Regan menarik kasar tangan Kiana, membawanya masuk ke kamar mandi. Menyalakan shower lalu membiarkan istrinya itu berada di bawah guyuran air dingin.
"Cuci pikiran kamu biar bersih, lalu segera tinggalkan kamar saya!" Regan gegas keluar dari kamar mandi.
Kiana hanya bisa bengong, cukup terkejut atas sikap suaminya yang nyatanya tidak tergoda sama sekali dengan kemolekan tubuhnya. Dihelanya napas lalu segera membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan mereka semalam. Kiana tersenyum kecut memandangi pantulan dirinya di cermin.
"Kamu sudah menjadi istri Tuan Regan seutuhnya, Ki. Namun, hanya semalam dan bisa dipastikan tidak akan terulang lagi kejadian semalam, entah sampai kapan." Kiana berguman pada sosok di dalam cermin.
"Sudah tak perlu menyesali atau terlalu dipikirkan, jalani saja apa yang memang harus dijalani, dari pada pusing sendiri." Lanjut Kiana menyelesaikan ritual mandinya.
Sedang Regan terpaku menatap noda darah di atas sepreinya. Kedua matanya terpejam sesaat, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tak berselang lama lelaki itu meninggalkan kamarnya menuju ruang gym.
Kiana keluar dari kamar mandi sudah tidak ada siapa-siapa, dirinya beranjak dari kamar sang suami, langkahnya terhenti saat tak sengaja melihat noda darah di seprei. Lekas dibereskan seprei dan menggantinya dengan yang bersih.
Kalau diperhatikan dengan saksama, cara jalan Kiana jadi aneh. Mau berjalan seperti biasa nyatanya masih terasa pedih, panas dan seperti ada yang mengganjal di bawah sana.
"Perihnya sampai berapa hari ya? Masak iya begini aja harus tanya ibu 'kan malu," gerutu Kiana terus berjalan ke ruang loundry.
"Mbak Kia dari mana? Aku cari-cari dari tadi kok nggak ada." Nani muncul mengejutkan Kiana sampai seprei yang dibawanya terhambur.
"Nani! Bikin kaget aja," pekik Kiana melotot pada teman sekerjanya itu.
"Ma-af Mbak," sesal Nani takut-takut.
"Lihat bawa seprei nggak?" lanjut Kiana mulai memasukan seprei ke dalam mesin cuci.
"Lihat, tadi aku cari Mbak Kia lama, tapi nggak ketemu-ketemu. Mau tanya hari ini mau masak apa?"
"Hari ini aku jatah libur 'kan, Nan? Makanya aku mau lebih santai sejenak, lagian aku juga udah tempel memo di kulkas seperti biasa. Yang di rumah cuma Tuan Regan, nanti sarapannya biar aku yang siapkan."
"Ya sudah aku siapkan bahannya dulu, Mbak, maaf ya," ucap Nani sambil nyengir.
"Hmmm," jawab Kiana singkat.
***
Dua bulan lebih sejak kejadian malam panas dengan sang suami, Kiana masih saja kepikiran. Regan juga sepertinya sengaja menghindarinya. Makanan yang disiapkan juga selalu minta diletakan di depan kamar.
"Seenggak mau itu kamu bertemu denganku, Mas?" guman Kiana saat meletakan sarapan Regan di meja kecil dekat pintu kamar suaminya.
Terdengar suara handel pintu terbuka dan muncul sosok Regan dari balik pintu. Pandangannya bersitobrok dengan Kiana beberapa saat.
"Ngapain masih di sini?" tanya Regan dingin.
"Ada yang dibutuhkan lagi?" Kiana memberanikan diri menatap wajah tampan suaminya.
"Nggak, udah pergi sana!" Regan lekas membawa nampan sarapannya masuk ke dalam kamar.
Kiana hanya bisa menghela napas, walau tahu konsekuensi nikah kontrak entah kenapa masih saja terasa sakit mendapat perlakuan Regan yang demikian.
"Ki... Kia." Suara Wika memecah lamunan Kiana yang memikirkan sikap Regan.
"Saya, Nya. Ada yang dibutuhkan?" Kiana gegas menemui majikan yanh sekaligus ibu mertuanya.
"Tolong bikinkan kue lumpur ya, nanti malam mau ada tamu spesial soalnya."
Mendengar kue lumpur dan tamu spesial, pikiran Kiana langsung teringat pada Nesa. Hatinya terasa perih lagi. Sampai kapan semua rasa sakit ini dia terima? Baru beberapa bulan menjadi istri Regan Evandaru sudah merasa lelah dan ingin menyerah saja rasanya.
"Ki, kamu dengar apa yang saya minta 'kan?"
"I--ya Nyonya, saya siapkan nanti. In sya Allah sebelum tamunya datang, kuenya sudah siap. Ada lagi, Nya?"
"Udah itu dulu, kalau untuk makan malam siapkan menu biasanya saja. Sepertinya Nesa suka dengan pesmol patin bikinan kamu."
"Sepertinya stok ikan patin di dapur habis, Nya."
"Ya sudah kamu belanja dulu saja, sekalian beli apa saja yang habis. Uangnya saya transfer."
Kiana menyusuri lorong di antara rak-rak supermarket, mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Begitu fokusnya dengan daftar belanja yang dibawa dan menyusuri rak mencari bahan-bahan yang diperlukan tiba-tiba perutnya terasa mual sekali. Kiana gegas keluar dari supermarket untuk mencari toilet.
Sampai dalam toilet, Kiana mengeluarkan semua isi perutnya sampai badannya lemas. Kepalanya juga terasa pusing, keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya. Untuk memulihkan keadaan, Kiana cukup lama duduk di atas closet. Setelah merasa kuat, Kiana keluar dari bilik toilet, membasuh wajahnya supaya lebih segar. Lama Kiana menatap pantulan dirinya di cermin toilet, wajahnya terlihat pucat, kedua matanya sayu seperti orang kurang istirahat.
"Maaf, apa Mbak baik-baik saja?" tanya seorang ibu yang tadi saat masuk melihat Kiana dan setelah menyelesaikan hajatnya masih melihat Kiana di posisi yang sama, apalagi dengan wajah pucatnya
"I-ya Bu, saya baik-baik saja," jawab Kiana mengulas senyum.
"Mbaknya sendirian?" Ibu itu kembali bertanya, sambil mencuci tangannya.
"Iya Bu."
"Kalau lagi hamil muda sebaiknya ada yang menemani, kalau mabuk begini takut nggak ada yang tahu."
Perkataan wanita di sebelahnya cukup membuat Kiana terkejut, pangkal hidungnya sampai berkerut. Terheran-heran saja kenapa si ibu bisa mengatakan kalau dirinya sedang hamil muda.
"Ya sudah Mbak, saya duluan ya. Lebih hati-hati, dijaga kandungannya." Wanita yang mungkin seusia Wika itu menepuk pelan bahu Kiana dan berlalu meninggalkannya.
Kiana kembali termenung, memikirkan perkataan wanita tadi sambil mengingat-ingat jadwal periodnya bulan ini. Lalu melihat kalender di layar ponselnya.
"Hais, udah tanggal pertengahan dan aku belum haid juga. Apa iya aku hamil? Hanya semalam Tuan Regan menggauli aku, masak iya langsung jadi?" guman Kiana masih memandang pantulan dalam cermin.
Perlahan tangannya terulur mengusap perutanya yang masih rata. Masih belum percaya kalau ada makhluk mungil tumbuh di dalam sana. Bibir Kiana tertarik sedikit membentuk senyum tipis, matanya terpejam seakan meyakinkan diri kalau memang sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu.
"Dek kalau memang benar kamu sudah tumbuh di sini, bertumbuhlah dengan baik, sehat dan bantu ibu untuk kuat menjagamu ya." Untuk pertama kali Kiana berkomunikasi dengan calon anaknya sambil mengusap perlahan perutnya.
"Lanjutkan belanja sekalian beli test pack aja, semoga hasilnya baik. Sudah nggak sabar melihat hasilnya." Gegas Kiana meninggalkan toilet dan kembali ke supermarket melanjutkan belanjaannya.
Seulas senyum menghias wajah cantiknya, langkahnya juga terasa ringan saat mendorong troly belanjaan. Hatinya terasa bahagia walau belum tahu hasil pasti apakah dirinya benar hamil atau belum.
"Makan rujak? Lagi ngidam ya?" tanya seseorang saat tanpa sadar Kiana mengambil dua pack rujak potong di deretan rak buah.
Bersambung.