Bab 14. Anak Siapa Dalam Rahimmu?

1069 Kata
"Kenyangnya, makasih Kek," ujar Kiana merasa sangat puas dan kenyang setelah keinginannya makan tambusu dan krupuk jangek dituruti Wijaya. "Alhamdulillah kalau kamu senang, mulai sekarang kalau pengen apa-apa bilang, nanti kalau suami kamu nggak mau nuruti, kamu bisa bilang saya atau minta pada Aldi," pesan Wijaya. "Iya Kek, sekali lagi terima kasih." "Sama-sama, jangan bilang terima kasih terus, nggak capek apa bilang terima kasih dari tadi." "Iya Kek, maaf. Sudah jadi kebiasaan soalnya." Kiana terkekeh dengan protesan Wijaya. "Regan beruntung bisa menikahi wanita sederhana, cantik, cerdas dan bisa mengambil hati kakek." Aldi memandang Kiana dengan tatapan kagum dan hanya bisa mengungkapkan rasanya dalam hati. "Masih kepengen apa lagi sebelum kita pulang?" Wijaya menawarkan pada Kiana kalau bumil sedang pengen sesuatu. Kiana terdiam, menimbang apa harus mengutarakan keinginannya untuk pulang ke rumah, karena tiba-tiba sangan rindu pada ibu juga adik-adiknya. Ada keraguan dalam hati, takut dikira ngelunjak, memanfaatkan kesempatan. "Kia! Kok malah diam? Pengen apa lagi?" Wijaya mengulang pertanyaannya. "Se-benarnya saya pengen pulang, Kek. Kangen sama ibu." Akhirnya Kiana mengungkapkan apa yang ada di hatinya, tentu setelah mempertimbangkan beberapa saat. "Kapan? Nanti mampir ke rumah kakek dulu sebelum berangkat. Kalau Regan nggak mau antar, biar Aldi yang antar kamu. Jangan naik kendaraan umum." "Iya Kek, tunggu jatah saya libur dulu, soalnya sa--" "Kamu masih kerja? Jadi ART? Regan benar-benar keterlaluan!" Suara Wijata terdengar meninggi dan sarat emosi. Kiana memejamkan matanya, yang jelas menyesal karena sudah kelepasan bicara, walau memang kenyataannya seperti itu, tapi sudah membuat masalah untuk suaminya. "Bukan salah Mas Regan, Kek. Saya yang masih mau bekerja untuk mengisi waktu luang." Kiana buru-buru meralat ucapan sebelumnya. Jangan sampai suaminya kena tegur sang kakek karena kesalahan yang tak disadarinya. "Ki, kamu nggak usah belain Regan, kalau memang dia salah yang harus ditegur. Dia nggak bener ya tugas kamu sebagai istri mengingatkan. Tidak selamanya imam keluarga selalu benar, tidak selamanya makmum keluarga selalu salah. Suami istri harus bisa saling mengingatkan dalam kebaikan." Wijaya mengomel tanpa bisa disanggah. Aldi memberi isyarat pada Kiana lewat anggukan, dan Kiana juga membalas dengan gerakan samar yang sama. "Kamu jangan pernah takut sama Regan, kalau memang posisi kamu benar, Ki. Dengar tidak ucapan saya?" "Iya Kek, saya dengar. In sya Allah saya akan lakukan pesan Kakek," jawab Kiana walau tidak yakin akan berani melakukan. Melawan Regan sama saja memupuk subur luka dalam hatinya. "Kamu jadwalkan saja kapan mau pulang, bilang Regan dan minta antara dia, kalau dia nggak mau, kamu hubungi saya, paham Ki?" "Paham Kek, in sya Allah Mas Regan mau mengantar saya." Mobil yang dikemudikan Aldi sudah mulai memasuki gerbang perumahan elit tempat tinggal Keluarga Prayogo. Kiana meminta turun di depan gang menuju rumah mertuanya. "Kamu kenapa minta turun di depan gang? Takut sama mertuamu?" geram Wijaya. "Ma-af Kek, se-benarnya Nyonya dan Tuan belum tahu kalau saya dan Mas Regan sudah menikah," ucap Kiana pelan dan diliputi rasa takut. "Astaqfirullohalazim! Regan benar-benar ya! Kamu juga, apa pantas memanggil mertuamu masih nyonya, tuan begitu? Jangan-jangan kamu manggil Regan dengan sebutan mas hanya di depan saya, iya begitu?" Wijaya tampak murka. Kiana sangat ketakutan dengan amarah Wijaya. "Kek, jangan terlalu keras pada Kiana, ingat dia sedang hamil. Ibu hamil nggak boleh stres, nggak boleh tertekan. Bisa berpengaruh pada kandungannya." Aldi mengingatkan Wijaya tentang kondisi Kiana. "Astaqfirullohalazim, maaf Ki, bukan maksud saya bikin kamu tertekan, saya hanya nggak habis pikir saja kenapa kalian bisa bersikap seperti itu. Kalian seakan-akan mempermainkan ikatan suci sebuah pernikahan." "Maafkan kami, Kek." Suara Kiana terdengar bergetar, matanya telihat memerah, yang jelas saat ini dirinya berusaha mati-matian menahan tangis. "Sudah nggak usah dibahas lagi. Al, antar Kiana sampai rumah," perintah Wijaya tegas tapa bisa dibantah. Sedan hitam keluaran pabrikan Jerman perlahan memasuki halaman rumah Keluarga Prayogo. Degup jantung Kiana jangan ditanya lagi, jelas bekerja dua kali lipat. Bulir-bulir keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya padahal AC mobil sudah menyala sejak tadi. Pikiran bumil sudah tidak karuan, membayangkan apa yang akan terjadi kalau majikannya tahu statusnya kini adalah menantunya. Apalagi dirinya sedang hamil. "Kek--" "Hmm." "Bo-leh saya min-ta tolong?" "Menutupi status kamu dari mertuamu?" sambar Wijaya cepat, lelaki seperti itu yang masih energik untuk ukuran usia beliau itu jelas paham apa yang ada di benak istri cucunya. "I-ya Kek. Nanti biar Mas Regan saja yang memberi tahu tentang pernikahan kami." "Kapan?" Kiana tidak bisa menjawab saat ditanya kepastian, karena memang dirinya ataupun Regan tidak berniat memploklamirkan status mereka pada khalayak, terutama pada pihak keluarga Regan. "Nggak bisa jawab 'kan? Sudah itu nanti jadi urusan saya. Kamu fokus saja sama kesehatan dan kehamilan kamu, jangan sampai kalian kenapa-napa." Wijaya memang harus tegas dan terpaksa ikut campur pada pernikahan cucunya. Kiana menghelakan napas, pasrah kalau kakek suaminya sudah beritah dan mengambil keputusan. Dirinya juga yakin kalau suaminya juga tidak bisa melawan keputusan sang kakek. Suana rumah berlantai dua itu terasa sepi, penghuninya punya kesibukan masing-masing. Baru Kiana menginjakan kaki di ruang tengan, sudah ada Regan menunggu. Dengan tangan bersedekap, tatapan tajamnya seakan membunuh siapa saja yang ada di hadapannya. "Dari mana?" Suara dingin terdengar menyapa telinga Kiana. "Rumah sakit," jawab Kiana tak kalah dingin. "Lalu anak lelaki mana yang ada dalam kandungan kamu? Dari awal saya tidak pernah percaya kalau itu anak saya, jadi urus saja sendiri dan jangan harap mendapat pengakuan juga nama saya." Ucapan Regan sudah sangat keterlaluan, goresan luka di hati Kiana semakin dalam karena suaminya. "Terserah! Mau diakui atau tidak, akhirnya nanti tidak berpengaruh pada kehidupan saya. Sekarang saya tanya, siapa yang menawarkan pernikahan? Siapa yang berharap punya keturunan dari pernikahan ini, saya?" Kiana mengulang pembahasan awal adanya pernikahan di antara mereka. "Lalu setelah di sini mulai ada kehidupan baru, kenapa Tuan menolaknya? Kalau memang tidak mau, harusnya sejak awal tidak usah ngide menawarkan hubungan yang justru banyak melukai saya. Saya akan kembalikan semua uang yang Tuan berikan, sisanya akan saya kembalikan secara berkala." Kiana sudah di titik lelah menghadapi sikap suaminya. Lalu beranjak meninggalkan Regan begitu saja. Regan menatap punggung wanita yang dinikahinya, dengan rasa gamang. Rasa tidak percaya begitu mendominasi, wanita selugu Kiana mampu berkhianat. Dia tidak lupa, bahkan mungkin akan ingat seumur hidup kalau malam itu dirinya yang mengambil kegadisan Kiana. Noda darah yang tertinggal di seprei juga terekam jelas, belum lagi rasa berbeda saat pertama memasuki milik istrinya, dan sangat berbeda ketika melakukan dengan Luna dulu. Namun, ada kenyataan yang tidak bisa dipungkiri ada pada dirinya. "Masalahnya saya mandul, Ki. Makanya saya tidak percaya kalau anak itu darah daging saya." Ucapan Regan yang tiba-tiba menghentikan langkah Kiana. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN