Tini menyambut kedatangan sulungnya dengan wajah semringah. Ada rasa harus, sesal, dan yang pasti rasa bersalah karena pernah menempatkan putrinya di posisi yang sangat tidak mengenakan. Dipaksa menjadi tulang punggung untuk keluarganya, sedang dirinya yang seharunya menanggung itu semua justru berpangku tangan dan menambah beban Kiana dengan berutang di rentenir. "Assalamualaikum Bu, Kia kangen banget sama ibu." Kiana memeluk erat wanita yang telah berjuang melahirkannya. "Waalaikumsalam, ibu juga kangen banget sama kamu, Nduk." Tini tak kalah erat membalas pelukan buah hatinya. "Gimana kabar kamu? Tadi sudah izin sama suami kamu to kalau mau pulang ke rumah ibu?" Tini mengandeng Kiana masuk ke dalam rumah. "Alhamdulillah sehat, seperti yang ibu lihat sekarang. Mas Regan sibuk, su

