Dokter Diyah mengulas senyum saat mendekati Kiana untuk memeriksanya. Regan sedikit menjauh untuk memberi ruang dokter keluarga Prayogo itu.
"Maaf apa bisa tinggalkan kami saja, supaya pasien bisa lebih nyaman saat dilakukan pemeriksaan," ucap Dokter Diyah pada anggota keluarga Prayogo yang ada.
Dirga langsung beranjak menjauh, sedang Nesa sudah dari tadi kembali ke ruang makan, seolah tidak peduli dengan kondisi Kiana. Surya juga Wika menyusul Dirga, walau sesekali Wika menoleh ke belakang seakan enggan beranjak, Regan sendiri tetap terpaku di tempatnya. Biar bagaimanapun Kiana adalah tanggung jawabnya.
"Mas Regan?" tanya Dokter Diyah menatap Regan dengan tanda tanya, saat sulung keluarga ini masih belum beranjak.
"Kiana tanggung jawab saya, Dok, jadi silahkan mulai saja pemeriksaannya." Regan seakan tahu apa yang ada di benak wanita berambut sebatas bahu itu.
"Baiklah kalau begitu, permisi Mbak Kia, saya mulai periksa ya," izin Dokter Diyah memasang stetoskop ke telinganya lalu menjalakan tugasnya dengan teliti.
"Sering mual? Kapan terakhir haid?" tanya Dokter Diyah di akhir kegiatannya.
"Baru hari ini, Dok. Rasanya juga pusing timbul hilang. Kalau terakhir haid tanggal 10 bulan kemarin, Dok," jawab Kiana apa adanya.
"Maaf Mas Regan, bisa minta tolong panggilkan suami Mbak Kiana, saya ingin bicara dengan beliau," pinta Dokter Diyah.
Kiana langsung menatap Regan yang juga sedang memandangnya. Kiana langsung memutuskan pandangan melihat ke arah lain.
"Saya suaminya, Dok. Ada apa dengan Kiana," jawab Regan tegas tanpa ada kerguan sama sekali dari nada bicaranya.
Kiana cukup terkejut dengan ucapan Regan, tanpa sadar bibirnya tertarik sedikit, ada rasa hangat menjalari hatinya, sebuah pengakuan yang membuatnya merasa diakui. Dokter Diyah lebih terkejut lagi dengan pengakuan Regan, karena setaunya lelaki di hadapannya masih berstatus duda dan belum ada kabar pernikahan dari keluarga ini smapai ke telinganya.
"Oh, begini Mas, ini hanya hasil pemeriksaan sementara saya, untuk memastikan sebaiknya Mbak Kiana dibawa ke dokter kandungan supaya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," terang Dokter Diyah sambil menulis sesuatu di atas kertas.
"Ini surat pengantar untuk periksa ke dokter kandungan dan ini resep vitamin untuk Mbak Kiana, mungkin nanti juga akan mendapat vitamin yang hampir sama dengan ini atau bisa dikonsulkan dulu dengan dokter kandungannya. Dijaga kondisinya ya, Mbak, masih rentan soalnya."
"Iya Dok, terima kasih." Kiana tersenyum canggung pada Dokter Diyah. Sedang Regan menerima dua lembar kertas dari dokter hanya diam terpaku.
"Mas Regan...," panggil Dokter Diyah.
"Eh, iya Dok. Jadi ini maksudnya bagaimana?" Regan masih belum paham atau memang agak syok dengan hasil pemeriksaan kondisi Kiana yang mungkin di luar prediksinya.
"Mbak Kiana hamil, Mas Regan in sya Allah akan jadi seorang ayah. Selamat untuk kalian berdua." Dokter Diyah tersenyum maklum kalau pasangan muda sedikit terkejut dengan kabar yang sebenarnya membahagiakan.
"Ha-mil? Kia hamil, Dok?" ucap Regan seakan tidak percaya. Dokter Diyah mengangguk meyakinkan.
"Saya permisi, Mas, Mbak." Dokter Diyah beranjak dari kamar meninggalkan pasangan suami istri yang masih sama-sama bingung dengan kabar akan bertambahnya personil dalam rumah tangga mereka.
"Kok kamu bisa cepet hamil, Ki? Kamu nggak selingkuh 'kan?" cecar Regan begitu tersadar dari rasa terkejutnya.
"Maksud Tuan apa?" Kiana cukup terkejut dengan tuduhan Regan yang sangat tidak masuk akal dan tanpa dasar.
"Siapa tahu kamu juga melakukan dengan lelaki lain selain dengan saya. Di pernikahan saya yang dulu bahkan sampai dua tahun belum juga menghasilkan anak, ini kita baru melakukan sekali kok bisa langsung jadi?"
Perkataan Regan menggores hati Kiana begitu dalam. Dia hanya bisa memejamkan mata, menarik napas dalam lalu membuangnya dengan kasar. Perlahan Kiana beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu.
"Yang menjadikan pernikahan ini ada siapa? Anda lupa apa alasan Tuan menawarkan pernikahan ini? Atau perlu saya ingatkan? Anda membutuhkan keturunan, sudah ingat?" ucap Kiana pelan penuh penekanan dalam setiap katanya, sambil telunjuknya menekankan-nekan d**a bidang Regan.
"Saya masih ingat, hanya saja saya ragu apa itu benar anak saya atau bukan." Regan menatap Kiana dingin.
"Tuan yang pertama merenggut kesucian saya malam itu, bahkan noda darahnya masih membekas di seprei. Apa Tuan juga lupa akan hal itu? Kalau memang Tuan ragu dengan anak ini silahkan lakukan tes DNA, tapi jika hasilnya positif dia anak Tuan, jangan harap bisa menemuinya apalagi mengakuinya sebagai anak."
Kali ini Kiana bersikap tegas atas semua luka yang telah dia terima dari Regan. Tidak lagi mau mengalah, tidak lagi hanya diam atas penghinaan juga tuduhan yang dilontarkan lelaki yang seharusnya melindunginya, memberikan kenyamanan, kebahagiaan bukan torehan luka begitu dalam.
Lelah rasanya selalu dihina, dibentak, dituduh tanpa bukti, bahkan bukan dirinya yang meminta adanya pernikahan ini, walau tak dipungkiri kalau memang saat itu dia butuh uang, tapi tidak seharusnya Regan memperlakukannya dengan tidak baik, kalau memamg tidak ada cinta di antara mereka.
Kiana gegas keluar dari kamar tamu, meninggalkan Regan yang masih bergeming di tempatnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Ki, gimana keadaan kamu?" Wika mendekati Kiana yang tampak buru-buru berjalan ke arah dapur.
"Alhamdulillah sudah mendingan, Nyonya. Maaf kalau saya sudah membuat kekacauan." Kiana merasa tidak enak hati atas kejadian yang sebenarnya tidak dia sengaja.
"Nggak pa-pa, namanya juga musibah. Kamu istirahat gih, saya sudah panggil Rumini untuk membantu Nani sampai tiga hari ke depan. Pokoknya kamu sehatkan dulu badan kamu, ya." Wika mengusap lembut lengan Kiana.
"Iya Nya, sekali lagi saya mohon maaf, dan terima kasih sudah diberi libur. Kalau sudah baikan nanti saya tetap bantu-bantu Nani."
"Nggak usah dipikir kerjaanya, udah ada yang handel. Sudah nurut aja, istirahat sampai benar-benar sembuh."
Kiana akhirnya izin ke kamar untuk beristirahat. Pikirannya sangat lelah, dan ingin segera merebahkan tubuhnya.
Regan yang baru keluar dari kamar tamu langsung mencari keberadaan Kiana. Wika yang melihat putranya seperti orang bingung gegas mendekat.
"Ada apa Re?"
"Kiana mana, Mam?"
"Mami suruh istirahat, memang dokter bilang apa tentang kondisi Kiana?"
"Nggak ada, hanya mau kasih pengantar sama resepnya."
"Sini biar mami aja yang kasih, nanti resepnya biar dibelikan Pak Hardi ke apotik."
Wika dengan cepat mengambil lembaran kertas dari tangan Regan, sampai anak lelakinya terlambat menahanya.
"Sakit apa sih itu anak kok sampai diberi pengantar segala? Semoga bukan penyakit yang berbahaya." Wika membuka lipatan kertas untuk dibacanya, Regan jelas panik kalau ibunya sampai tahu kemana Kiana dirujuk, bisa kacau semuanya.
"Mam jangan dibuka, nggak sopan kesannya kalau dokter yang dituju belum membaca, tapi malah keduluan kita." Regan berusaha mencegah ibunya supaya tidak melanjutkan mencari tahu.
"Nggak pa-pa, mami hanya pengen tahu saja."
Bersambung.