Moza melepas helmnya lalu masuk ke dalam rumah. Lengang, tidak ada suara apapun.
Di ruang tamu, ia melihat Suster Nita yang merawat opanya telah bersiap untuk pulang.
"Mbak Moza, Opa sudah tidur. Saya permisi pulang dulu," kata Suster Nita membawa tasnya.
"Iya, Suster, terima kasih," jawab Moza tersenyum.
Setelah Suster Nita pergi, Moza membuka pintu kamar opanya perlahan-lahan. Melihat lelaki tua itu tertidur lelap, Moza merasa lega. Ia berharap kesehatan opanya semakin membaik hari demi hari, sebab hanya opanya yang dia miliki sebagai pengganti kedua orang tuanya. Biarpun opanya seringkali tidak mengenalinya, namun keberadaan pria lanjut usia itu memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Moza.
Dengan langkah gontai, Moza berbelok ke kamarnya. Secara fisik ia tidak terlalu lelah. Hanya saja kekuatan mentalnya yang terkuras habis hari ini. Penyebabnya tentu saja satu orang pria yang menjabat sebagai direktur keuangan.
Moza tidak yakin apakah ia sanggup berhadapan dengan bosnya itu selama seminggu, sebulan, setahun atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Pastinya Arlo akan tetap bercokol di departemen finance karena ia adalah putra dari pemilik Jaya Group. Tidak ada yang lebih buruk daripada kenyataan ini. Membayangkan harus berurusan dengan pria itu hingga waktu pensiunnya, sungguh merupakan bencana yang mengerikan.
"Daripada memikirkan orang itu, lebih baik aku mandi,"
gumam Moza mengambil handuknya.
Moza memutar keran shower hingga mencapai batas maksimal. Pancaran air yang mengalir deras dari shower, mengguyur seluruh tubuhnya. Meluruhkan sisa-sisa kepenatan yang masih tertinggal.
Sembari mencuci rambut dengan shampo beraroma lavender, Moza kembali mencemaskan Maira. Gelagat Maira siang tadi terlihat mencurigakan. Tidak ada angin tidak ada hujan, mendadak ia minta izin menginap di rumah Ocha. Alasan yang dikemukakannya juga terdengar klise. Semakin lama dipikirkan, kegelisahan Moza semakin bertambah. Firasatnya mengatakan bahwa adiknya itu telah membohonginya.
"Apa Maira benar-benar menginap di rumah Ocha? Aku harus menanyakannya pada Ocha."
Moza buru-buru menyelesaikan sesi mandinya lalu mengenakan bathrobe. Dengan rambut yang masih basah tergerai, Moza kembali ke kamar. Ia meraih ponsel dari nakas lalu mencari nomor ponsel Ocha pada daftar kontak yang disimpannya.
Sambil duduk Moza menunggu hingga panggilan telponnya tersambung. Terdengar nada panggilan yang tersambung di seberang sana.
"Ayo, Ocha angkatlah. Aku butuh bantuanmu,"
gumam Moza mengetukkan kuku-kuku jarinya ke atas nakas.
"Halo, Mbak Moza." Terdengar suara Ocha yang samar-samar bercampur dengan keriuhan musik di belakangnya.
"Halo, Ocha. Kamu ada di rumah?" tanya Moza.
"Aku nggak dengar, Mbak. Tolong ulang sekali lagi. Disini berisik," pinta Ocha.
Moza mengeraskan suaranya.
"Apa kamu ada di rumah, Cha?" ulang Moza setengah berteriak.
"Aku sedang di klub, Mbak. Temanku mengundangku kesini untuk merayakan ulang tahunnya."
"Klub malam? Dimana? Apa Maira ikut bersamamu?" tanya Moza semakin cemas.
"Nggak, Mbak. Hampir sebulan ini aku nggak pernah bertemu Maira. Sorry, aku tutup telponnya ya. Sebentar lagi acara dance berpasangan akan mulai," kata Ocha memutuskan sambungan telpon Moza.
Jawaban Ocha membuat Moza semakin gelisah. Jelas sudah kalau Maira berbohong padanya. Gadis itu tidak menginap di rumah Ocha melainkan sedang berada di tempat lain. Dimana adiknya sekarang, Moza bisa menebak dengan mudah.
Tidak salah lagi, Maira pasti berduaan dengan pacar barunya. Bisa jadi mereka tengah menghabiskan malam bersama di suatu tempat. Memikirkan kemungkinan ini membuat perut Moza terasa mulas. Ia takut bila Maira termakan rayuan pacarnya lalu menyerahkan diri pada pria itu. Jika semua itu terjadi apa yang bisa diperbuatnya untuk mencegah kehancuran masa depan Maira?
"Aku harus menemukan siapa pria yang menjadi pacar Maira. Kalau dia berbuat macam-macam terhadap adikku, aku bisa memaksanya supaya bertanggung jawab atas perbuatannya."
Entah mengapa saat memikirkan siapa kekasih adiknya, justru gambaran wajah Arlo yang terlintas di benak Moza.
"Tidak ada waktu lagi. Aku harus memastikan apakah Pak Arlo adalah pacar Maira. Jika benar, aku akan memberikan peringatan keras padanya agar tidak mempermainkan Maira,"
gumam Moza menggenggam erat ponselnya
***
"Freya, ini cokelat untukmu," ucap Arlo menyerahkan kotak berbentuk hati yang dihiasi pita berwarna pink. Meskipun tangannya gemetar, Arlo memberanikan diri menyatakan perasaan pada gadis pujaannya di hari valentine.
Ini adalah cinta pertamanya. Mungkin bisa dibilang cinta monyet semasa remaja. Namun bagi Arlo perasaan ini sungguh luar biasa. Ia sampai sulit makan selama dua hari karena menahan perasaannya. Padahal biasanya ia selalu menyantap nasi dengan lahap sekaligus menghabiskan lima hingga enam potong kue dalam sehari.
Dengan sepasang matanya yang menawan, Freya menatap kotak yang disodorkan Arlo. Di samping kanan dan kiri Freya ada kedua sahabatnya, Chloe dan Bela. Kedua gadis itu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya. Entah apa maksudnya hingga mereka menganggap tindakan Arlo sebagai lelucon yang menggelikan.
Freya melipat kedua tangannya di depan d**a. Bentuk kelopak matanya yang mirip sepasang mata kucing, menatap Arlo lekat-lekat.
"Hmmmm, aku perlu tahu dulu apa tujuanmu memberikan cokelat ini. Katakan dengan jelas dan jujur, setelah itu aku akan mempertimbangkan untuk menerima atau menolaknya," ucap Freya memiringkan bibir mungilnya.
Mendengar pertanyaan Freya, kerongkongan Arlo terasa kering kerontang. Rasanya ia bagaikan berdiri di tengah padang pasir yang gersang tanpa sumber air. Namun Arlo tetap memaksakan diri untuk bicara. Kapan lagi ia punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya kepada sang gadis pujaan selain di hari Valentine.
"Freya, sebenarnya aku...suka padamu. Aku memberikan cokelat ini karena...aku ingin...kamu jadi pacarku," kata Arlo terbata-bata.
Raut wajah Freya berubah datar. Tapi selang beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Aduh, lucu sekali," ucap Freya memegangi perutnya.
Gadis remaja itu bertepuk tangan untuk menarik perhatian teman-teman sekolahnya yang sedang makan siang di kantin.
"Dengar teman-teman, Arlo baru saja menyatakan cinta padaku. Sebaiknya aku terima atau aku tolak saja?" tanya Freya sengaja mempermalukan Arlo.
Tidak ada siswa yang menjawab, namun mereka terkekeh mendengar pertanyaan yang diajukan Freya.
Chloe maju ke depan lalu berjalan mengelilingi Arlo.
"Arlo, sorry ya, apa kamu nggak pernah ngaca? Badanmu itu sebesar karung goni tapi mau jadi pacar Freya. Peribahasa yang cocok untuk Arlo kira-kira apa Bel, aku lupa?" tanya Chloe berpura-pura.
"Bagai pungguk merindukan bulan," sahut Bela tersenyum mengejek.
"Iya betul sekali. Mending kurusin badan dulu sana. Diet ketat dan olah raga setiap hari supaya kamu cakep. Kalau perlu operasi plastik sekalian," kata Chloe dengan kejam.
Lutut Arlo terasa goyah. Keringat dingin mulai membasahi kening dan lehernya. Terlebih ia sadar bahwa kini puluhan pasang mata teman-temannya sedang menatapnya. Menjadikannya sebagai bahan tontonan yang menggelikan sekaligus menyedihkan.
"Sudah, sudah. Jangan menghina Arlo, kasihan dia," cegah Freya. Ia menghampiri Arlo lalu menyentuh lengannya dengan satu tangan.
"Ckckck, bagian ini berlemak sekali. Tanganmu juga sangat besar. Aku bisa pingsan kalau kamu tidak sengaja menyenggolku. Makanya Arlo, carilah pacar yang sepadan denganmu. Aku paling alergi melihat cowok gendut. Jadi tolong pergi jauh-jauh dariku," ucap Freya memandang Arlo dengan tatapan jijik.
"Lalu bagaimana dengan cokelat ini?" tanya Arlo polos.
"Bagaimana ya?" balas Freya balik bertanya.
Freya mengedarkan pandangan kepada teman-temannya yang berkerumun menyaksikan pertunjukan ini.
"Girls, apa ada di antara kalian yang mau menerima cokelat dari Arlo? Kalau iya maju kesini," ucap Freya memberikan penawaran.
Para gadis remaja di kantin itu tidak ada yang memberikan jawaban. Sebagian dari mereka saling berbisik menahan senyum. Sebagian lainnya geleng-geleng kepala, seolah menganggap Arlo adalah makhluk paling aneh di muka bumi.
"Tuh, lihat sendiri, Arlo. Nggak ada cewek yang mau menerima cokelat darimu apalagi menerima cintamu," ejek Freya.
Freya merebut kotak yang masih dipegang Arlo, membuka penutupnya lalu membuangnya begitu saja ke lantai.
"Uupss, jatuh deh. Lebih baik kamu ambil dan kamu makan sendiri, Arlo. Aku yakin kamu bisa menghabiskannya dalam waktu kurang dari sepuluh menit."
Sebelum berlalu pergi, Freya memandang Arlo sekali lagi.
"Maaf, Arlo, aku harus kembali ke kelas. Bye bye," ucap Freya melambaikan tangan. Chloe dan Bela buru-buru mengikuti sahabatnya itu keluar dari kantin.
Dunia Arlo runtuh seketika. Ia memungut kotak berbentuk hati yang telah berantakan itu. Sama berantakannya dengan kondisi jiwanya saat ini. Berusaha tetap tegar, Arlo memungut cokelat pemberiannya yang berserakan. Namun ia melihat sebuah sneakers hitam menendang kotak itu menjauh darinya.
Arlo mendongak dan bertatapan dengan Nicholas yang memandangnya penuh kebencian.
"Gendut, beraninya kamu mengganggu Freya. Freya sudah jadi pacarku. Kalau kamu mendekatinya lagi, aku akan menghajarmu habis-habisan. Aku ini juara satu kompetisi taekwondo. Dengan sekali tendangan, aku bisa membuatmu jatuh tersungkur," ancam Nicholas.
Remaja laki-laki itu menendang kaki Arlo dengan keras hingga Arlo kehilangan keseimbangan. Ia jatuh tersungkur di antara cokelat yang berserakan.
"Rasakan itu!!!" ucap Nicholas melangkah pergi.
Siswa lain yang menyaksikan kejadian perundungan itu tidak ada yang bersedia menolong Arlo. Mereka berlalu, seolah tak peduli dengan nasib malang temannya.
Arlo menggenggam tangannya kuat-kuat. Ia bersumpah akan membalas semua penghinaan yang diterimanya hari ini. Jika kini semua gadis menolak dan mengejeknya, maka di kemudian hari mereka semua akan bertekuk lutut padanya. Ia juga berikrar tidak akan pernah mencintai wanita. Saat dewasa nanti, ia hanya akan mempermainkan mereka lalu mencampakkannya seperti barang yang sudah usang.
Arlo berusaha menarik tubuhnya yang besar untuk bangkit berdiri. Bobot tubuhnya yang berlebihan membuatnya kesulitan melakukan hal itu. Beruntung ada sebuah tangan yang putih dan halus terulur kepadanya.
"Biar aku bantu, Kak."
Arlo menegakkan kepalanya, bersitatap dengan seorang gadis yang bertubuh mungil. Wajah gadis itu cantik dengan mata yang bersinar cerah. Jika dilihat dari usianya, gadis itu kelihatan lebih muda darinya.
"Nggak usah, badanmu kecil. Nanti kamu bisa jatuh kalau menolongku. Aku bisa bangun sendiri," tolak Arlo.
"Kalau begitu aku akan mengumpulkan cokelatnya. Sayang kalau cokelat sebanyak ini terbuang," ucap gadis itu pantang menyerah.
Sejenak Arlo tertegun memandang gadis yang berada di sampingnya. Gadis kecil itu seperti seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk membantunya keluar dari penderitaan.
"Kak, ini cokelatnya. Semua sudah terkumpul di dalam kotak." Gadis itu menyerahkan kotak berbentuk hati kepada Arlo.
"Nama Kakak Arlo ya?" tanya gadis itu.
"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Arlo mengernyitkan dahinya.
"Di kotak ini Kakak menempelkan kertas yang bertuliskan "With Love, From Arlo Christian," jawab gadis itu dengan suara semerdu kicauan burung.
Wajah Arlo memerah karena malu.
"Oh, aku sampai lupa. Terima kasih sudah menolongku. Siapa namamu dan dari kelas mana?" tanya Arlo ingin tahu.
Bel tanda berakhirnya jam istirahat menggema di seluruh gedung sekolah.
"Maaf, Kak, saya harus ke kelas. Pelajaran akan dimulai."
Tanpa menyebutkan nama, gadis itu pun segera berlari meninggalkan Arlo.
****
Arlo terbangun dari tidurnya. Irama jantungnya naik turun tak beraturan. Nafasnya pun sedikit sesak.
"Shitt!!! Kenapa aku memimpikan hal itu lagi? Sudah bertahun-tahun aku melupakannya," rutuk Arlo sambil menyibakkan bed cover yang menutupi tubuhnya.
Dendam masa lalunya memang terpatri demikian kuat. Arlo sampai harus menjalani serangkaian terapi untuk menghapus kenangan bullying yang pernah ia alami semasa remaja.
Namun pengalaman buruk itu telah mengubahnya secara total. Ia bukan lagi Arlo yang bertubuh tambun, lemah, dan menjadi bulan-bulanan para gadis. Kini ia menjelma sebagai pria tampan bertubuh atletis yang digilai banyak wanita. Karakternya juga berubah menjadi tangguh, dominan sekaligus dingin tanpa belas kasih.
Empat tahun lalu ia berhasil melampiaskan dendamnya pada Freya. Ia membuat wanita itu jatuh cinta setengah mati padanya. Kemudian setelah menidurinya dalam waktu semalam, Arlo mendepak wanita itu dari sisinya. Rasanya sungguh menyenangkan bisa membuat wanita itu menderita.
Sesudah puas membalas dendam, Arlo tidak menyentuh wanita manapun lagi. Kini ia hanya hidup untuk pekerjaan dan kariernya. Namun entah mengapa malam ini, Arlo kembali memimpikan masa lalunya yang kelam.
Selain kemarahan yang tersisa, mimpi itu juga mengingatkannya pada gadis mungil yang pernah menolongnya. Setelah peristiwa bullying tersebut, Arlo meminta dipindahkan ke sekolah yang lain. Jadi dia tidak sempat mengetahui siapa nama gadis baik hati itu. Yang jelas sang gadis pasti sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik.
"Kenapa aku malah memikirkan yang tidak-tidak? Aku harus berkonsentrasi pada satu wanita sekarang. Yang namanya berawalan huruf M, Moza Fiorela...."
gumam Arlo sembari mengusap dahinya.