"Belum sehari saya berada di Jaya Group, kamu sudah berani menilai saya," ucap Arlo mencodongkan tubuhnya ke depan.
"Jika benar apa yang kamu katakan, mungkin saya perlu menambahkan tiga budaya perusahaan yang khusus mengatur etika kerja karyawan. Yang pertama harus duduk dengan sopan saat memberikan laporan kepada atasan. Yang kedua dilarang menjalin hubungan asmara dengan sesama rekan kerja. Dan yang ketiga...berjalanlah dengan hati-hati agar tidak menginjak sepatu atasanmu," tukas Arlo to the point.
Selang beberapa detik, Arlo mengalihkan tatapannya dari Moza ke lembaran kertas yang berisi laporan analisa umur piutang.
Alih-alih memikirkan rasa marahnya, Moza berusaha mencerna kata-kata Arlo. Dengan penuh percaya diri pria itu baru saja menyinggung soal penambahan budaya perusahaan. Padahal sudah jelas bahwa budaya perusahaan dicanangkan oleh putra sang pemilik Jaya Group. Hanya dia yang berhak menambahkan atau menguranginya. Orang bodoh pun tahu akan hal itu.
Tak pelak lagi, keringat dingin membasahi telapak tangan Moza. Otaknya langsung bekerja cepat dalam menarik sebuah kesimpulan.
"Arlo Sasongko...Apa mungkin Pak Arlo ini adalah putra keduanya Tuan Nolan Sasongko? Artinya dia salah satu pewaris perusahaan. Pantas saja dia sangat sombong. Tapi aku tidak boleh takut padanya. Asalkan aku tidak berbuat kesalahan, dia tidak bisa memecatku,"
pikir Moza menghibur dirinya sendiri.
Sementara di mejanya, Arlo berkonsentrasi penuh pada laporan yang diberikan Moza.
"Bisa jelaskan pada saya kenapa hutang Supermarket Modern bisa menumpuk sebanyak ini? Sejak Maret dia sudah masuk kategori piutang tidak tertagih dengan jatuh tempo lebih dari enam puluh hari. Anehnya di bulan April hutangnya kepada kita malah bertambah sepuluh juta."
"Siapa yang melakukan kekonyolan ini? Meminjamkan lebih banyak kepada orang yang tidak sanggup membayar kewajibannya?" lanjut Arlo berapi-api.
Kilatan matanya bagai sebilah pedang yang siap menebas leher musuhnya. Anehnya, bola mata itu mengingatkan Moza pada seseorang di masa lalunya. Apakah ini hanya semacam dejavu atau dia pernah bertemu dengan pria ini dalam situasi yang berbeda?
"Bapak bisa menanyakannya kepada manajer dan supervisor marketing. Mereka yang memutuskan untuk tetap menjual produk kita kepada Supermarket Modern, meskipun saya sudah memberikan info mengenai keterlambatan pembayaran," jelas Moza apa adanya.
"Tapi masalahnya saya bertanya padamu, bukan kepada divisi marketing. Sebagai pemegang data piutang seharusnya kamu memperingatkan mereka, bukan hanya sekedar memberikan informasi. Itulah gunanya keberadaanmu sebagai supervisor divisi finance," tandas Arlo menyudutkan Moza.
Merasa diperlakukan tidak adil, Moza membela dirinya.
"Maaf, Pak, tapi bukan wewenang saya untuk memerintah divisi lain. Mereka ada di bawah naungan Bapak Alex, direktur marketing. Jadi keputusan ada di tangan mereka sendiri," debat Moza.
"Setelah saya ada di divisi finance, kejadian yang sama tidak akan terulang lagi. Fungsi divisi finance bukan sekedar catat mencatat transaksi. Tugas utama kita adalah menjaga kestabilan kondisi keuangan perusahaan, terutama di bagian piutang. Besar kecilnya piutang sangat mempengaruhi likuiditas perusahaan. Apa perlu saya menjelaskannya lebih lanjut? Mungkin saya juga perlu meminjamkan buku-buku semasa kuliah saya supaya pengetahuanmu sedikit meningkat. Supervisor seharusnya memiliki level kecerdasan di atas rata-rata bukannya di bawah rata-rata," ucap Arlo tanpa ekspresi.
Aliran darah Moza meletup-letup di dalam rongga dadanya. Seandainya ia seekor naga, pastilah ia sudah menyemburkan api panas untuk membakar habis pria di hadapannya ini. Moza membayangkan Arlo adalah musuh bebuyutannya di kehidupan yang lalu. Karena urusan mereka belum usai, mereka dipertemukan lagi di kehidupan ini demi menyalurkan dendam yang masih tertunda.
"Saya memiliki banyak koleksi buku akuntansi dan manajemen keuangan. Bapak tidak perlu repot-repot mengajari maupun meminjamkan buku kepada saya. Sesuai instruksi Bapak, saya akan lebih memperhatikan tugas saya untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan," jawab Moza mempertahankan sikap santunnya.
Sudut bibir Arlo terangkat ke atas, membentuk seringai yang meremehkan. Namun ia tidak memberikan tanggapan.
"Aku harus bersabar. Lama-lama aku pasti terbiasa menghadapi orang ini,"
pikir Moza meremas jari jemarinya.
Hanya satu yang diinginkan Moza saat ini, yaitu pukul dua belas siang. Berkebalikan dengan Cinderella, keajaiban dalam hidupnya akan datang pada jam dua belas siang, dimana ia akan terlepas dari cengkeraman penyihir pria bernama Arlo Christian.
"Saya minta soft copy dari laporan piutang tidak tertagih. Saya ingin melihat format aslinya karena susunan laporan ini sangat berantakan," kata Arlo menekan kertas laporan dengan penanya.
"Berantakan? Padahal formulir ini sudah terstandarisasi. Sepertinya dia sengaja mencari-cari kesalahanku,"
batin Moza kesal.
"Bapak bisa membukanya dari laptop Bapak. Sistem finance berikut datanya terkoneksi dengan komputer Bapak. Saya juga membawa flash disk jika Bapak ingin melihat laporannya lebih cepat."
"Saya mau flash disk saja," jawab Arlo singkat. Bola matanya bergerak ke atas dan ke bawah, meneliti angka-angka yang tertera di laporan.
Moza menyodorkan benda putih berbentuk persegi panjang itu ke dekat Arlo.
"Ini, Pak, silakan."
Seketika Arlo menghentikan aktvitasnya dan menatap Moza.
"Apa kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Sedangkan kamu menganggur saja disitu. Pasangkan flash disknya di laptop saya dan buka laporannya," perintah Arlo.
"Saya, Pak?" tanya Moza terkesiap.
"Memangnya ada orang lain disini selain kamu?" balas Arlo ketus.
Moza merasa malu atas pertanyaan konyol yang terlontar dari bibirnya. Jika begini terus, ia akan menjadi sasaran empuk dari pria sok kuasa ini. Lebih tepatnya ia memang berkuasa dan menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas orang lain.
"Baik, Pak. Bisa tolong putar laptop Bapak supaya menghadap ke arah saya?" pinta Moza.
Arlo melepaskan pena yang dipegangnya sehingga berbenturan dengan meja kaca.
"Laptop saya sedang terkoneksi dengan charger. Kira-kira bisa diputar atau tidak? Jika kamu mau meringankan sedikit beban pekerjaan saya, maka berjalanlah kesini dan pasang flash disknya. Apa hal seperti ini saya juga harus mengajarimu?" tanya Arlo memegang dahinya, seolah-olah ia dipusingkan oleh kelakuan Moza.
Mendengar perintah Arlo, Moza dilanda kebimbangan. Jika dia menurut, artinya dia harus berdiri di samping direktur gila ini. Padahal ia sangat alergi berdekatan dengan Arlo setelah kejadian di lift tadi pagi. Namun bila menolak, pria ini akan semakin marah padanya. Mau tak mau, ia harus melaksanakan titah sang direktur agar bisa membebaskan diri dari lubang neraka.
Sambil menegakkan dagunya, Moza beranjak dari kursi. Berjalan tanpa ekspresi lalu meraih laptop milik bosnya itu. Moza berusaha tidak menghiraukan aroma parfum Arlo yang kembali tercium oleh hidungnya.
Dengan jemarinya yang lincah, Moza segera memasang flash disk. Ia terpaksa sedikit membungkuk agar bisa menyesuaikan diri dengan ketinggian laptop. Moza berdiri membelakangi Arlo, sibuk membuka file yang dia cari. Tidak peduli bila bosnya itu berada sangat dekat dengannya.
"Pak, ini form laporan yang asli," ucap Moza menunjukkan kepada Arlo tanpa membalikkan tubuhnya.
"Bagaimana saya bisa melihatnya kalau kamu menutupi layar laptop saya," tegur Arlo.
"Maaf, Pak."
Moza memutar badannya, buru-buru ingin menyingkir dari laptop. Ia tidak sadar jika Arlo menggeser kursinya di saat yang bersamaan. Alhasil Moza tertabrak dan kakinya tersandung roda kursi milik Arlo. Karena hilang keseimbangan, dia jatuh terjerembap di pangkuan Arlo.
"Ma-maaf, Pak, saya tidak sengaja," tutur Moza dengan wajah memerah.
Moza berusaha bangkit berdiri, namun ia mesti berpegangan pada suatu benda agar bisa menarik tubuhnya. Sayangnya yang bisa dijadikan pegangan saat ini hanyalah tubuh Arlo. Terpaksa, Moza memegang erat lengan pria itu supaya dia bisa berdiri tegak.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Silakan Bapak lihat laporannya," kata Moza melangkah kembali ke kursinya.
Tanpa bercermin sekalipun, Moza yakin bahwa wajahnya kini merona seperti buah apel. Sungguh memalukan. Kesialan demi kesialan telah menimpanya di hari ini sejak pertemuannya dengan Arlo.
Dalam beberapa menit, mereka saling diam membisu. Arlo fokus menatap layar laptopnya, memeriksa laporan dengan seksama. Ia tidak bertanya lagi pada Moza. Sementara Moza pura-pura membaca ulang salah satu laporan yang dibawanya. Beruntung kecanggungan itu tidak berlangsung lama.
"Ini sudah jam makan siang. Tinggalkan saja laporanmu, nanti saya akan memeriksanya bersama Pak Roby. Sekalian saya harus melanjutkan meeting dengannya," ucap Arlo memecah kesunyian.
"Baik, Pak, terima kasih," jawab Moza bak mendengar nyanyian paling merdu di seantero bumi.
Tak ingin berlama-lama lagi, Moza keluar dari ruangan Arlo. Berharap ia tidak menginjakkan kaki di tempat itu sampai jam pulang kantor nanti.
***
Selepas kepergian Moza, Arlo menghirup nafas dalam-dalam. Mengatur degup jantungnya yang masih tak beraturan karena kejadian barusan. Meskipun di depan wanita itu, ia berusaha bersikap biasa saja.
Bersentuhan langsung dengan Moza Fiorela tanpa sengaja membangkitkan sesuatu yang terpendam dalam dirinya. Bukankah ia enggan menjalin hubungan dengan wanita? Kenapa prinsipnya mudah sekali goyah hanya karena keinginan sesaat?
Setengah hari ini, ia telah menjalankan sebagian rencana untuk menyibak topeng Moza. Apakah benar supervisor keuangan itu adalah wanita yang menjadi selingkuhan ayahnya.
Moza juga sempat tertangkap basah berboncengan mesra dengan staf prianya. Jika semua itu terbukti benar, pastilah Moza bukan wanita baik-baik. Di satu sisi ia berhubungan dengan pria tua yang beristri, tapi di sisi lain berpacaran dengan pemuda berondong. Sungguh perbuatan yang menjijikkan.
Namun ada satu hal yang membuat Arlo masih ragu. Sepanjang bersama Moza, ia merasa wanita itu sangat serius dengan pekerjaannya. Sebentar saja mengenalnya, karakter Moza sudah terlihat dengan jelas. Ia tekun, pantang menyerah, pintar berdebat dan sedikit galak. Sifat semacam ini biasanya tidak dimiliki oleh seorang wanita simpanan.
Gestur tubuh Moza juga sangat sopan. Bahkan ia nampak begitu malu saat terjatuh di pangkuannya. Bila Moza sudah berpengalaman, tentu saja ia akan memanfaatkan kesempatan emas tadi untuk merayunya. Entah Moza sekedar berakting atau dia memang bukan wanita pelakor yang dicari Arlo.
"Aku jadi tertarik untuk menyelidiki siapa kamu sebenarnya Moza. Mungkin aku harus menggunakan cara yang lebih ekstrem untuk memastikannya. Jika kamu benar selingkuhan papaku, maka kamu akan mendapat balasan yang setimpal dariku,"
gumam Arlo mengucapkan janjinya.