Penculikan

832 Kata
Di sebuah mansion yang tak kalah megah dari milik Damian, seorang pria paruh baya tampak duduk santai di sofa kulit. Di tangannya terselip cerutu mahal, sementara di meja tersaji sebotol wine berkualitas tinggi. Ia merayakan kemenangan kecilnya. Pria itu adalah Tuan Andre, ditemani oleh asisten setianya, Gun. Tawa rendah namun berat menggema di ruangan itu. Bukan tawa lepas, melainkan tawa kepuasan yang membuat siapapun mendengarnya bergidik ngeri. "Gun, ternyata keponakanku itu tidak sepintar yang kubayangkan. Sebentar lagi, dia akan merasakan sakitnya pengkhianatan yang luar biasa," ucap Andre sambil menyeringai, membanggakan rencananya. "Tapi Tuan, kita tidak boleh gegabah. Damian pasti akan segera bertindak. Kita harus selangkah lebih maju sebelum dia bisa berkutik," Gun mengingatkan dengan nada waspada. Andre menyesap wine-nya perlahan. "Kau benar. Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan skenario pertunjukan yang sangat menarik untuk reuni keluarga nanti." Seringai licik tak lepas dari wajahnya. "Rencana apa itu, Tuan?" tanya Gun penasaran. Ia bisa mencium bau darah dari rencana tuannya. Andre bangkit berdiri, merapikan jasnya. "Kau akan tahu sebentar lagi. Ayo ikut aku ke ruang bawah tanah. Tamu istimewa kita pasti sudah menunggu." Sementara itu, Damian merasakan kegelisahan yang tak wajar sejak siang tadi. Firasatnya buruk. Sangat buruk. Alina sempat mengirim pesan siang tadi, mengatakan ingin mengantarkan makan siang ke kantor. Namun hingga sore menjelang, wanita itu tak kunjung muncul. Lebih parah lagi, ponsel Alina mendadak tidak aktif. Tanpa pikir panjang, Damian meninggalkan pekerjaannya dan memacu mobilnya pulang ke mansion. Sesampainya di rumah, keheningan menyambutnya. Sosok yang ia cari tidak ada. "Pak Hadi!" Teriakan Damian menggelegar, memanggil kepala pelayannya. Dengan tergopoh-gopoh, Pak Hadi menghampiri tuannya. Wajah tua itu pucat pasi melihat kilatan amarah yang nyalang di mata Damian. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanya Pak Hadi dengan suara bergetar. "Ke mana Alina?" tanya Damian dingin, menusuk. "S-saya... saya tidak tahu, Tuan Muda," jawab Pak Hadi gugup. "Apa kerjamu di rumah ini sampai keberadaan istriku saja kau tidak tahu?! Aku tanya sekali lagi, KE MANA ISTRIKU?!" bentak Damian. Kesabarannya habis seketika. "Tadi siang Nona Muda hanya pamit ingin mengantar makanan untuk Tuan, tapi... sampai sekarang Nona belum kembali," lapor Pak Hadi sambil menunduk dalam, takut menatap mata tuannya. "Apa?! Dan kau diam saja tidak melapor padaku?!" Damian menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi. "Pergi dari hadapanku! Jangan tunjukkan wajahmu sebelum istriku ditemukan!" usir Damian kasar. Pak Hadi segera undur diri, tahu bahwa membantah Tuan Muda yang sedang kalap sama saja dengan cari mati. Ia belum pernah melihat Damian semarah dan sepanik ini, bahkan saat kehilangan kekasih masa lalunya dulu. Tak lama kemudian, Sam datang dengan napas terengah-engah. Ia menyusul Damian setelah mendapat perintah untuk meninggalkan sisa pekerjaan kantor. "Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Sam hati-hati. Damian menoleh cepat, mencengkeram bahu Sam. "Sam, temukan istriku sekarang! Dia hilang! Dia tidak sampai ke kantor dan tidak ada di rumah!" Kepanikan Damian menular pada Sam. Namun, bukan karena Alina, melainkan karena ia tahu Damian bisa nekat melakukan hal gila jika sesuatu terjadi pada wanita itu. Alina telah menjadi poros hidup Damian tanpa pria itu sadari. "Tenang, Pak. Kita bisa melacaknya," ucap Sam berusaha berpikir jernih. "Ingat cincin pernikahan yang Nona Alina pakai?" Mata Damian membelalak. "GPS." "Benar. Anda meminta saya memasang pelacak mikro di cincin itu sebelum pernikahan, kan?" "Cepat lacak sekarang! Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya," desak Damian tak sabaran. Sam segera mengeluarkan tabletnya dan mengaktifkan sistem pelacakan. Jemarinya menari lincah di atas layar. Damian mondar-mandir di belakangnya seperti singa yang terluka. "Apa kau sudah bosan hidup, Sam? Kenapa lama sekali?!" geram Damian. "Sabar, Pak. Sinyalnya sempat timbul tenggelam, sepertinya Nona berada di area yang sulit jangkauan... Ah, dapat!" seru Sam. Damian langsung merebut tablet itu. Sebuah titik merah berkedip di layar peta. "Di mana ini?" "Itu area perbatasan kota, Pak. Dekat pabrik tua yang sudah terbengkalai sepuluh tahun lalu," jelas Sam sambil mengerutkan kening. "Kenapa Nona Alina bisa ada di tempat berbahaya seperti itu?" Wajah Damian mengeras. Rahangnya mengetat hingga terdengar bunyi gemeretak gigi. "Seseorang membawanya ke sana." Tanpa perlu dijelaskan, Sam tahu ini bukan kasus tersesat. Ini penculikan. "Siapkan senjata. Panggil tim keamanan khusus. Kita berangkat sekarang," perintah Damian dingin. Aura membunuh menguar kuat dari tubuhnya. "Siapapun yang menyentuh seujung kuku istriku... akan kuhancurkan sampai ke neraka." "Baik, Tuan!" Mobil hitam lapis baja itu melaju dengan kecepatan gila membelah jalanan menuju perbatasan kota. Sam mengemudi dengan konsentrasi penuh, sementara Damian duduk di sampingnya, mengecek pistol di tangannya dengan wajah tanpa ekspresi. Hatinya bergemuruh hebat. Ketakutan akan kehilangan Alina lebih besar daripada rasa takut apapun yang pernah ia rasakan. Tunggu aku, Alina. Bertahanlah, batin Damian. Sementara itu, di sebuah ruang bawah tanah yang pengap dan lembap. Pintu besi berkarat terbuka, menimbulkan suara decitan ngilu. Cahaya lampu masuk, menyilaukan mata seorang wanita yang sedang duduk terikat di kursi kayu. Alina mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pening luar biasa akibat obat bius. Tangan dan kakinya terikat kuat tambang kasar. Langkah kaki sepatu pantofel mendekat. "Apa kau sudah sadar, Putri Tidur yang malang?" Suara pria asing itu membuat Alina mendongak paksa. Di hadapannya, berdiri Gun dengan tatapan meremehkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN