"Ki, pleace. Ayo kita perbaiki semua dari awal. Aku tahu mami salah memperlakukan kamu sampai kamu harus ke—" "Cukup! Jangan bahas itu lagi, sakit rasanya setiap mengingat semua yang telah ibumu lalukan padaku. Kamu juga, kenapa harus repot-repot membuang waktumu yang berharga hanya demi membujuk aku, pulanglah! Sampai kapanpun keputusanku sudah bulat, kita pisah saja. Kamu juga bisa menikah dengan wanita pilihan ibumu, yang setara dan mencintamu." Mulut Kiana boleh mengatakan itu, tapi hatinya menjerit perih. Tak dipungkiri kalau setelah menikah, ada rasa berbeda setiap kali dirinya melayani Regan, selalu diniatkan sebagai ibadah dan terselip doa untuk kesehat, keselamatan, dan keberkahan suaminya. "Aku nggak mau kita pisah, aku mau kita perbaiki pernikahan kita dari awal. Kalau per

