Bab 11. Keceplosan

1031 Kata
Regan paniknya setengah mati, saat ini belum siap rasanya kalau pernikahan yang dijalani diketahui orangtuanya. Jelas pasti dirinya akan diamuk, terutama oleh ibunya. Sebisa mungkin Regan berusaha meminta kembali surat rujukan Kiana, kalau masalah resep obat terselah mau diapakan, yang jelas jangan sampai ketahuan kalau Kiana sedang hamil. "Tante, aku pamit dulu saja, kebetulan besok ada fligh pagi, mau ke Singapur." Tiba-tiba Nesa izin pamit. "Loh kok udah pulang? Masih sore ini Nes, tante juga masih kangen ngobrol sama kamu. Maaf kalau ada sedikit inseden tadi." Wika langsung terfokus pada wanita yang begitu diinginkan menjadi istri sulung kebanggaan keluarganya. "Next time aku akan ke sini lagi, Te. Kita juga bisa nyalon bareng nanti. Kebelutan diminta bantu teman yang mau buka butik di sana. Nanti aku akan ajak Tante ke sana, koleksi baju juga tasnya bagus-bagus, nggak kalah sama yang branded." "Bolehlah, kalau begitu hati-hati ya, sering kirim kabar sama tante ya." "Pasti Te." "Alhamdulillah," ucap Regan pelan, tangannya bergerak cepat mengambil lembar rujukan yang diletakkan Wika di atas meja kecil tak jauh dari tempatnya bediri. Secepat mungkin segera dia amankan ke dalam saku celananya. Sikap Regan tak luput dari atensi Dirga yang hanya tersenyum sambil geleng-geleng. "Takut banget ketahuan, Mas?" ucap Dirga begitu mereka tinggal berdua di ruang makan. "Mau disembunyikan seperti apa, suatu saat pasti akan ketahuan juga, lebih baik jujur saja."Lanjut Dirga seakan tahu tentang sesuatu. "Kamu itu ngomong apa? Urus aja urusanmu sendiri, nggak usah ikut campur kehidupanku." "Kalau Mas dzolim pada apa yang seharusnya Mas jaga, jelas aku akan ikut campur. Pertimbangkan saranku tadi." Dirga beranjak ke kamar setelah menepuk bahu kakaknya beberapa kali. "Ngomong apa sih itu anak? Atau jangan-jangan dia tahu tentang pernikahanku? Arrgg, pusing!" Regan gegas mencari Kiana ke kamarnya. Diketuknya pelan pintu kamar yang tertempel tulisan kaligrafi assalamualaikum. Dua kali ketukan belum ada jawaban dari penghuni kamar, akhirnya Regan membuka perlahan pintu kamar istrinya. Gelap, itu yang pertama dilihat Regan. Tanganya mencari saklar lalu menghidupkan lampunya. Kiana meringkuk di balik selimut kain batik tipis, tirai jendela masih terbuka. Regan lantas menutupnya. "Apa selelah itu kamu sampai menyalakan lampu dan menutup tirai jendela saja nggak sempat?" Regan duduk di tepi ranjang, mengamati wajah Kiana yang terlihat damai saat tertidur. Tangannya terulur membetulkan beberapa helai rambut yang menjuntai ke wajah cantik itu. Lama Regan hanya diam sambil menatap Kiana tanpa melakukan apa-apa. Hati kecilnya ingin sekali berbaring di samping sang istri, tidur berdua sambil memeluk wanita itu, tapi gengsinya masih setinggi puncak Rinjani. Dihelanya napas sesaat, lalu mengeluarkan surat rujukan dari saku celananya, menyimpannya di atas meja kecil, ditindih tempat bedak tabur supaya tidak tercecer saat ada angin. Sebelum beranjak, Regan menatap perut Kiana yang masih rata, keraguan masih begitu kuat mengungkung hatinya, belum bisa percaya kalau dalam perut Kiana sedang tumbuh benih premiumnya. "Aku mandul, lalu anak siapa yang ada dalam rahim kamu?" ucap Regan lirih sambil tak henti menapa Kiana. "Apa memang nasibku harus terus terkhianati, bahkan walau hanya dalam pernikahan kontrak." Regan terus meracau dengan rasa kecewa juga sakit hati karena mengalami pengkhianatan lagi. *** Penat dengan pikirannya sendiri, Regan melarikan mobilnya ke sebuah bar. Memesan minumann yang sebenarnya sudah lama dia tinggalkan. Namun, kini saat rasa kecewa juga sakit hati lagi-lagi menyapa hidupnya, cairan yang bisa menghilangkan kesadaran menjadi pelariannya. Regan bukan tipe orang dengan toleransi alkohol tinggi sebenarnya, minum satu botol saja sudah tumbang, tapi kadang kenekatannya lebih menguasai logikanya. "Siapa ini yang menyempatkan mampir? Regan... Regan, masih sore udah mabok aja." Arnold kebetulan baru datang dan melihat Regan duduk di bangku depan meja bar langsung menghampiri. Regan hanya menoleh sekilas, setelah melihat siapa yang menyapanya kembali menekuri gelas berisi cairan yang rasanya bisa membakar kerongkongan. "Ada masalah apa sampai Yang Mulia Baginda Regan banyak minum begini?" Arnold duduk di samping Regan menikmati minuman yang disiapkan bartender. "Aku dikhianati istriku lagi. Kali ini bahkan sampai hamil," oceh Regan sedikit terlalu jelas. Arnold sampai harus mendekatkan dirinya pada Regan. "Ngomong apa sih? Siapa yang dikhianati?" Regan menarik telinga Arnold lalu mengulang apa yang dia katakan tadi, dan membuat lelaki keturunan Tiong Hua itu terkejut. "Bukannya Luna sudah meninggal beberap tahun lalu, saat mengalami kecelakaan dengan selingkuhannya? Wah, pikiranmu jadi ngacau begini kalau sudah minum. Ayo aku antar pulang saja." Arnold yang awalnya datang berniat cari hiburang, refreshing malah ketemu Regan yang udah mabuk berat. Dibantu seorang keamanan bar, Arnold membawa Regan masuk ke dalam mobil Regan, sedang mobilnya diurus anak buahnya. Dalam perjalanan Regan masih sesekali meracau, menyebut nama Kiana. Menuduh istrinya itu berkhianat. Arnold menghubungi Robi untuk membantunya mengurus Regan setelah sampai di rumah. Bersyukur asisten Regan itu sedang mobile tak jauh dari kediaman atasannya. Robi sudah menunggu di gerbang saat mobil Regan yang dikemudikam Arnold mulai mendekat. "Langsung masuk garasi saja, Pak." Robi meminta Arnold sekalian memasukan mobil Regan ke garasi. Di belakangnya mobil Arnold mengikuti dan diparkir di halaman. "Rob, bos kamu ada masalah apa sampai kumat lagi mabuknya?" tanya Arnold pada Robi saat mereka mengeluarkan Regan dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah. "Sepertinya semua baik-baik saja, Pak." "Dia tadi meracau, ngomong dikhianati lagi, mana sampai hamil. Memang bosmu ada hubungan sama perempuan mana, sampai secinta ini?" Arnold jelas penasaran, karena biasanya dia yang pertama tahu kisah hidup sabahatnya sejak zaman pertama kali jadi mahasiswa. "Dikhianati? Sampai hamil? Apa Mbak Kiana sedang hamil ya? Terus siapa yang berkhianat? Masak iya Mbak Kiana selingkuh?" Pikiran Robi seketika dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan Regan dan Kiana. "Rob! Heh, malam bengong, buruan bawa ke kamarnya, berat ini bosmu!" Suara Arnold membuyarkan lamuna singkat Robi. "I-ya Pak, maaf." Sesampainya di kamar Regan, kedua lelaki itu membaringkan tubuh tegap terlatih ke atas ranjang, Robi gegas beranjak keluar kamar. "Sebentar saya panggilkan istri Pak Regan dulu." Tanpa sadar Robi kelepasan omong, dan langsung menutup mulutnya. Arnold yang mendengar dengan jelas asisten pribadi sahabatnya itu menyebut kata istri Pak Regan, segera mendekat dengan tatapan tajam, seakan menuntut penjelasan. Robi tahu apa yang akan terjadi segera balin kanan, meninggalkan kamar Regan. "Robi sialan!" umpat Arnold merasa dibodohi karena sampai tidak tahu fase terbaru kehidupan Regan. "Heh, sahabat laknat! Apa yang berusaha kamu sembunyikan dari aku? Katanya teman sehidup dunia akhirat, nayatanya kamu merahasiakan apa dari aku, hah?!" Arnold menepuk-nepuk pipi Regan. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN