Bab 10 Persyaratan Aneh

1509 Kata
Berbeda dengan wanita lain yang mati-matian menjaga bentuk tubuhnya, Moza justru makan lebih banyak siang ini. Selain untuk meluapkan rasa kesalnya, ia perlu mengisi energi secara penuh agar kuat menghadapi bosnya yang berhati iblis. Ditambah lagi ia harus menghapuskan kenangan memalukan yang baru terjadi atas dirinya. Bermimpi pun tidak pernah, bila ia harus bersentuhan dengan pria seperti Arlo. Entah mau ditaruh mana mukanya ketika harus bertemu lagi dengan direktur angkuh itu. Biasanya untuk mengatasi mood yang buruk, Moza acapkali memakan cake atau kue yang manis. Rasa manis yang lumer di lidah selalu bisa mengembalikan semangatnya. Selain itu, ia adalah seorang penggemar kue sejati. Bahkan sempat terpikir olehnya untuk mendirikan toko sendiri. Sayang sekali ia belum memiliki modal yang cukup untuk memulai usaha. Di jam makan siang ini, Moza memilih restoran cepat saji yang berlokasi di dekat kantornya lalu memesan makanan sebanyak mungkin. Dia juga mengajak para staf wanita untuk ikut bersamanya. "Kenapa Kakak makan banyak sekali? Tidak takut gemuk?" tanya Maira keheranan. "Kamu tahu sejak kecil aku tidak bisa gemuk walaupun makan sebanyak apapun," jawab Moza sambil mengunyah kentang goreng. Maira, Jolin, dan Erika yang makan bersama Moza sampai terbengong-bengong. Kelakuan Moza kali ini benar-benar ajaib. "Apa kalian mau juga?" tanya Moza menawarkan makanannya dengan mulut yang penuh. "Tidak, tidak, terima kasih," tolak ketiga gadis itu serentak. Mereka cukup kenyang hanya dengan menyaksikan nafsu makan Moza yang berlebihan. Dari ayam goreng, nasi, burger hingga kentang goreng semua dilahapnya. "Kak, nanti sore sepulang kantor aku ada janji dengan teman kuliahku, Ocha. Aku akan menginap di rumahnya, jadi aku tidak pulang ke rumah. Besok pagi aku langsung berangkat ke kantor dari rumah Ocha," kata Maira meminta izin. "Ocha? Kamu pernah mengatakan adik laki-lakinya sangat nakal dan berisik. Kenapa tiba-tiba kamu ingin menginap di rumahnya?" "Karena orang tua Ocha sedang ke luar kota. Dia memintaku menemaninya, Kak," jawab Maira memberikan alasan. Melihat gelagat Maira yang mencurigakan, insting Moza mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya. Namun tidaklah pantas bila ia menyatakan secara gamblang di depan Jolin dan Erika. "Baiklah, tapi besok kamu harus pulang ke rumah," tandas Moza. "Iya, Kak. Aku tidak mungkin menginap terus di rumah Ocha," jawab Maira dengan santai. *** Selepas makan siang, Moza merasa kekenyangan hingga menguap beberapa kali. Beruntung Arlo tidak memanggilnya lagi sehingga ia bisa bekerja dengan tenang. Menjelang detik-detik terakhir menuju jam lima sore, Pak Roby kembali ke ruangan finance. Dengan ekspresi yang misterius, ia berjalan ke tengah-tengah ruangan. Matanya yang setajam burung elang menyapu ke setiap sudut meja para stafnya. Nalurinya sebagai pemimpin mengatakan bahwa anak-anak muda ini enggan mendengarnya berbicara. Apalagi mereka sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah. Tapi siapa yang peduli. Sebagai bawahan mereka harus patuh dan menghormati atasannya. "Ehemmm, selamat sore semuanya. Maaf saya harus mengganggu kalian sebentar karena ada pengumuman penting yang harus saya sampaikan. Tolong dengarkan saya baik-baik," tegas Pak Roby. "Iya, Pak," jawab Moza menyahut. Sementara para staf yang lain ikut menjawab dengan lesu. "Begini, besok Jumat jam tujuh malam Pak Arlo mengajak kita makan malam di restoran ternama. Ini dalam rangka syukuran pengangkatan Beliau sebagai direktur keuangan. Sekaligus Beliau ingin mengenal semua stafnya satu per satu supaya hubungan kita lebih akrab." "Wah, kita akan ke restoran mahal, nih. Apa nama restorannya, Pak?" celetuk Dendi. "Nama restorannya adalah Fairish Garden. Kalian tahu, kan? Restoran bernuansa taman di dalam ruangan yang sedang trend di sosial media. Tempatnya sangat instagramable," jawab Pak Roby dengan wajah sumringah. "Asyik, kita bisa pergi kesana, gratis lagi. Nanti aku akan foto selfie di semua spot yang keren," ucap Jolin. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang karena mendengar berita gembira ini. Seringai terbentuk di sudut bibir Pak Roby. "Berfotolah sebanyak yang kalian mau. Asalkan kalian memenuhi syarat yang diajukan oleh Pak Arlo. Jika tidak memenuhi persyaratannya, kalian tidak boleh ikut." "Hah, pakai persyaratan segala, Pak?" tanya Jolin cemas. "Iya. Syaratnya tidak terlalu berat. Kalian wajib memakai baju formal yang pantas dan harus berwarna merah. Laki-laki memakai kemeja dan celana panjang, wanita boleh memakai gaun malam." "Harus warna merah, Pak? Aduh saya tidak punya kemeja merah," keluh Mahendra. "Harus. Ini syarat pertama." "Kenapa harus warna merah, Pak? Macam kita aliran sesat saja. Serem...." celetuk Dendi bergidik ngeri diikuti tawa teman-temannya. "Kalau kamu mau protes, sampaikan saja secara langsung pada Pak Arlo. Mumpung Beliau masih ada di ruangannya di lantai sembilan," tantang Pak Roby sambil membulatkan bola matanya ke arah Dendi. Nyali Dendi seketika menciut. Ia menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan untuk membentuk simbol menyerah sebelum berperang. "Kalau itu saya tidak berani, Pak," jawab Dendi berterus terang. Meskipun memilih bungkam, Moza sependapat dengan Dendi. Ia tidak memiliki satu pun gaun pesta berwarna merah, karena ia tidak menyukai warna yang mencolok. Entah apa tujuan Arlo memberikan syarat yang ganjil. Barangkali tebakannya tentang pria itu terbukti benar. Ia merupakan salah seorang anggota kelompok penyihir berbaju merah. Pantas saja kelakuannya abnormal dan cara bicaranya tidak selayaknya manusia biasa. "Nah, selanjutnya ada syarat kedua yang harus dipenuhi," ucap Pak Roby membuat teka-teki. "Apa itu, Pak?" tanya Jolin penasaran. "Kalian harus memakai kalung dengan liontin huruf depan nama kalian. Tapi syarat ini khusus untuk staf wanita. Yang merasa pria tidak perlu melakukannya," sindir Pak Roby. Mahendra dan Dendi mengelus dadanya secara bersamaan. "Syukurlah kita terlahir sebagai pria," desis mereka merasa seakan mendapat anugerah dari langit. Sisil yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara. Ia nampak keberatan bila harus mengeluarkan uang untuk membeli semua persyaratan yang diajukan oleh sang direktur. "Pak, maaf, saya tidak bisa jika harus membeli kalung yang mahal," ucap Sisil memelas. "Tidak perlu mahal, Sil. Di toko banyak kalung imitasi yang harganya kurang dari seratus ribu. Belanja online juga bisa karena acaranya masih empat hari lagi. Yang penting kalung itu ada liontinnya. Huruf S, sesuai namamu...Sisil," tandas Pak Roby memberikan saran. "Baik, Pak." Sisil merasa lega karena tidak perlu memboroskan uang gajinya. "Mungkin Pak Arlo ingin menghafal nama kalian lebih mudah dengan cara ini," tambah Pak Roby memberikan penjelasan. Moza berdecih di dalam hati. Dia tidak percaya bila tujuan Arlo sesederhana itu. Pasti pria tersebut merencanakan sesuatu yang licik di balik sejumlah persyaratan yang diberikannya. Firasat buruk melingkupi Moza. Mendadak ia teringat pada kalung berlian yang tempo hari dikirimkan oleh calon pacar Maira. Entah kebetulan semata atau bukan, namun liontin kalung itu mirip dengan syarat yang diajukan oleh bosnya. "Jangan-jangan calon pacarnya Maira adalah Pak Arlo? Tapi usianya belum terlalu tua, sekitar awal tiga puluhan. Kenapa Maira memanggilnya 'Om'?" batin Moza bertanya-tanya. Sebuah ide cemerlang terlintas begitu saja di benak Moza. "Ini kesempatan emas bagiku untuk mengetahui identitas calon pacar Maira. Aku akan meminjam kalung Maira dan mengenakannya di acara makan malam. Jika Pak Arlo terkejut atau menunjukkan reaksi yang berlebihan, berarti dia adalah pria yang mengirimkan kalung itu untuk Maira," gumam Moza menyusun rencana. *** Maira turun dari taksi menuju ke hotel Cavinton. Ia menyisir rambutnya dan bercermin sebentar sebelum memasuki lobi hotel. Maira mengedarkan pandangan ke sekeliling lobi yang luas. Titik netranya menangkap sosok seorang pria yang duduk di sofa panjang berbahan kulit. Senyuman manis mengukir paras gadis muda itu. Apalagi ketika melihat si pria beranjak dari sofa untuk menghampirinya. Dari dekat tampak sebagian rambut pria itu telah memutih. Garis-garis usia juga tercetak jelas di dahinya. Meskipun begitu, bekas ketampanan masa mudanya masih terlihat. Tubuhnya pun masih tergolong tegap dan kokoh untuk pria seusianya. Sinar matanya begitu terang, menunjukkan bahwa ia masih memiliki gairah jiwa muda. "Om Nolan," sapa Maira manja. "Maira, akhirnya kamu datang juga. Om kangen sekali ingin berduaan denganmu," kata Nolan memeluk pinggang Maira. Maira mencebikkan bibirnya dan merajuk. "Masa sih, Om? Apa Om nggak menganggap aku anak kecil lagi?" tanya Maira meletakkan kepalanya di bahu sang pria. "Kamu bukan anak kecil, tapi seorang gadis yang begitu cantik dan menarik. Ayo kita beristirahat sekarang. Om sudah memesan kamar spesial untuk kita di lantai tujuh," kata Nolan membimbing Maira ke dalam lift. Maira mengangguk. Sambil bergelayut manja di lengan pria yang lebih cocok menjadi ayahnya itu, Maira mengikuti kemauan Nolan. Nolan tersenyum senang ketika ia berhasil membawa Maira masuk ke dalam kamar president suite yang telah dipesannya. Ia melihat Maira berdecak kagum menyaksikan kemewahan kamar hotel itu. Seumur hidup, baru kali ini Maira merasakan bagaimana nikmatnya menjadi orang kaya. Hidup bergelimang harta dan bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan. Tinggal selangkah lagi, dia akan memperoleh semua yang diidamkannya sejak remaja tanpa harus bersusah payah. "Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Nolan membelai rambut Maira. Jemarinya yang lain bergerak nakal di tubuh gadis muda itu. "Sudah, Om. Tapi Om janji ya setelah aku menjadi milik Om, Om harus memenuhi janji. Belikan aku apartemen di Horizon Park dan sebuah mobil sport," rajuk Maira. "Pasti Sayang, Om nggak pernah ingkar janji. Sebenarnya Om sudah melakukan pembayaran untuk membeli unit apartemen yang kamu inginkan. Coba lihat sendiri," ucap Nolan menunjukkan jejak transaksi mobile banking di ponselnya. Binar kebahagiaan terpancar di mata Maira. Ia memeluk Nolan dengan erat, seolah tidak ingin lepas dari tambatan hatinya itu. "Terima kasih, Om. Om baik sekali," kata Maira. "You're welcome, Honey. Paling lambat dua minggu lagi kamu sudah bisa menempati apartemen itu. Sekarang ayo kita kesana," ucap Nolan memberikan kode ke arah tempat tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN