"Gun, apa kau sudah melakukan tugasmu?" tanya pria paruh baya itu. Dia adalah Tuan Andre, paman dari Damian sekaligus adik dari mendiang ayah Damian, Pak Dharmendra, yang selama ini menyembunyikan keberadaannya.
"Sudah, Tuan. Saya sudah berhasil menyusupkan orang ke DDR Group," jawab Gun.
"Bagus. Pantau terus gerak-geriknya," titah Andre pada asisten kepercayaannya itu.
"Baik, Tuan. Saya akan terus memastikannya," jawab Gun tegas.
Tawa rendah namun mengerikan menggema di ruangan itu. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan bulu kuduknya meremang.
"Aku sudah tidak sabar menunggu kehancurannya setelah sekian lama," gumam Andre. Bibirnya menyunggingkan seringai licik, penuh dengan niat jahat.
Sementara itu, di kantor pusat DDR Group, tampak dua orang pria sedang berkutat serius di depan layar komputer.
"Sam, apa kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya Damian pada asisten pribadinya.
"Sudah, Pak. Menurut informasi yang saya dapatkan, kecurigaan atas insiden dua puluh tahun lalu itu tertuju pada Tuan Andre," ucap Sam sembari membaca isi map cokelat di tangannya.
Mata Damian menyipit. "Maksudmu, pamanku sendiri?"
"Benar, Pak. Karena tepat pada malam kejadian itu, paman Anda menghilang begitu saja tanpa jejak," jelas Sam.
Ck!
Damian berdecak kasar. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Bodoh sekali pria tua itu. Apa dia pikir bisa lolos begitu saja? Setelah semua yang terjadi, tidak akan kubiarkan dia bernapas leluasa di dunia ini," geram Damian. Aura dingin seketika memenuhi ruangan.
"Kita harus berhati-hati, Pak. Tuan Andre ternyata sudah mengetahui keberadaan Anda. Kita tidak boleh gegabah, apalagi dia sudah kembali ke negara ini," Sam memperingatkan dengan nada waspada.
"Cari tahu keberadaannya sekarang, dan pantau terus gerak-geriknya," titah Damian dingin.
"Baik, Pak. Akan segera saya laksanakan."
Damian menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. "Bagus. Apa jadwalku selanjutnya?"
"Ada pertemuan dengan sekretaris baru yang akan membantu Lexa, Pak," ucap Sam setelah mengecek tabletnya.
"Hmm, ya sudah. Panggil dia masuk."
Tak lama kemudian, seorang wanita muda masuk ke ruangan.
"Selamat pagi, Pak," sapa wanita itu sopan.
Damian bahkan tidak repot-repot mengangkat wajahnya dari berkas di meja. "Perkenalkan dirimu. Singkat."
"Nama saya Marsha, usia dua puluh lima tahun. Saya lulusan terbaik dari universitas negeri di Negara Y, Pak," ucap Marsha memperkenalkan diri dengan percaya diri.
"Hmm, baiklah. Sekarang kembali ke tempatmu. Lexa yang akan memberitahu apa saja tugasmu," perintah Damian datar, masih tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Marsha sambil menunduk hormat, lalu bergegas keluar.
Sepeninggal Marsha, Damian kembali menatap asistennya. "Sam, apa agenda selanjutnya?"
"Anda ada pertemuan dengan CEO perusahaan Bratama grup sebelum jam makan siang, Pak."
"Baiklah. Apa ada laporan dari Hadi mengenai gadis itu?" tanya Damian tiba-tiba.
"Tidak ada, Pak," jawab Sam.
"Hmm, sepertinya dia tidak membuat keributan," gumam Damian, lebih kepada dirinya sendiri.
Mana saya tahu, Pak, batin Sam, namun mulutnya berkata lain. "Sepertinya begitu, Pak."
Di sisi lain, di sebuah mansion megah, suasana justru terasa panas. Dua orang wanita tampak sedang berhadapan di ruang tengah. Atau lebih tepatnya, satu orang sedang mengintimidasi yang lain.
"Lihatlah... seekor itik buruk rupa yang berharap menjadi angsa. Hah, jangan mimpi!" cibir Freya dengan senyum mengejek.
Alina mengerutkan kening, bingung. "Maksud Nona apa?"
"Apa yang kau lakukan sampai Kak Damian mau menikahi gadis miskin sepertimu, hah?" tanya Freya berapi-api.
Alina berusaha tetap tenang. "Silakan Nona Freya tanya sendiri pada suami saya, kenapa dia menikahi saya."
Di sudut ruangan, Hadi—kepala keamanan rumah—memperhatikan interaksi kedua wanita yang sangat bertolak belakang itu dalam diam.
"Kau!" Freya mendengus geram.
"Kenapa Nona ingin sekali mengganggu hidup saya? Salah saya di mana?" tanya Alina santai. Sikap tenangnya justru semakin menyulut emosi Freya.
"Karena kau sudah merebut Kak Damian! Aku tidak akan membiarkan itu, jadi jangan bangga dulu," sembur Freya dengan nada meremehkan.
"Oh ya? Saya merebut Pak Damian dari siapa? Saya merasa tidak pernah merebutnya dari siapapun. Pak Damian sendiri yang ingin menikahi saya. Jujur saja, saya justru sangat menantikan hari di mana dia melepaskan saya. Jika Nona Freya menginginkan hal itu, katakan padanya untuk segera menceraikan saya. Kalau itu terjadi, saya akan bersujud di kaki Nona," balas Alina panjang lebar. Ia sudah lelah dihina terus-menerus.
Freya tertawa sinis. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.
"Tunggulah hari di mana Kak Damian menceraikanmu dan menikahi kakakku. Kau lihat ini? Beda sekali denganmu, kan? Kakakku adalah tipe wanita idaman Kak Damian. Sangat berbanding terbalik dengan dirimu yang rendahan," ucap Freya tajam, memperlihatkan foto seorang wanita yang sangat cantik, anggun, dan elegan.
Alina melirik foto itu sekilas, lalu tersenyum miring. "Haha, kutunggu hari itu tiba, Nona Freya. Sayang sekali, aku kira Pak Damian menyukaimu, ternyata dia menyukai kakakmu. Sepertinya kau harus mempercantik diri lagi agar terlihat selevel dengan wanita di foto itu."
Wajah Freya memerah padam. "Awas saja kau!"
Tangan Freya terayun hendak menampar wajah Alina, namun dengan sigap Alina menangkisnya.
"Jangan pernah menggangguku lagi, dan segera angkat kaki dari sini!" ucap Alina tegas.
"Kau! Beraninya kau mengusirku!" Freya gemetar menahan amarah.
"Saya bisa berbuat lebih nekat jika Nona masih mengganggu saya. Saya berani karena saya nyonya di rumah ini sekarang. Jadi pergilah, sebelum saya adukan masalah ini pada Pak Damian," ancam Alina. Padahal dalam hati, ia ragu apakah Damian akan membelanya atau justru menyalahkannya.
Setelah Freya pergi dengan menghentakkan kaki, pertahanan Alina runtuh. Ia berlari kembali ke kamarnya. Sementara itu, Hadi yang sedari tadi merekam kejadian tersebut, menyimpan ponselnya dan kembali bertugas tanpa ekspresi.
Di dalam kamar, tangis Alina pecah.
"Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku di masa lalu hingga aku harus merasakan ini? Kenapa dia menikahiku jika sudah punya wanita yang sangat dicintainya?"
Bayangan wanita cantik di foto tadi terus menghantuinya.
"Wanita itu sangat cantik dan berkelas... beda denganku yang hanya gadis miskin dan lusuh. Apa karena kemiskinanku dia jadi ingin mempermainkanku? Dasar pria gila!" gerutu Alina di sela isak tangisnya.
Lelah menangis, mata Alina memberat hingga akhirnya ia tertidur pulas.
Triiingg... Triiing...
Suara dering ponsel memaksa Alina membuka matanya yang terasa lengket dan bengkak. Dengan setengah sadar, ia meraba nakas dan mengangkat telepon.
"Halo..." suaranya serak khas orang bangun tidur.
"Hai, Pengantin Baru! Apa kau sudah lupa pada sahabatmu ini? Kenapa susah sekali dihubungi?" Suara cempreng seorang wanita langsung menyapa telinganya.
Alina menjauhkan ponsel dari telinga karena kaget. "Ah, Silvi... kau membuatku terkejut saja. Ada apa?"
"Haha, kau berlebihan sekali. Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu. Kapan Ibu Presdir ini akan mengunjungi kantor suaminya?" goda Silvi sambil terkekeh.
"Lain kali aku pasti akan menemuimu, tapi tidak di kantor. Aku takut dapat cibiran dari para karyawan yang patah hati melihatku," jawab Alina dengan tawa hambar.
"Baiklah kalau begitu. Aku tutup teleponnya ya, sebelum aku mati kelaparan karena terlalu lama mengobrol dengan Ibu Presdir. Dah!"
"Dah, Silvi."
Tutt. Sambungan terputus.
Alina meletakkan ponselnya sembarangan dan kembali memejamkan mata. Rasa kantuk masih menguasainya. Namun, belum sempat ia terlelap, ponselnya kembali berdering nyaring.
Triiing... Triiing...
Alina mendengus kesal. Ia mengira Silvi menelepon lagi karena ada yang lupa disampaikan. Tanpa melihat nama penelepon, ia langsung menggeser tombol hijau.
"Halo! Ada apa lagi, sih? Kau sangat mengganggu tidurku saja!" semprot Alina dengan nada kesal.
Hening sejenak di seberang sana. Lalu terdengar suara bariton yang dingin dan tajam.
"Apa kau sudah mulai berani membentakku sekarang, hah?"
Deg!
Jantung Alina seakan berhenti berdetak. Matanya yang tadi terpejam langsung membulat sempurna. Rasa kantuknya hilang seketika digantikan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuh.
Itu bukan suara Silvi. Itu suara Damian.
Mati aku, batin Alina panik.