Bab 3. Kesalahan Semalam

1159 Kata
Sejak kepulangan Regan membawa mantan kekasihnya, Kiana mulai membiasakan diri untuk tidak peduli dengan semua yang dilakukan suaminya. Hari ini, Kiana sedang berkutat di dapur kediaman Wijaya. Kakek Regan meminta Kiana membuat nasi liwet juga sosis Solo. Sejak menjadi istri Regan, Kiana sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Wijaya setiap mendapat jatah libur dari rumah majikannya. “Kiana, kamu belum juga ada tanda-tanda hamil?” tanya Wijaya sambil menikmati teh hangat didampingi sepiring singkong rebus. “Belum diberi kepercayaan, Kek,” jawab Kiana dengan rasa bersalah menggunung dalam hati karena secara tidak langsung membohongi orang tua yang begitu baik memperlakukannya. “Gimana mau hamil, di-unboxing saja belum,” batin Kiana sambil menghela napas. “Regan memperlakukan kamu dengan baik, kan?” Kiana mengangguk, tidak mau membuka aib suaminya karena Regan memang melarangnya untuk itu. Selain itu, Kiana juga tidak mau kalau Wijaya sampai merasa kecewa pada Regan andai tahu bagaimana sikap cucunya itu terhadap dirinya. *** Sepulang dari kantor Regan menyusul Kiana karena ada yang ingin dibicarakan dan dia tahu ke mana istrinya itu kalau mendapat jatah libur. “Kenapa nggak pamit kalau mau ke rumah kakek?” cecar Regan begitu bertemu istrinya yang sedang menyiram tanaman di taman belakang rumah kakeknya. “Tuan lupa poin keempat perjanjian kita? Dilarang ikut campur urusan pribadi masing-masing!” tukas Kiana lugas. “Kamu istri saya, tanggung jawab saya, Kiana Nandikara!” protes Regan. “Jangan pernah bahas tanggung jawab kalau rumah tangga kita aja masih belum jelas mau dibawa ke mana.” Kiana meninggalkan Regan begitu saja. Regan hanya bisa menghela napas. Hari ini, Kiana memang berniat untuk bermalam di rumah Wijaya dan ini membuat Regan geram karena mereka harus tidur satu kamar. Tidak lucu kalau ketahuan sang kakek jika mereka selama ini tidur terpisah. Kiana sudah merebahkan diri di atas ranjang, tanpa peduli suaminya akan tidur di mana. “Ck, tidur di sofa lagi," gerutu Regan saat masuk kamar dan melihat Kiana sudah menguasai tempat tidur satu-satunya. “Kamar kosong masih banyak, nggak ada yang nyuruh Tuan tidur di kamar ini juga,” sahut Kiana tanpa melihat ke arah suaminya. “Mau kakek ngamuk lihat kita pisah kamar?” “Sudah biasa seperti itu, kan? Tinggal jelaskan saja, kalau memang kita tidak akan pernah tidur bersama dan tidak akan pernah ada cucu untuk kakek, rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu ditutupi dari beliau.” Kiana sudah capek dengan pernikahan yang hanya di atas hitam dan putih itu. Regan tidak merespon ucapan Kiana, mengambil bantal juga selimut yang sudah disiapkan Kiana di tepi ranjang, lalu merebahkan diri di sofa. Pikirannya sudah penuh dengan proyek baru yang baru beberapa minggu lalu ditandatangani kerjasamanya. “Besok siapkan baju saja untuk seminggu ke depan! Saya ada kerjaan ke Bali sama Nesa.” Regan kembali membuka suara. Kiana tidak langsung merespon permintaan suaminya, matanya yang belum tertutup justru memejam, sekedar meredakan emosi yang terpancing. “Kiana, kamu dengar saya tidak?” ulang Regan bertanya. “Hmmm,” jawab Kiana singkat. Keesokan harinya, sepasang suami istri itu sudah berada di kediaman Keluarga Prayogo. Tentu dengan drama Kiana harus turun di pos satpan yang terletak di gerbang kompleks perumahan elit tersebut. Lalu Kiana menggunakan jasa ojol untuk sampai ke rumah mertuanya. “Alasan kerjaan ke Bali, tapi berdua. Bullshit!” omel Kiana, saat menarik koper milik Regan dari tempat penyimpanan. “Lah, kenapa juga kamu marah? Ingat! Status kamu hanya istri di atas kertas. Jadi, jangan berharap apa pun, oke! Sekarang siapkan keperluan saya nggak usah banyak protes!” Kiana hanya mengangguk tanpa menjawab. Mulai menyiapkan pakaian dan juga keperluan pribadi Regan begitu sampai di kediaman Prayogo. Regan sendiri sedang asyik berbicara dengan Nesa melalui sambungan room metting. Dan, yang dibahas memang hanya soal pekerjaan, tetapi suara manja Nesa membuat Kiana merasa muak. "Sudah beres semua, saya permisi," pamit Kiana tanpa menoleh sedikit pun ke arah Regan. Suara pintu kamar ditutup cukup keras, membuat Regan terlonjak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. Nesa yang mendengar sampai menanyakan apa yang terjadi. "Perempuan sinting!" umpat batin Regan menahan emosinya. "Bukan apa-apa, metting hari ini kita akhiri dulu, ya! Lanjut besok saat di lokasi. Selamat siang, sampai ketemu besok, Nes." Regan mengakhiri sambungan room metting-nya. Moodnya berantakan saat kembali mengingat sikap Kiana yang tadi sempat mengganggunya. *** Dua bulan sejak kepergian Regan ke Bali, tak sekalipun Kiana menerima kabar atau bertanya kabar pada suaminya sampai Regan kembali pulang. Walaupun sempat terusik karena memikirkan kedekatan antara suaminya dengan Nessa. Namun, Kiana memilih untuk memendamnya sendiri. Ia sama sekali tak banyak bertanya pada Regan yang sudah kembali sejak dua hari lalu. Siang itu, Kiana menerima barang atas nama suaminya dari butik tempatnya fitting baju pengantin dulu. Tanpa banyak berpikir segera disimpannya baju tersebut di kamar Regan. "Ngapain kamu di kamar saya?" "Astagfirullahaladzim, Tuan!" pekik Kiana terkejut, mendapati Regan sudah ada di belakangnya. "Ngapain kamu?" ulang Regan penuh tatapan menyelidik. "Simpan baju Tuan yang baru saja diantar kurir butik," jawab Kiana kesal. Jantungnya hampir lepas dari tempatnya. Nggak lucu mati muda karena kaget. "Ya sudah keluar sana, saya mau istirahat," usir Regan tanpa melihat Kiana. Kiana langsung beranjak pergi dari kamar yang penuh aura "horor"itu. Suasana hatinya tiba-tiba jadi buruk. "Hah, gini amat jadi istri kontrak," geram Kiana sambil mengepalkan kedua tangannya. Malam harinya Regan pergi ke acara reuni kampus. Rasanya tidak enak kalau mangkir, apalagi dirinya sebagai donatur terbesar untuk acara yang baru diadakan dua kali setelah kelulusan mereka 11 tahun yang lalu. Suasana Cubic Kitchen and Bar sangat ramai oleh teman seangkatan Regan. Tempat yang cukup cozy itu memang dibooking total khusus untuk acara reuni Regan juga teman-teman. Regan yang sudah lama tidak menyentuh minuman beralkohol, malam ini seperti hilang kendali. Terus menenggak cairan yang rasanya membakar tenggorokan hingga kehilangan kesadaran. "Regan... Regan, pakai mabok segala. Untung kita sohib, kalau nggak udah gue tinggal di sini," gerutu Arnold teman lama Regan yang dengan terpaksa membantu Robi memapah sahabatnya sampai parkiran bar. Mobil yang dikemudikan Robi berhenti di depan teras rumah keluarga Prayogo, dengan dibantu Hardi–security kediaman Prayogo, Robi membawa masuk bosnya itu sampai kamar. Kebetulan Kiana belum tidur dan melihat suaminya pulang dalam keadaan mabuk. Robi yang tahu status Kiana segera memintanya untuk menangani Regan. Mau tidak mau Kiana tetap melakukan tugasnya, selain sebagai pembantu. Apa yang diminta Robi juga salah satu kewajibannya sebagai istri. Kiana pun langsung melepas pakaian Regan untuk diganti dengan piyama. Namun, sebelum itu, Kiana bersiap membersihkan tubuh Regan dengan waslap yang sudah Kiana siapkan di dalam sebuah baskom berisi air. Sebenarnya Kiana merasa takut melakukan hal itu karena baru pertama kali melihat tubuh lelaki dewasa secara langsung dan dari sedekat itu, terlebih tubuh itu adalah milik Regan–majikannya yang selalu bersikap dingin padanya. Masih setengah sadar, Regan mulai terpancing hasratnya karena sentuhan demi sentuhan Kiana saat membersihkan tubuhnya. Kedua mata yang biasanya menatap tajam itu seketika memandang Kiana dengan kabut gairah. Pengaruh alkohol tak mengurangi kekuatannya dalam mengungkung Kiana yang saat ini sudah ada di bawah tubuhnya. "Tu-an ma-u apa?" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN