Robi menghubungi Kiana lewat ponsel untuk membangunkannya. Kalau mau mengetuk pintu kamarnya ada rasa sungkan, biar bagaimanapun Kiana adalah istri atasannya.
"Mbak Kiana apa sudah tidur ya, tapi kok nyenyak banget ya, sampai HP bunyi nggak kedengeran," gerutu Robi karena beberapa kali panggilan tidak segera mendapat respon dari Kiana.
Dengan rasa jengkel akhirnya Robi mendatangi kamar Kiana, diketuknya beberapa kali pintu kamar yang tertutup rapat. Hingga selang sekitar dua menit, Kiana muncul dari balik pintu.
"Eh, Pak Robi, ada apa ya?" Suara Kiana terdengar serak, pertanda baru bangun tidur.
"Maaf kalau mengganggu tidur Mbak Kia, itu Pak Regan mabuk lagi. Tolong dibantu ganti bajunya ya."
"Lagi? Besok-besok kalau mau mabuk jangan boleh, Pak. Selain nambah dosa juga bikin repot orang lain," omel Kiana sambil berjalan mendahului Robi.
"Iya Mbak, maaf." Robi yang tidak tahu apa-apa hanya bisa garuk-garuk kepala.
Kiana masuk kamar Regan masih sambil ngomel-ngomel tanpa tahu kalau di dalam masih ada Arnold.
"Besok-besok lagi nggak usah dibawa pulang, biar saja tidur di jalanan sana, Pak Robi. Udah tahu minum alkohol itu dosa masih aja diulangi lagi, bebal kok dipelihara."
Arnold melongo saat Kiana masuk sambil nyerocos tanpa henti, membukan almari pakaian lalu mengambil baju ganti untuk Regan. Masuk kamar mandi, keluar lagi sudah membawa baskom berisi air juga handuk dan waslap. Kiana cukup cekatan membuka baju dan mengelap tubuh suaminya, lalu menganti dengan piyama.
"Beres, udah galak, jutek, nyusahin lagi. Untung mulai sayang, kalau nggak udah aku siram pakai air sebaskom kamu, Mas-mas." Kiana masih saja ngedumel, seperti nggak ada capeknya.
Arnold sedari tadi memperhatikan semua kegiatan Kiana tanpa suara, bahkan ketika Robi ingin memberi tahu Kiana tentang keberadaannya, justru dicegah. Entah apa yang ada dalam pikiran sahabat Regan itu, saat menyaksikan seorang wanita cantik mengurus sahabatnya dengan telaten sambil ngomel.
"A-nda siapa?" pekik Kiana terkejut begitu melihat Arnold yang duduk di kursi kerja Regan.
"Pak Robi!" panggil Kiana meminta penjelasan.
"Beliau Pak Arnold, sahabat Pak Regan. Tadi beliau yang menghubungi saya untuk membantunya mebawa pulang Pak Regan," terang Robi.
"Anda yang ajak mabuk pasti? Besok lagi oplos aja sekalian sama obat anti nyamuk biar pindah alam sekalian," cecar Kiana menatap tajam Arnold.
"Wow... galak juga ibu negaranya Regan. Sahabat saya ini memang butuh pendamping yang tegas seperti kamu. Salut juga sama kamu bisa membuat Regan sampai kumat karena galau. Salam kenal dari saya, Arnold. Kalau dia macam-macam dan menyakiti kamu, bilang saya. Jaga baik-baik suami kamu, di luar sana banyak wewe gombel yang silau harta mengincar suami kamu, saya permisi. Selamat malam, selamat beristirahat Nyonya Regan Evandaru." Arnold meninggalkan kamar Regan meninggalkan Kiana dengan rasa terkejutnya, kenapa sampai lelaki yang mengaku sebagai sahabat suaminya tahu tentang statusnya, padahal seingatnya lelaki itu tidak hadir saat pernikahannya.
"Mbak Kia, saya juga pamit. Assalamualaikum."
"Eh, iya Pak Robi, terima kasih. Waalaikumsalam."
Sepeninggal Robi dan Arnold, Kiana juga ikut keluar. Ditutupnya pintu kamar Regan dan segera kembali ke kamarnya. Matanya mulai mengantuk lagi. Sampai di kamar, pandangan Kiana tertuju pada kertas yang tertindih tempat bedak.
"Apa ini?"
Dibukanya lembaran kertas yang ternyata surat rujukan untuk periksa ke dokter kandungan.
"Assalamualaikum, Nak. Kalau memang kamu sudah hadir di rahim ibu, tumbuh dengan baik dan sehat ya. Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari kisah hidup ibu." Kiana mengelus perutnya yang masih rata dan mulai mengajak bicara embrio yang ada di dalamnya setelah membaca lalu menyimpan surat rujukan dari dokter.
***
Kiana keluar kamar setelah selesai solat subuh. Menyiapkan bahan makan untuk sarapan suaminya. Regan memang agak sedikit rewel kalau urusan makan setelah mulai tidak mengkonsumsi nasi, mengurangi minyak, juga gula dan garam. Apalagi micin, sudah tidak ada dalam makanan yang dikonsumsinya.
Belum selesai membuat sarapan untuk Regan, perut Kiana terasa mual. Tanpa membuang waktu, gegas dirinya berlari ke kamar mandi. Sampai kamar mandi nyatanya tidak ada yang dikelurkan selain hanya cairan kekuningan dan terasa pahit. Tubuh Kiana langsung lemas, hingga terduduk di atas kloset.
"Sayang, kerja sama yuk dengan ibu. Kita belum selesai bikin sarapan untuk ayah lo. Maaf ya kalau kamu harus ikut ibu kerja. Kalau hanya tiduran siapa yang akan mebuat sarapan juga makan siang ayah." Kiana mengajak bicara calon anaknya lagi, sambil mengusap-usap perutnya. Berharap kehidupan baru dalam rahimnya paham dengan apa yang dikatakan.
"Ki, kamu pucat sekali. Sudah istirahat saja sana, biar sarapan Regan saya buatkan," ucap Wika saat Kiana kembali ke dapur, setelah dari kamar mandi.
"Tinggal kupas telur sama siapkan salad dresing saja, Nya. Untuk bekal juga sudah siap, hanya belum saya plating," balas Kiana melanjutkan pekerjaannya.
"Sudah biar saya lanjutkan, istirahat sana. Ngeri saya kalau kamu pingsan lagi seperti semalam, dikira saya terlalu memakasa kamu untuk tetap kerja saat sakit." Wika kali ini memaksa Kiana sampai mengantarkan kembali ke kamarnya.
Kiana terpaksa menurut apa kata majikan sekaligus mertuanya. Bukan maksud abai dengan pesan dokter juga saran dari Wika, hanya tanggung jawab sebagai istri tetap harus dilaksanakan walau suaminya hanya memberikan luka, bukan bahagia.
Tidak ada kegiatan apapun di kamar, akhirnga Kiana beberes kamarnya. Menyusun ulanh pernak-pernik dan perlengkapan pribadi yang tidak seberapa banyaknya, juga mensortir baju-baju lama yang sudah tidak dia pakai, tapi masih bagus, biasanya akan diberikan pada adik bungsunya.
"Ya Allah, sampai lupa kalau harus ke rumah sakit," celetuk Kiana begitu melihat surat rujukan yang dia simpan semalam.
Begitu selesai beberes, Kiana keluar kamar mencari Wika untuk meminta izin pergi ke rumah sakit. Rupanya nyonya rumah sedang pergi, hanya ada Dirga yang sedang berolahraga.
"Mami keluar, Ki. Biasa arisan, ada apa nyari mami?"
"Mau izin ke rumah sakit, Tuan."
"Aku habis ini berangkat pemotretan, apa sekalian aku antar, gimana?"
"Nggak usah Tuan, nanti merepotkan. Saya naik trans saja dari depan," tolak Kiana.
"Jangan, kamu pakai taksi saja," saran Dirga sambil mengutak-atik poselnya.
"Untuk ongkos udah aku transfer, nggak menerima penolakan, oke. Aku mandi dulu, kamu hati-hati, sekarang nggak hanya kamu sendiri yang harus dijaga." Dirga meninggalkan Kiana yang belum sempat membuka suara.
"Ya Allah, Tuan Dirga begitu baik dan perhatian, berbeda sekali dengan kakaknya, sudah seperti langit dan bumi, gelap dan terang. Kamu jangan ikut-ikut sikap ayah yang jelek ya, Nak. Ambil yang baik-baik saja." Kiana kembali ke kamar sambil mengusap perutnya.
Sebuah mobil berhenti di depan Kiana saat sedang menunggu taksi online yang dipesannya. Kaca bagian depan perlahan terbuka dan menampakan siapa yang ada di dalamnya.
"Ki, mau kemana?"
Bersambung.