Jantung Damian berdetak tak karuan saat matanya terkunci dengan manik mata indah milik Alina.
‘Ada apa dengan jantungku? Apa aku punya riwayat penyakit jantung? Sial, aku harus segera check-up,’ batin Damian menyangkal perasaannya sendiri.
Sementara di lantai, Alina menatap ngeri sosok tinggi menjulang di hadapannya.
‘Apa dia malaikat maut? Kenapa tatapannya menakutkan sekali?’ batin Alina gemetar.
“Apa kau akan terus menatapku seperti orang bodoh begitu?” tanya Damian ketus, memutus kontak mata.
Alina tersentak. “Em... maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud demikian. Saya... saya ketiduran,” jawab Alina sambil buru-buru bangkit dan menunduk dalam-dalam.
“Apa begitu caramu melayani suami di malam pertama?” tanya Damian sambil memicingkan matanya tajam.
Wajah Alina memucat. “Em, tidak, Pak. Tolong ampuni saya,” cicitnya ketakutan.
Damian mendengus. “Aku ingin mandi. Siapkan air hangat sekarang.”
‘Lalu apa harus aku yang menyiapkannya?’ tanya Alina dalam hati, bingung dengan tugas istri yang sebenarnya.
“Hei! Apa kau tuli? Cepat siapkan airnya!” bentak Damian saat melihat Alina masih melamun.
“Eh, b-baik, Pak!” Alina berlari kecil menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mewah itu.
“Dasar, tidak berguna,” gerutu Damian saat melihat punggung istrinya menjauh. Namun, sudut bibirnya sedikit terangkat, terhibur melihat kepanikan gadis itu.
Beberapa saat kemudian, Alina keluar dari kamar mandi. “Pak, airnya sudah saya siapkan. Saya akan menyiapkan pakaian ganti Anda di walk-in closet.”
“Hmm,” gumam Damian singkat, lalu melangkah masuk ke kamar mandi.
Alina menghela napas lega begitu Damian menghilang di balik pintu. Ia segera menyiapkan setelan piyama sutra untuk suaminya.
“Apa aku akan sanggup bertahan dengannya selama setahun ini?” gumam Alina sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari. “Tapi aku harus kuat. Aku akan bertahan selayaknya pengantin penebus utang, dan aku berjanji tidak akan pernah memberikan hatiku pada monster itu.”
Hooaam...
Rasa kantuk kembali menyerang Alina dengan hebat setelah adrenalinnya mereda. “Aku sangat mengantuk... apa dia masih lama mandinya?” tanyanya pada diri sendiri.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka.
Alina menelan ludahnya kasar. Matanya membelalak melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
Damian keluar hanya dengan berbalut handuk putih yang melilit di pinggang. Tetesan air masih mengalir di d**a bidangnya yang kokoh, melewati perut six-pack yang terpahat sempurna, dan menghilang di balik handuk. Sungguh pemandangan yang menggoda iman.
Rasa kantuk Alina seketika lenyap, berganti menjadi rasa panas yang menjalar ke seluruh wajahnya.
Melihat reaksi istrinya, Damian menyeringai puas. “Apa kau mulai mengagumiku?” tanyanya percaya diri.
“Eh... m-maafkan saya, Pak,” jawab Alina gelagapan sambil memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Mana pakaianku?” tanya Damian datar.
‘Apa dia buta? Itu di sampingmu, Pak!’ gerutu Alina dalam hati.
“Di sana, Pak.”
Damian tidak bergerak. “Apa kau mau aku masuk angin dengan bertelanjang d**a seperti ini? Cepat pakaikan bajuku.”
Alina melongo. “S-saya, Pak?”
“Siapa lagi? Hantu?”
Dengan tangan gemetar, Alina mengambil piyama yang sudah disiapkannya dan menghampiri Damian. Jantungnya berpacu cepat saat jari-jemarinya yang dingin tak sengaja bersentuhan dengan kulit hangat Damian saat mengancingkan baju. Pipinya semakin panas, semerah tomat matang.
Damian yang melihat wajah merah istrinya dari jarak sedekat ini merasa gemas. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Kenapa pipimu merah? Apa kau sedang membayangkan sesuatu yang kotor?” goda Damian berbisik.
“Eh, t-tidak, Pak! Mungkin saya hanya sedikit tidak enak badan,” elak Alina panik.
“Benarkah?” tanya Damian penuh selidik, semakin mencondongkan wajahnya.
“S-sudah selesai, Pak!” ucap Alina cepat, lalu buru-buru berbalik hendak kabur.
Namun, sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya dan menariknya kembali.
Bruk.
Tubuh mungil Alina menabrak d**a bidang Damian.
‘Ya Tuhan... ada apa dengan jantungku? Pria ini benar-benar membuatku jantungan,’ batin Alina histeris.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” bisik Damian dengan suara berat yang serak. Wajahnya begitu dekat hingga Alina bisa mencium aroma sabun mint yang segar bercampur maskulin.
“P-pertanyaan yang mana, Pak?” tanya Alina sambil berusaha memalingkan wajahnya yang membara.
Damian menatap bibir ranum Alina sejenak, lalu tiba-tiba melepaskan pelukannya.
“Sudahlah. Aku ingin istirahat. Cepat matikan lampunya,” titah Damian, kembali ke mode dinginnya.
Alina terhuyung sedikit, bingung dengan perubahan mood suaminya. “Ba-baik, Pak.”
Alina segera mematikan lampu utama dan bergegas merebahkan tubuhnya kembali di atas sofa, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.
Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai, namun sepasang suami istri itu masih terlelap.
Tok... tok... tok...
“Pak Damian... Nona Alina... sarapan sudah siap di bawah,” panggil seseorang dari balik pintu. Itu suara Pak Hadi.
Alina menggeliat dan mengerjapkan matanya. Mendengar suara Pak Hadi, kesadarannya langsung terkumpul penuh. Ia melirik jam dinding. Pukul 07.00!
“Astaga! Aku kesiangan! Aku lupa membangunkan Pak Damian!” pekik Alina panik. Ia langsung bangun dan berteriak ke arah pintu, “Baik, Pak Hadi! Terima kasih!”
“Apa kau pikir kamarku ini hutan? Berisik sekali,” gerutu suara serak dari atas ranjang.
Alina menoleh. Damian sedang duduk bersandar di headboard, rambutnya acak-acakan, dan suaranya yang berat khas bangun tidur terdengar begitu seksi di telinga Alina.
Alina menelan ludah lagi.
‘Kenapa suaranya jadi seksi begini? Tapi lihat wajahnya... tetap saja menyeramkan seperti beruang kutub yang dibangunkan paksa,’ batin Alina.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau berusaha menggodaku lagi pagi-pagi begini?” tuduh Damian.
“Eh, tidak, Pak! Maafkan saya. Tadi Pak Hadi memanggil untuk sarapan,” kilah Alina.
“Cih.” Damian berdecak sinis. “Alasan.”
“Tidak, Pak. Kalau begitu... saya siapkan air mandi Bapak dulu,” ucap Alina cepat-cepat kabur ke kamar mandi sebelum diinterogasi lebih lanjut.
Melihat tingkah istrinya, Damian tersenyum miring. ‘Sepertinya mainan baruku ini tidak akan membosankan. Wajah merahnya itu... lucu juga,’ gumam Damian pelan.
Tak lama kemudian, Alina keluar. “Pak, airnya sudah siap,” ucapnya sambil menunduk, tak berani menatap 'pemandangan pagi' yang berbahaya itu.
“Oke.”
Di ruang makan yang megah.
Sam sudah duduk menunggu tuannya dengan sabar.
“Selamat pagi, Pak Damian, Nona Alina,” sapa Sam dan Pak Hadi bersamaan saat pasangan itu menuruni tangga.
“Pagi,” jawab Damian singkat.
“Selamat pagi, Pak Sam, Pak Hadi,” balas Alina ramah dengan senyum manis.
Mereka mulai menyantap sarapan dalam keheningan. Sam hanya diam memperhatikan, tidak ikut makan.
Namun, ketenangan itu terusik oleh suara keributan di depan pintu utama.
“Maaf, Pak Damian. Nona Liona memaksa masuk dan membuat keributan di depan,” lapor Pak Hadi yang tergopoh-gopoh menghampiri meja makan.
Damian meletakkan sendoknya kasar. “Biarkan dia masuk.”
“Baik, Pak.”
Tak lama kemudian, seorang gadis cantik dengan gaya modis melenggang masuk ke ruang makan.
“Hai, Kakak Ipar! Ups... apa aku mengganggu?” sapa Liona dengan nada dibuat-buat. Matanya langsung melirik Alina dengan tatapan meremehkan.
‘Siapa gadis ini? Apa hubungannya dengan Pak Damian? Dia memanggilnya Kakak Ipar? Dan kenapa dia menatapku sinis begitu?’ batin Alina bertanya-tanya.
“Ada apa?” tanya Damian dingin, tak sedikit pun tertarik basa-basi.
“Aku hanya merindukanmu, Kak Damian. Apa itu salah?” tanya Liona santai sambil menarik kursi dan duduk tanpa dipersilakan. Matanya kembali memindai Alina dari atas ke bawah.
Sam yang melihat ketidaksopanan itu langsung menegur. “Jaga sikap Anda, Nona Liona. Saya bisa meminta keamanan menyeret Anda keluar sekarang juga.”
Liona tertawa meremehkan. “Hai, Sam. Sayangnya aku tidak ada urusan denganmu. Apa kau lupa siapa aku? Aku adik calon istri sah bosmu ini.”
Sam mendengus kesal. Memang, Liona adalah adik kandung Freya, kekasih Damian yang sedang di Paris.
“Jangan membuang waktuku. Aku harus ke kantor,” ucap Damian datar.
“Aku hanya ingin memberikan selamat atas pernikahan 'darurat' ini. Sekalian memastikan kualitas istri Kakak Ipar. Apakah sepadan dengan kakakku, Freya?” cibir Liona terang-terangan. “Tapi sepertinya... jauh sekali.”
“Cukup, Nona Liona! Anda sudah keterlaluan,” geram Sam.
Alina meletakkan serbetnya. Ia sudah cukup bersabar. “Tidak apa-apa, Pak Sam. Yang dikatakan Nona ini memang benar. Saya hanya seorang gadis miskin yang sedang bermimpi menjadi Cinderella. Jadi saya cukup sadar diri siapa saya dan siapa kakak Nona,” ucap Alina tenang namun menusuk.
Mendengar istrinya merendahkan diri sendiri di hadapan orang lain membuat darah Damian mendidih. Wajahnya merah menahan amarah. Bukan marah pada Liona, tapi marah karena harga dirinya sebagai suami ikut terinjak.
Jika wanita ini bukan adik Freya, sudah pasti Damian akan melemparnya keluar.
“Cukup!” bentak Damian, membuat seisi ruangan terdiam.
Ia menatap tajam ke arah Alina. “Kau istri Damian Dharmendra. Istri dari pengusaha paling berpengaruh di negara ini. Tidak pantas kau merendahkan dirimu seperti itu di hadapan siapa pun! Apa kau mengerti?”
Alina tertegun. Ia menatap Damian tak percaya. ‘Dia... membelaku?’
“Apa kau dengar?!” tekan Damian.
“A-aku dengar... Suamiku,” jawab Alina lantang, meski hatinya bergetar menyebut kata 'suamiku'.
‘Ya ampun, apa aku baru saja menjilat ludahku sendiri?’ batin Alina.
Liona yang melihat pembelaan Damian hanya bisa mendengus kesal, namun ia segera mengubah ekspresinya menjadi manis.
“Yang dikatakan Kakak Ipar memang benar. Oh ya, kenalkan, aku Liona,” ucapnya sambil mengulurkan tangan dengan senyum palsu.
Alina menyambut uluran tangan itu. “Hai, Liona. Aku Alina.”
Damian bangkit dari kursinya. “Sam, ayo kita berangkat.”
Tanpa menunggu, Damian melangkah pergi. Alina buru-buru bangkit dan mengejar suaminya untuk mengantarnya sampai ke depan pintu, layaknya istri yang berbakti.
Di sisi lain kota, di sebuah ruangan gelap.
Seorang pria paruh baya sedang memantau layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV. Ia menyeringai licik. David sedang menjalankan tahap selanjutnya dari misinya.