“Dia menyebutku pelayan.” Aku menggerung tidak terima. Mengumpat-umpat makhluk-makhluk ber-KTP kebun binatang untuk menyerukan luka hatiku. “Maksudku, coba kalian lihat diriku. Aku si agen asuransi paling seksi yang pernah dimiliki Pak Galih disebut pelayan? Penghinaan! Pelecehan! Aku bisa melaporkan Jidat Ganong itu ke polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Maksudku, demiii, aku nggak pernah dikatain dengan kutukan semengerikan itu.” Aku tahu, walaupun berada di belakangku sambil mengeramasi rambutku, aku bisa melihat Malam memutar bola matanya. Sementara Anye yang tengah membuka blusku hanya menggeleng dramatis. “Aku selalu tampil cantik dan menawan. Dan selama ini nggak ada yang berani-beraninya menyebutku pelayan. Kalian tahu nggak sih, aku terluka. Jiwaku terguncang hebat

