Nesa kembali ke ruang tengah saat menyadari kalau Regan masih di sana. Dengan gaya manjanya wanita berpostur tinggi langsing itu mendekati Regan dan langsung memeluk lelaki yang sebenarnya telah menikah lagi.
"Sayang ayo makan malam dulu." Nesa memeluk bahu Regan erat sampai dadanya yang hasil buatan tangan manusia menempel sempurna di lengan atas dan punggung Regan.
"Nes, jangan berlebihan begini. Nggak enak dilihat orang, nanti mereka jadi salah paham." Regan berusaha melepaskan rangkulan Nesa.
"Memang kenapa kalau orang lain tahu? Aku single, kamu juga udah sendiri, lalu salahnya di mana?" Nesa merasa tersinggung dengan penolakan Regan.
"Kita sudah selesai dari dulu, Nes, jadi jangan memulai lagi yang sudah kamu akhiri sendiri." Regan gegas ke ruang makan karena ibunya sudah memanggil mereka.
Rupanya Nesa tidak pustus asa atas penolakan terang-terangan dari Regan, wanita yang beberapa bagian tubunya sudah dipermak itu nekat merangkul lengan kokoh Regan. Si pemilik lengan berusaha menariknya, tapi Nesa begitu kuat mendekapnya.
"Aduh kalian memang paling serasi dari dulu. Re, beri kesempatan Nesa untuk memulai kembali kebersamaan kalian seperti dulu," ucap Wika ketika melihat Nesa dan Regan terlihat mesra, padahal aslinya Regan terpaksa.
Kiana hanya melirik sekilas saat suaminya digandeng sang mantan, mau bereaksi berlebihan seketika teringat posisinya hanya istri kontrak.
"Terima kasih Tante, doakan saja kami bisa kembali seperti dulu, iya 'kan Sayang?" Nesa tidak mau hilang kesempatan mulai memploklamirkan kedekatannya lagi dengan Regan, ketika dukungan Wika sudah didapat.
"Sama-sama Sayang, duduklah kita mulai makan malamnya."
Nesa semakin berani menunjukan kuasanya atas Regan, beberapa kali wanita yang memang belum menikah itu menyuapi Regan, tentu Regan menerima dengan terpaksa karena tidak mau membuat ibunya kecewa yang pasti akan berakibat pada kesehatannya.
"Ki, bisa minta tolong tambah sambal kacangnya," pinta Regan pada Kiana yang masih berdiri tak jauh dari tempat jamuan makan malam, dan bisa menyaksikan semuanya.
"Nggak usah, biar aku yang ambilkan," sambar Nesa cepat. Kiana hanya mengangguk dengan seulas senyum dipaksakan.
"Ya Allah, sampai kapan hamba harus ada di posisi ini? Jika memang pernikahan ini baik untuk kami, hamba mohon perbaiki semuanya, tapi jika pernikahan ini salah, tolong bantu hamba terlepas dari belenggunya. Hamba tahu Engkau mebenci perceraian, tapi hati ini terlalu rapuh harus menyaksikan lelaki yang menikahi hamba bermesraan dengan wanita lain di depan mata kepala hamba," rintih batin Kiana berusaha tegar, padahal pandangannya sudah mengabur karena genangan air mata.
"Ki, Kiana! Ada apa? Dipanggil dari tadi hanya diam?" Surya Prayogo menegur Kiana yang tidak merespon panggilannya.
"Eh, i-ya Tu-an, maaf. Tuan butuh apa?" jawab Kiana terkejut dan sedikit tergagap.
"Ki, kalau masih kurang enak badan kamu istirahat saja," potong Dirga cepat melihat wajah pucat Kiana.
"Kamu sakit?" tanya Surya.
"Saya nggak pa-pa Tuan, mungkin hanya kecapekan," jawab Kiana hanya menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya merasa bersalah karena kedapatan melamun saat bekerja.
"Kalau memang sakit istirahatlah, kami tidak sekejam itu pada para pegawai, Ki. Wajah kamu juga terlihat pucat begitu. Sudah istirahat saja sana, nanti biar Nani dibantu Rumini." Wika ikut angkat bicara.
Kalau boleh jujur, kepala Kiana memang tiba-tiba terasa pusing sekali, pandangannya juga sedikit berkunang-kunang. Rasanya juga tidak sanggup berdiri, belum menjawab peemintaan Wika, tubuh Kiana sudah limbung dan hampir tejatuh, beruntung dirinya masih bisa berpegangan pada alamari yang ada di dekatnya.
Dirga juga Regan yang melihat Kiana hampir terjatuh reflek berdiri dari tempatnya lalu mendekati Kiana. Dirga sedikit memelankan langkah begitu tahu kakaknya juga sigap akan menolong Kiana.
"Kamu istirahat saja, jangan bandel," omel Regan, entah kenapa dirinya bisa bergerak cepat saat melihat istrinya hampir terjatuh, padahal tidak ada rasa suka dalam hatinya.
Kiana hanya diam saja dan berusaha berdiri dengan benar dulu sebelum berjalan ke belakang, dengan berpegangan pada apa saja yang ada di dekatnya, kecuali Regan. Baru beberap langkah, tubuhnya langsung merosot tajuh dan Kiana hilang kesadaran.
"Kia!" teriak Regan secepat mungkin menangkap tubuh istrinya yang terjatuh, bersyukur dirinya bisa tepat waktu hingga Kiana tidak sampai benar-benar tergeletak di lantai.
Regan mengangkat tubuh Kiana lalu dibawanya ke kamar tamu, yang letaknya lebih dekat dengan posisinya saat ini dari pada kamar istrinya di belakang sana. Wika mengekor langkah Regan memasuki kamar tamu, ada rasa khawatir saat pegawai kepercayaannya sampai pingsan begitu.
"Mam, jangan forsir anak-anak dengan kerjaan, kalau memang waktunya istirahat ya biarkan mereka istirahat, kalau sampai begini kasihan mereka, kita juga nanti yang repot," tegur Surya pada sang istri.
"Mami juga sudah memperlakukan mereka dengan baik, Pi. Tidak pernah mami memberikan pekerjaan terlalu berat untuk mereka, makanya nggak hanya Kiana yang mami pekerjakan, masih ada Nani, belum lagi sesekali Rumini kita panggil ke sini," terang Wika membela diri.
Regan menbaringkan Kiana perlahan di ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sebatas d**a. Ditepuknya pelan pipi istrinya itu beberapa kali, berusaha membuatnya sadar kembali.
"Mam, Pap, sudah jangan ribut, kasihan Kiana," tegur Dirga yang baru saja masuk ke kamar tamu lalu mendekati Regan.
"Mas, aku sudah panggil Dokter Diyah, mungkin sebentar lagi sampai, kebetulan beliau sedang perjalan pulang dari tempat praktik." Lanjut Dirga menerangkan.
"Kamu tahu Kiana sakit sejak kapan?" Regan menatap adiknya.
"Tadi pagi nggak sengaja ketemu Kiana belanja di supermarket, wajahnya pucat, katanya juga pusing. Pulang dari belanja aku sudah memintanya untuk istirahat, ternyata harus menyiapkan jamuan makan malam menyambut kedatangan Tuan Putri," sindir Dirga sambil melirik tajam ke arah Nesa yang hanya berdiri di ambang pintu kamar.
Nesa yang mendapat lirikan tajam juga sindiran Dirga hanya mencebik, lalu membuang muka, tak mau terlalu lama beradu pandang dengan lelaki yang memang dari dulu sudah menunjukan rasa tidak sukanya.
Kiana terlihat mengerjapakan kelopak matanya beberapa kali, dan Regan melihat pergerakan kecil jemari istrinya.
"Ki, gimana? Pelan-pelan, jangan bangun dulu," ucap Regan tiba-tiba bersikap lembut. Entah apa yang membuatnya berubah, padahal biasanya selalu berkata ketus saat berhadapan dengan Kiana, terlebih setelah malam panas yang tak sengaja mereka lakukan.
"Saya kenapa?" tanya Kiana menatap orang-orang berkumpul di ruangan yang sama, pandangannya menelisik, kalau saat ini dirinya sedang ada di kamar tamu, tapi apa yang terjadi dia berusaha mengingatnya.
"Kamu pingsan, makanya saya bawa ke sini," terang Regan.
"Ping-san?" Ulang Kiana berusaha merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
"Pelan-pelan, jangan dipaksa." Regan membantu Kiana bersandar di haedboard ranjang, dan membetulkan posisi bantal supaya punggung istrinya nyaman.
Jarak keduanya begitu dekat, Kiana bisa mengirup aroma tubuh bercampur parfum yang begitu menenangkan, hingga rasa pusingnya berangsur hilang. Regan yang merasa kalau bau badan Kiana kurang bikin nyaman tetap dia tahan, rasanya enggan saja menjaug dari wanita yang dinikahinya secara kontrak itu.
"Ini apa ya Allah? Kenapa rasanya nyaman sekali berdekatan dengan Mas Regan?" tanya batin Kiana.
"Perasaan apa ini? Aroma badannya begitu menyengat, tapi kenapa aku justru enggan rasanya menjauh?" Hati Regan bertanya-tanya. Pandangan Regan terfokus hanya pada sang istri.
Bersambung.