"Kamu cantik sekali Sayang," ucap Regan yang kesadarannya sudah hilang sepenuhnya.
"Tu-an ja-ngan seperti i-ni." Kiana berusaha memberontak, karena dia sadar kalau ini salah dan yang pasti Regan tidak akan sudi menyentuhnya kalau dalam keadaan sadar.
Regan mengusap pipi mulus Kiana dengan punggung tangannya. Sudut bibir kanannya terangkat sedikit. Kiana berusaha menghindar dari kungkungan Regan, tapi suaminya justru menyergap tanpa aba-aba. Mata Kiana sampai melotot saat merasakan lumatan kasar di bibirnya.
Jantung Kiana berdegup kencang, tegang tidak bisa bergerak. Baru petama kali merasakan ciuman dan langsung dibuat panas dingin oleh Regan. Kiana berusaha memberontak, dipukulnya d**a bidang Regan berulang kali, tapi tenaganya tak sebanding dengan kungkungan Regan.
"Kenapa Sayang, apa kamu takut? Aku akan melakukan secara perlahan-lahan, jadi kamu tidak usah khawatir."
Regan kembali melumat bibir perawan Kiana. Kali ini dirinya dibuat bimbang, apakah terus memberontak atau justru menikmati ciuman panas sang suami yang mulai memancing hasratnya.
"Ternyata manis sekali bibir kamu." Regan menyudahi lumatannya saat merasakan Kiana membutuhkan pasokan oksigen.
Jemari Regan mengusap lembut bibir yang terlihat membengkak itu, mengecupnya lagi, lalu melumatnya perlahan. Kali ini terasa lebih lembut, dan membuat Kiana terhipnotis. Lambat laun, Kiana menikmati perlakuan suaminya, hingga membalas lumatan Regan walau masih kaku.
Suara desahan terdengar memenuhi kamar Regan, hingga tak berselang lama suara Kiana menahan sakit menggema jelas saat Regan berhasil menerobos mahkota yang selama ini dijaga dengan baik. Air mata Kiana lolos membasahi pipinya, ada setitik rasa bahagia telah memberikan haknya sebagai seorang istri dan malam ini mereka benar-benar telah menjadi suami istri seutuhnya.
Permainan panas keduanya berlangsung hingga menjelang pagi. Regan tak henti-hentinya menjalankan kewajibannya, hingga Kiana terlihat kelelahan. Akhirnya keduanya terlelap sampai pagi menjelang.
Suara alarm mengusik nyenyaknya Regan di alam mimpi. Kepalanya terasa pening sekali, perlahan kedua matanya terbuka, sambil tanganya mengusap tengkuk yang terasa kaku. Disingkapnya selimut yang menutup tubuhnya, cukup terkejut melihat tubuhnya dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Lebih terkejut lagi mendapati Kiana masih tertidur di ranjangnyan.
"Sial, apa yang terjadi semalam?!" umpat Rergan sambil memakai boxer dan kaosnya.
"Kia, bangun!" Regan menarik selimut yang menutup tubuh Kiana.
"Argh... sial!" berang Regan melihat tubuh polos Kiana. Apalagi terlihat tanda merah di bagian-bagian sensitif wanita yang sebenarnya halal dia sentuh. Jelas itu hasil karyanya, susah payah Regan membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering begitu melihat pemandangan indah di hadapannya.
Kiana terkejut dengan teriakan yang memanggil namanya. Dirinya lebih terkejut mendapati tubuhnya tak tertutup sehelai benang pun. Semakin kaget lagi melihat Regan berdiri tak jauh dari ranjang, menatapnya tajam.
"Kamu memanfaatkan keadaan saya yang sedang mabuk ya?" serang Regan to the poin. Dia baru teringat kalau semalam datang ke reuni dan sempat minum dengan beberapa sahabat lamanya.
"Maksud Tuan apa?" Kiana beranjak dari tempat tidur sambil menahan nyeri dipangkal pahanya.
"Pasti kamu yang menggoda saya saat keadaan saya tidak sadar?" Lagi-lagi Regan menuduh Kiana atas apa yang sudah terjadi di antara mereka.
"Tuan yang memaksa saya," bela Kiana berusaha beranjak dari ranjang sambil memunguti pakaiannya yang berserakan.
"Argh... Nggak mungkin saya minat sama kamu!" Regan masih tidak terima atas penjelasan Kiana kalau dirinya yang memulai kejadian semalam.
"Kalau bukan karena permintaan kakek tentang buyutnya, mana mau saya nikah sama kamu!" lanjut Regan tanpa mempedulikan perasaan juga keadaan Kiana yang sedang kacau. Menahan perih, sekujur tubuhnya sakit semua masih dihujat dan dihina suaminya.
"Yang menawarkan pernikahan siapa? Saya?" Kiana sudah berdiri di hadapan Regan dengan menahan rasa sakit baik hati atau fisiknya.
"Dan lagi kalau memang kita melakukan hubungan badan sudah sewajarnya, sudah jadi kewajiban kita sebagai suami istri. Saya nggak hanya butuh nafkah lahir, tapi juga butuh nafkan batin. Lalu apa lagi yang jadi masalah. Saya juga sudah capek berbohong terus pada kakek tiap kali ke rumah beliau dan ditanya apa saya sudah hamil atau belum?" berondong Kiana melampiaskan kekesalannya atas sikap Regan.
"Jadi benar 'kan kamu yang memancing dan menggoda saya duluan?!" geram Regan atas jawaban istrinya.
"Kalau iya kenapa? Toh Tuan juga sangat menikmatinya, lihat! Semua tanda merah ini buktinya." Kiana kembali melepas bajunya, menampilan tubuh moleknya sambil melangkah mendekati Regan.
"Sejauh apa kamu akan menolakku, Mas! Kamu lelaki normal dan pasti tidak akan jauh-jauh dari yang namanya syahwat," geram batin Kiana.
Sudah merasa kesal dan marah pada sang suami, Kiana nekat menggoda Regan dengan penampilannya yang naked.
"Stop Ki! Jangan mendekat!" bentak Regan melarang Kiana mendekatinya, tapi wanita yang tenyata mempunyai body goal, sexy, dan langsung membangkitkan gairah Regan tak menggubrisnya.
"Kenapa Tuan? Tadi Anda ngotot kalau saya yang menggoda dan memancing Tuan, hingga kita melakukan ibadah suami istri. Semalam Tuan mabuk berat hingga tidak bisa melihat bagaimana saya menggoda Tuan, sekarang puas-puaskan Tuan melihat saya memancing gairah suami saya."
Kiana benar-benar melakukan tindakan gila. Suaranya dibuat semanja mungkin, kedua tangannya memainkan rambut panjangnya di belakang kepala, jalannya sengaja perlahan sambil berlenggak-lenggok. Begitu berdiri tepat di depan Regan dan hanya berjarak beberapa senti, sebelah tangan Kiana meremas dadanya sendiri, dengan menggigit bibir bawahnya. Pemandangan yang sangat sensual, membuat darah Regan terasa panas, hingga boxer yang dipakai rasanya semakin sempit.
"Cukup Ki!" Suara Regan menggelegar, menahan amarah bercampur libido yang sudah memuncak.
"Sial, tubuhnya ternyata indah sekali, bahkan lebih bagus dari Luna yabg seorang model," maki Regan dalam hati tak sadar telah memuji sang istri.
"Saya ingin mengulang lagi seperti semalam, Tuan. Saya menuntuk hak saya sebagai istri." Kiana semakin berani begitu melihat wajah Regan semakin memerah. Terlihat kedua tangannya mengepal kuat di samping kanan kiri tubuh kekarnya.
"Shhh... Berhenti atau saya akan berbuat kasar!" ancam Regan begitu ujung jemari Kiana menyentuh d**a liatnya, dan mulai menelusuri bagian tubuh penuh otot terbentuk itu.
"Silahkan Tuan mau berbuat apa terhadap saya, yang penting saya meminta hak saya dan sebagai suami Tuan wajib memenuhinya." Kiana sudah seperti jalang murahan yang sedang merayu pelanggannya.
Kiana nekat menempelkan tubuh polosnya ke tubuh Regan yang juga shirtless. Regan memejamkan mata saat ujung d**a Kiana menyentuh kulitnya. Kiana bahkan menggoyangkan badannya setelah melingkarkan kedua lengannya di leher Regan. Di bawah sana ada benda keras yang menempel sempurna di perut Kiana, dia tahu kalau suaminya sudah terpancing hasratnya hanya berusaha mati-matian menahannya. Kiana semakin berani menggerakan tubuhnya.
"Masa bodo aku dianggap w************n, menerima tuduhan yang menyakitkan padahal dia sendiri yang memaksa, malah memutar balikan fakta, ya udah sekalian saja diiyakan," batin Kiana mencoba mencium bibir Regan.
"Jangan salah 'kan saya kalau nanti saya berlaku kasar!" Regan membuak mata, menatap Kiana tajam.
Bersambung.