Bab 13. Twins

1050 Kata
Cukup lama Kiana menunggu taksi online yang dipesannya hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti percis di depannya. Kaca mobil bagain depan terbuka perhalan hingga menampakan siapa yang ada di dalamnya. "Ki, mau kemana?" "Eh, Tuan Aldi. Mau ke rumah sakit." "Ayo aku antar," ajak pengendara mobil tersebut. "Terima kasih Tuan, saya sudah pesan taksi. Mungkin sebentar lagi sampai," tolak Kiana halus. "Ayo naik, nanti taksinya diganti saja ongkosnya." Tiba-tiba kaca mobil bagian belakang terbuka, menampilkan sosok pemilik perusahan besar Wijaya Grup. "Ka-kek?" sapa Kiana terkejut. "Apa kamu juga akan menolak orang tau ini, hem?" "Ti-dak Kek, sebentar saya beri ongkos taksinya dulu, kebetulan itu sudah sampai." Kiana akan beranjak, tapi kedulun Aldi turun dari mobil. "Ki, kamu masuk saja, biar saya yang urus taksinya." Kiana akhirnya masuk ke dalam mobil. Duduk di depan, bersebelahan dengan Aldi. Sungkan rasanya dan terkesan lancang kalau dirinya harus duduk di samping Wijaya. Walaupun tidak ada aturan tertulis untuk hal itu, tapi tetap saja Kiana harus sadar diri akan posisinya. "Kamu sakit?" Wijaya membuka percakapan begitu Aldi melajukan mobilnya. "Agak kurang enak badan, Kek." "Anak nakal itu kemana sampai kamu harus berangkat naik taksi?" Wijaya terlihat gusar mendapati sikap Regan yang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya. "Mas Regan buru-buru berangkat pagi, Kek. Lagian saya yang mau berangkat sendiri, takut Mas Regan ada pekerjaan penting." Kiana selalu menutupi sikap buruk suaminya di hadapan sang kakek. "Kamu mau periksa apa? Sudah ada janji dengan dokter?" "Belum Kek, baru kali ini mau periksa ke dokter kandungan." "Kamu hamil? Alhamdulillah, akhirnya ada calon penerus Wijaya." Wajah lelaki sepuh itu langsung semringah. "Al, bagikan bonus untuk semua karyawan perusahaan, hubungi Dokter Anik, buatkan janji sekarang," perintah Wijaya penuh semangat. "Ta-pi Kek, ini juga baru mau diperiksa, sa--" "Saya yakin kamu hamil, jadi tenang saja. Nanti biar saya temani kamu periksa. Biarkan anak nakal itu kehilangan moment melihat calon penerusnya untuk pertama kali." Wijaya terkekeh, kebahagiaan jelas tergambar di sorot matanya. "Selamat ya, Ki. Semoga kalian sehat selalu sampai waktunya melahirkan nanti," ucap Aldi tulus, dan lelaki di sampingnya adalah orang pertama yang memberinya selamat. "Aamiin, terima kasih." Kiana ikut terharu melihat senyum semringah di wajah kakek suaminya. Wijaya disambut langsung direktur rumah sakit saat tiba di sana. Kiana specles dengan hal ini, baru kali ini dirinya diperlakukan secara istimewa. Paling tidak ada hikmah terpaksa nikah karena kepepet butuh uang, ikut merasakan privilege nama besar Wijaya. Kiana adalah the real Upik Abu. "Selamat datang Tuan Wijaya, sungguh satu kehormatan bagi kami kiranya Anda memilih dan mempercayai rumah sakit serta dokter obgyn kami untuk membersamai tumbuh kembang calon penerus Keluarga Wijaya." "Terima kasih untuk sambutannya, saya rasa ini agak berlebihan. Perlakukan kami seperti pasien lainnya saja." Wijaya paham kalau Kiana agak tidak nyaman perlakuan istimewa ini. "Pemilik 40% saham rumah sakit masak harus diperlakukan biasa, apa nanti kata mitra kerja kami." "Cucu menantu saya agak kurang nyaman kalau diistimewakan seperti ini, bukan begitu, Nak?" Wijaya to the point memberitahukan keresahan hati Kiana. "I-ya Kek, mohon maaf sebelumnya, bukan maksud tidak menghargai Dokter dan sejawat, tapi kalau bisa nggak perlu ada penyambutan begini," ucap Kiana sopan dan sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata, membuat Wijaya kagum. Orang yang tidak mengenalnya pasti tidak percaya kalau background pekerjaan Kiana seorang ART. "Tak salah Regan memilih istri. Kiana berlian yang tertutup lumpur kemiskinan. Cantik, cerdas, akhlaknya baik, sopan, siapa kira kalau dia hanya lulusan SMK," batin Wijaya kagum menatap istri cucu kesayangannya. "Ah, saya paham. Kami mohon maaf dengan ketidak nyamanan ini. Perkenalkan ini Dokter Anik yang akan menangani Nona--" "Kiana, Kiana Nadikara," balas Wijaya cepat. "Ya, Nona Kiana. Semoga nyaman dan cocok dengan Dokter Anik." "In sya Allah, terima kasih." Direktur rumah sakit benar-benar mengantarkan Kiana sampai di ruang praktek Dokter Anik, dan tanpa haru menunggu antrian, Kiana langsung dipersilakan masuk untuk melakukan pemeriksaan. "Tuan, ini kita nggak pakai antri?" tanya Kiana pada Aldi. "Tahu 'kan kakek siapa di rumah sakit ini?" jawab Aldi singkat, Kiana hanya mengangguk paham. Kiana mengekor langkah Dokter Anik memasuki ruangan, diikuti Wijaya, sedang Aldi memilih menunggu di luar karena memang tidak ada kepentingan di dalam sana. "Suaminya tidak diajak masuk, Mbak Kiana?" tanya Dokter Anik menyadari keberadaan Aldi yang tidak ada. "Bukan yang itu suaminya, Dok. Yang tadi kakak iparnya, suaminya gila kerja makanya saya luangkan waktu menemani, apalagi ini pemeriksaan pertama kali," terang Wijaya. "O... Baiklah kita mulai saja pemeriksaannya." Dokter Anik menanyakan beberapa hal terkait jadwal period Kiana, lalu memintanya berbaring di bed pemeriksaan untuk melakukan USG. Perawat asisten membantu Kiana menyamankan posisinya, dan memberikan gel di perut Kiana. "Bismilah, kita mulai lihat kantung kehamilannya ya, Mbak." Dokter Anik menempelkan transducer di perut Kiana, lalu menggerakan perlahan. "Alhamdulillah, lingkaran ini kantung kehamilannya. Usia kehamilannya sudah masuk sembilan minggu, masya Allah ada dua ternyata, in sya Allah kemungkinan kembar," terang Dokter Anik menunjukan bagian-bagian yang terpampang di layar monitor. Pandagan Kiana fokus pada layar monitor, tanpa terasa air matanya mulai membasahi pipi, rasa haru bercampur bahagia membuatnya menangis. Masih belum percaya ada kehidupan baru dalam tubuhnya, bahkan bukan hanya satu, tapi dua. Ya, calon anaknya ada dua. "Ki, ada apa?" tanya Wijaya yang melihat wajah cucu menantunya sembab. "Ng-gak Kek, hanya terahu saja, masih belum percaya kalau saya akan jadi seorang ibu, bahkan Allah memberi dua sekaligus." Kiana mengusap jejak air matanya dengan tissue yang diberikan oleh perawat. "Alhamdulillah, rezeki kamu dan Regan. Dijaga baik-baik ya, kakek akan selalu ada di belakangmu." Wijaya menggenggam tangan Kiana. "Iya Kek, terima kasih. Apa mereka tumbuh dengan baik, Dok?" Kiana benar-benar ingin tahu keadaan calon anaknya. "Sejauh ini berkembang sesuai ukuran dan usia. Semoga mereka tumbuh dan berkembang dengan sehat, lengkap tanpa kurang satu apapun. Ibunya juga sehat sampai waknya melahirkan nanti. Dibikin happy terus ya, Mbak. Moodnya dijaga supaya baby twins juga happy di dalam sini," pesan Dokter Anik begitu diperhatikan Kiana, sebagai calon ibu yang belum berpengalaman apa-apa. "Jadi kangen ibu, pengen makan masakan ibu," batin Kiana tiba-tiba teringat ibunya. Selesai pemeriksaan, Wijaya mengajak Kiana untuk makan siang. Masakan padang yang ada tambusunya juga krupuk jangek makanan yang tiba-tiba diinginkan Kiana. Aldi langsung mengarahakan mobilnya ke rumah makan padang sesuai perintah sang kakek. "Makasih ya Kek, sudah nurutin keinginan saya." Sorot mata Kiana berbinar saat melihat berbagai macam masakan khas Padang tertata rapi di atas meja. Wijaya hanya tersenyum melihat wanita yang akan memberikannya buyut. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN