh, leganya," kata Jolin terduduk lemas di kursinya. "Lega karena apa? Apa kamu takut pada bos baru kita?" tanya Mahendra ingin tahu. "Kalau si Jolin leganya bukan karena takut, tapi karena senam jantung melihat pria ganteng dan tajir. Maklum mantan-mantannya standar semua," celetuk Dendi. "Enak saja, sejelek-jeleknya mantanku masih lebih baik daripada kamu, Den. Tapi memang sih, aku terpesona melihat Pak Arlo. Dia mirip karakter CEO di web comic. Cool, ganteng, badan berotot, kaya raya dan membuat cewek-cewek di sekitarnya meleleh. Andai saja aku jadi pacarnya atau istrinya, perutku pasti sudah kenyang hanya dengan memandang wajahnya," puji Jolin berdecak kagum. Sebentar lagi mungkin air liur gadis itu akan menetes keluar karena terlalu kagum pada sosok Arlo Christian. "Ckckck, sampai segitunya kamu mengidolakan bos kita. Aku jadi merasa bak sebutir pasir di telapak kaki Pak Arlo," ucap Mahendra merasa minder. Dari mejanya, Moza geleng-geleng kepala. Ia bisa muntah bila lama-lama mendengar anak buahnya memuji-muji Arlo. Tunggu saja hingga mereka mengenal sifat asli pria itu. Pasti mereka akan langsung menarik ucapannya. Kurang lebih dua jam lamanya, Moza berhasil mengalihkan pikirannya hanya pada pekerjaan. Dengan sigap, ia mengambil laporan dari lemari file milik Herel yang sekiranya akan dibutuhkan oleh sang direktur. Hingga waktu yang tak bisa dihindari itu tiba. Pak Roby pun masuk dengan pandangan lurus ke depan. Lebih tepatnya lurus menuju ke meja kerja Moza. Wajahnya mengetat, seolah mengemban suatu misi rahasia yang teramat penting. Pak Roby sampai mencodongkan tubuh ke depan agar lebih cepat mencapai sasarannya. "Moza, sekarang giliranmu menemui Pak Arlo. Beliau sudah menunggumu di ruangannya. Ingat ruang direktur ada di lantai sembilan." Pak Setyo memicingkan mata, menandakan ia sedang dalam mode siaga. "Direktur meminta laporan analisa umur piutang, laporan piutang tidak tertagih, update saldo piutang per hari ini, dan laporan pembayaran piutang beserta mutasi rekening koran. Bawa semuanya, jangan sampai tertinggal, Moza." "Iya, Pak, semua sudah siap. Saya juga sudah menyiapkan flash disk jika Pak Arlo ingin melihat soft copynya." "Bagus, Moza. Sekarang cepat ke ruangan Pak Arlo." "Baik, Pak, saya permisi," ucap Moza sembari membawa setumpuk file laporan di tangannya. "Semangat Moza, kamu pasti bisa menangani Pak Arlo. Kamu sudah berpengalaman dalam bidang ini," batin Moza menyemangati diri sendiri. *** Daun pintu kayu berukuran besar terbentang di hadapan Moza. Di pintu itu terpasang plakat berwarna emas mengkilap bertuliskan "Ruang Direktur Keuangan." Posisi direktur keuangan sudah lama kosong setelah Tuan Edrianto pensiun empat tahun yang lalu. Dan ketika itu dia masih menjadi staf biasa. Karenanya Moza belum pernah menginjakkan kaki di ruangan ini. Sembari memegang file yang dibawanya, Moza mengetuk pintu dua kali. Tak lama berselang, pintu itu terbuka dari luar. Muncul seorang wanita berusia empat puluhan di ambang pintu. Seingat Moza, wanita itu adalah mantan sekretaris Tuan Edrianto yang bernama Ibu Fenti. Barangkali Arlo sengaja memanggil wanita cekatan itu untuk membantunya dalam menangani pekerjaan. Ditambah lagi Ibu Fenti bisa menjadi mentor karena memiliki segudang pengalaman. Dengan wajah datarnya, Bu Fenti mengamati Moza. Mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya. "Selamat pagi, Bu," sapa Moza terlebih dahulu. "Pagi, apa Anda Nona Moza?" tanya Bu Fenti ingin memastikan dia tidak salah orang. "Iya, Bu." "Silakan masuk dan tunggu sebentar," ucap Bu Fenti sembari memutar punggungnya. Dengan langkah lebar, Bu Fenti kembali ke mejanya. Jari telunjuknya menekan tombol angka dua pada pesawat telpon. "Selamat pagi, Pak Arlo. Nona Moza sudah datang. Apa dia diizinkan masuk sekarang?" Bu Fenti diam sebentar untuk menunggu jawaban Arlo. "Baik, Pak, terima kasih." Bu Fenti menutup telponnya lalu menjatuhkan pandangan kepada Moza. "Langsung masuk saja ke ruangan Pak Arlo, Nona Moza," ucap Bu Fenti memberi isyarat dengan tangannya. "Baik, Bu," jawab Moza melangkah ke ruangan Arlo. Ruangan Arlo itu sebagian dilengkapi dinding kaca, namun Moza tidak dapat melihat ke dalam karena hampir seluruhnya tertutup tirai. Lagi-lagi, Moza harus mengetuk pintu berukir di hadapannya sebelum masuk. Di dalam ruangan yang luas itu, ia melihat Arlo sedang bertopang dagu sambil menatap layar laptop. Aroma wewangian segar terhirup oleh Moza ketika ia memasuki ruang direktur. Ruangan itu dilengkapi sofa panjang berwarna broken white dan meja kaca untuk menerima tamu. Di depan meja panjang Arlo, ada dua buah kursi yang tersedia. Sedangkan di belakangnya terdapat sebuah lukisan singa, raja hutan, yang terpajang di dinding. Bila dipikir-pikir lagi, lukisan itu sangat cocok menghiasi ruangan Arlo. Sifat lelaki ini memang begitu mirip seekor singa. Arogan, pemarah, dan suka mengaum. Mungkin alasan itulah yang membuatnya menyukai lukisan tersebut. Melihat Moza datang, Arlo mengalihkan pandangannya kepada gadis itu. Tanpa mempersilakan Moza duduk, ia langsung menanyakan apa saja laporan yang dibawanya. "Kamu sudah membawa semua laporan yang saya minta, Moza?" tanya Arlo dingin. Sambil tetap berdiri, Moza meletakkan tumpukan filenya di meja Arlo. "Sudah, Pak, silakan Bapak memeriksanya. Bila ada lagi yang Bapak inginkan, saya akan mengambilnya." "Kamu pikir membawa laporan dari lantai tiga ke lantai sembilan tidak membuang waktu? Saya tidak mau ada karyawan yang menyia-nyiakan jam kerja sekedar untuk naik turun lift. Sebagai supervisor seharusnya kamu tahu hal itu. Persiapkan dulu laporan dengan lengkap, baru datang kemari," tukas Arlo memarahi Moza. Moza memaksakan dirinya tetap tersenyum, meski hatinya bergemuruh layaknya uap air yang sedang mendidih. "Maafkan saya, Pak. Tapi Bapak belum mengecek laporan yang saya berikan, apakah sudah lengkap atau belum. Saya berkata seperti tadi hanya untuk mengantisipasi jika dirasa ada yang kurang bagi Bapak," timpal Moza membela diri. Arlo mengerutkan kedua alisnya. "Antisipasi? Bagaimana bisa aku mengecek laporanmu jika kamu berdiri saja di hadapanku? Selama kamu bekerja enam tahun disini, apa kamu pernah melihat karyawan yang memberi laporan kepada bosnya dalam posisi berdiri, tidak duduk sama sekali? Tapi jika kamu sanggup berdiri berjam-jam disitu sampai jam makan siang, tidak masalah untuk saya," kata Arlo seraya meraih laporan di urutan paling atas. Aliran darah Moza berdesir lebih cepat ke seluruh penjuru tubuhnya, ketika mendengar sindiran pedas dari Arlo. Sungguh ingin sekali rasanya meninju wajah pria ini bila tidak mengingat ia masih membutuhkan pekerjaan. Dengan menahan rasa kesal, Moza menarik kursi di hadapan Arlo. "Sreekkk..." Kursi yang digeser Moza menimbulkan suara gesekan yang cukup nyaring di lantai, hingga Arlo mendongakkan kepalanya. "Sekarang saya sudah duduk, Pak. Menurut pengalaman saya seorang bawahan baru duduk bila dipersilakan oleh atasannya. Itulah sopan santun yang harus kami taati. Maafkan saya jika belum mengetahui kebiasaan Bapak yang berbeda dengan bos lain di kantor ini," jawab Moza membalikkan perkataan Arlo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN