Di sebuah restoran privat berbintang, suasana makan siang yang seharusnya tenang terasa mencekam. Beberapa pria berjas tampak baru saja menyelesaikan santapan mereka, namun ketegangan di antara dua pria utama membuat udara terasa berat. Tatapan tajam saling terlempar di antara mereka.
"Baiklah, kita akan memulai kerja sama ini dengan pembangunan di Kota A terlebih dahulu. Tapi, aku mau perusahaan Anda menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan. Jika dalam waktu tiga bulan proyek itu belum rampung, maka aku akan menghentikan suntikan dana untuk pembangunan tersebut," ucap Damian tegas, tanpa celah untuk negosiasi.
Liam menyesap kopinya sejenak sebelum menjawab. "Baiklah, Pak Damian. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jika boleh tahu, apa ada alasan khusus sehingga Anda mempercepat tenggat waktu proyek ini secara mendadak?"
Pertanyaan Liam terdengar sopan, namun ada nada menyelidik di sana.
"Tentu saja. Setiap keputusan yang aku ambil memiliki alasan tersendiri," jawab Damian datar.
"Baiklah, saya mengerti," balas Liam dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Tiba-tiba, Damian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Aura intimidasi menguar darinya.
"Apa kau mengenal istriku?" tanya Damian penuh selidik.
Liam meletakkan cangkirnya perlahan. "Tentu saja. Kami sahabat baik. Tapi—"
"Tapi apa?" potong Damian cepat. Ketidaksabarannya terlihat jelas.
Ck!
Liam berdecak pelan dalam hati. Pria ini benar-benar tidak sabaran. Memotong pembicaraan orang seenaknya, batinnya kesal.
Sementara itu, Sam dan Jay—sekretaris Liam—hanya bisa bertukar pandang cemas. Sam memijat pelipisnya yang mendadak pening.
Kenapa Tuan Damian jadi bertingkah bodoh begini? batin Sam. Biasanya beliau sangat tenang dan tak tersentuh. Tapi begitu menyangkut Nona Alina, logikanya seakan hilang. Apa beliau tidak sadar sedang mempermalukan diri di depan kompetitor?
Jay pun memiliki pemikiran serupa. Rumor bilang CEO DDR Group ini anti-wanita dan belum bisa move on dari masa lalu. Tapi melihat sikapnya yang posesif begini, sepertinya rumor itu salah besar.
Namun, Damian tidak peduli dengan apa yang dipikirkan para bawahannya. Fokusnya hanya pada pria muda di hadapannya.
"Tapi itu dulu, Pak. Sebelum..." Liam sengaja menggantung kalimatnya, menikmati perubahan ekspresi di wajah Damian. Baginya, melihat pria angkuh ini terpancing emosi adalah hiburan tersendiri.
"Sebelum apa? Cepat katakan, jangan bertele-tele!" desak Damian, suaranya meninggi.
Liam menelan ludah, sedikit gentar melihat kilatan amarah di mata Damian, namun gengsinya menahan ia untuk mundur.
"Tuan, sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan Tuan Liam sampai selesai," sela Sam, mencoba menengahi sebelum bosnya meledak.
Damian menoleh tajam ke arah asistennya. "Apa maksudmu? Kau pikir aku mempersulitnya, Sam?"
Sam tercekat. "Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin memastikan informasi yang diterima jelas." Dan memastikan Anda tidak mempermalukan diri sendiri, lanjutnya dalam hati.
"Cepat jawab. Kenapa diam?" bentak Damian kembali pada Liam.
Liam menghela napas panjang, lalu menatap Damian lurus-lurus. Tatapannya berubah serius.
"Itu sebelum dia menikah dengan Anda. Sebenarnya, saya berencana melamarnya begitu saya pulang dari luar negeri."
Rahang Damian mengeras seketika. Tangannya terkepal kuat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Mendengar wanita yang kini menjadi miliknya pernah dicintai—dan hampir dimiliki—oleh pria lain, membuat darahnya mendidih.
Berani sekali bocah ini mencintai istriku, batin Damian gelap.
Tanpa peringatan, Damian bangkit dan mencengkeram kerah kemeja Liam, menarik pria itu berdiri paksa.
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat telak di rahang Liam. Suasana restoran seketika hening. Para pelayan terpekik tertahan.
Liam terhuyung ke belakang, sudut bibirnya robek mengeluarkan darah segar. Namun alih-alih takut, Liam justru menyeka darah itu dengan ibu jarinya dan tersenyum sinis.
"Beraninya kau mengatakan mencintai istriku di hadapanku!" geram Damian. Napasnya memburu.
Sam dan Jay panik, berusaha menahan tuan mereka masing-masing agar perkelahian tidak berlanjut.
"Apa Bapak tidak bercermin sebelum marah seperti itu? Bukankah Bapak sendiri masih menanti kekasih masa lalu Bapak?" sindir Liam tajam, tepat menusuk ego Damian.
"Kau tidak perlu ikut campur urusanku!"
"Tentu saja itu jadi urusan saya, karena Bapak sudah menyakiti wanita yang saya cintai. Dengar ini baik-baik, Tuan Damian yang terhormat... jika Anda
M menyianyiakannya, saya pastikan saya akan merebutnya kembali dari tangan Anda."
Liam merapikan kerah jasnya yang berantakan dengan santai.
"Kita akhiri pertemuan ini. Permisi."
Liam berbalik dan melangkah pergi diikuti Jay, meninggalkan Damian yang mematung dengan tangan terkepal gemetar. Ancaman itu... ancaman itu benar-benar mengusik harga dirinya.
Bocah sialan. Dia pikir dia siapa mau merebut Alina dariku? Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh istri kecilku, batin Damian penuh amarah.
Namun di sudut hati kecilnya, terselip rasa tak aman. Liam muda, tampan, kaya, dan memiliki masa lalu yang baik dengan Alina. Berbeda jauh dengannya yang jauh lebih tua dan memiliki sejarah buruk.
"Pak, sebaiknya kita segera kembali ke kantor," ajak Sam pelan, memecah keheningan.
"Hmm." Damian mendengus kasar, wajahnya masih merah padam menahan emosi.
Sepanjang perjalanan pulang, Damian hanya diam memejamkan mata. Sam melirik dari kaca spion, menangkap kegelisahan tuannya.
Apa Tuan Damian sudah mulai membuka hati untuk Nona Muda? Reaksinya sangat berbeda dibandingkan saat Nona Liora meninggalkannya dulu. Jika benar begitu, aku harus mendukungnya. Aku tidak akan membiarkan Nona Alina pergi, tekad Sam dalam hati.
Tiba-tiba Damian membuka mata.
"Sam, berikan ponselmu. Hubungi gadis itu."
Sam mengernyit bingung, tapi segera paham. Damian tidak pernah menyimpan nomor Alina. Dengan sigap, Sam mendial nomor Alina dan menyerahkan ponselnya ke jok belakang.
Tuutt... Tuutt... Tuutt...
Damian berdecak kesal. "Kenapa lama sekali?"
Akhirnya, panggilan tersambung.
"Halo! Ada apa lagi, sih? Kau sangat mengganggu tidurku saja!" Suara serak khas bangun tidur terdengar dari seberang sana, nadanya penuh kekesalan. Alina jelas mengira ini orang lain.
Emosi Damian yang belum reda kembali tersulut karena dibentak.
"Apa kau sudah mulai berani membentakku sekarang, hah?" sahut Damian dingin.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara gugup dan ketakutan.
"Eh... t-tidak, Pak. Bukan maksud saya seperti itu... sungguh," jawab Alina terbata-bata.
Mendengar ketakutan dalam suara istrinya, sedikit kepuasan muncul di hati Damian, namun kekesalannya pada Liam masih mendominasi mood-nya.
"Baiklah. Kali ini kumaafkan. Aku akan makan malam di rumah. Siapkan semuanya," ucap Damian datar, lalu memutus sambungan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban.
Tutt.
Damian menghela napas kasar, lalu menyodorkan kembali ponsel itu ke depan.
"Sam."
"Baik, Pak," jawab Sam sigap seraya menerima ponselnya kembali, seakan sudah tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.