Suara pintu besi berkarat terbuka, memecah keheningan ruang penyekapan yang pengap.
"Apa kau sudah sadar, Nona Manis?"
Suara berat seorang pria menyapa Alina. Ia mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan penglihatan dengan cahaya remang-remang yang masuk. Kepalanya masih terasa berat dan berputar. Saat kesadarannya pulih, ia menyadari tangan dan kakinya terikat kuat pada sebuah kursi kayu.
Kepanikan seketika melanda. Di mana ini?
Ingatannya berputar mundur, kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu...
Siang itu, Alina sudah tampil rapi dengan dress sederhana dan sebuah tas bekal di tangannya.
"Nona Alina, Anda hendak ke mana?" tanya Pak Hadi, kepala pelayan, yang memergokinya di ruang depan.
"Saya ingin mengantarkan makan siang untuk Mas Damian, Pak Hadi," jawab Alina dengan senyum ramah.
Wajah Pak Hadi tampak ragu. "Apa Nona sudah izin pada Tuan Muda? Mohon maaf, tapi instruksi Tuan Muda adalah Nona tidak boleh keluar tanpa pengawalan."
Alina menghela napas. Rasa kesal mulai muncul. Ia merasa seperti tawanan di rumah mewah ini.
"Pak Hadi, apa Bapak meragukan saya? Saya hanya ingin memberi kejutan untuk suami saya sendiri. Apa itu salah?" tanya Alina, mencoba mendesak dengan halus namun tegas.
"Bukan begitu, Nona. Saya tidak bermaksud lancang..." Pak Hadi tampak serba salah.
"Kalau begitu biarkan saya pergi. Saya sudah memesan taksi online dan mobilnya sudah menunggu di depan gerbang," bohong Alina, padahal ia baru saja memesannya. Ia tidak mau Pak Hadi memanggil sopir pribadi yang pasti akan melapor pada Damian.
"Tapi Nona..."
"Tolong, Pak. Sekali ini saja. Saya ingin menjadi istri yang baik," mohon Alina dengan tatapan memelas.
Akhirnya, dengan berat hati Pak Hadi mengangguk pasrah. "Baiklah, Nona. Hati-hati di jalan."
Alina tersenyum puas dan bergegas keluar. Tak lama kemudian, taksi pesanan Alina datang. Tanpa curiga, ia masuk ke dalam mobil tersebut.
Awalnya perjalanan terasa normal. Namun, di sebuah persimpangan sepi menuju area perkantoran, sopir taksi itu tiba-tiba membelokkan setir ke kiri—ke arah jalanan hutan kota yang jarang dilalui.
"Pak, kenapa lewat sini? Seharusnya kita ambil kanan ke jalan protokol," tegur Alina, mulai panik.
Sopir itu tidak menjawab. Ia justru menekan sebuah tombol di dashboard, dan pintu mobil terkunci otomatis.
"Pak! Berhenti! Apa yang Bapak lakukan?!" teriak Alina. Ia berusaha membuka pintu, namun sia-sia.
Sopir itu menoleh, mengenakan masker gas, lalu menyemprotkan sesuatu ke arah kursi penumpang belakang. Bau menyengat langsung memenuhi rongga hidung Alina.
"Tolong..."
Pandangan Alina mengabur. Tubuhnya lemas seketika, dan kegelapan merenggut kesadarannya.
"Siapa kau?!" teriak Alina, kembali ke masa kini. Tubuhnya gemetar hebat melihat pria asing—Gun—melangkah mendekatinya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, kau adalah tamu istimewa kami," jawab Gun dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Jangan mendekat! Atau saya akan berteriak!" ancam Alina dengan sisa tenaganya, meski ia tahu itu percuma di tempat terpencil ini.
Gun tertawa kecil. Tawa yang kering dan meremehkan. "Silakan berteriak sepuasmu. Tidak ada yang akan mendengarmu di sini, Nona."
Gun berjongkok di hadapan Alina, tangannya terulur menyentuh pipi gadis itu, mengusap air mata yang mulai mengalir.
"Jangan sentuh aku, b******k!" sentak Alina, memalingkan wajahnya dengan jijik.
"Galak sekali," gumam Gun, menyunggingkan senyum miring. "Kau sungguh bodoh. Apa yang sebenarnya kau harapkan dari pernikahanmu itu?"
Alina terdiam, napasnya memburu. "Apa maksudmu?"
"Kau pikir Damian benar-benar peduli padamu?" Gun menatap Alina dengan tatapan mengejek. "Kau dibeli, Nona. Kau dijual untuk melunasi utang, kan? Bagi Damian, kau tak lebih dari barang dagangan. Sebuah pelampiasan sementara sampai kekasih aslinya kembali."
Deg!
Kata-kata itu menghantam d**a Alina lebih keras daripada tamparan fisik.
Apa benar begitu? Apa selama ini aku hanya pengganti? batin Alina perih. Keraguan yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini menyeruak ke permukaan.
"Aku tidak percaya padamu!" teriak Alina, berusaha menutupi rasa sakit hatinya. "Mas Damian bukan orang seperti itu!"
"Oh ya? Lalu kenapa kau ada di sini dan dia tidak? Dia mungkin sedang bersyukur kau hilang, jadi dia bisa bebas," racun Gun lagi.
"Cukup! Hentikan!" Alina terisak. Pertahanannya runtuh.
Gun berdiri, merasa puas telah menghancurkan mental korbannya. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Nikmatilah waktu terakhirmu. Sebentar lagi, kau hanya akan menjadi umpan untuk menghancurkan suamimu."
Gun berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Alina sendirian dalam kegelapan dan keputusasaan.
Pak Damian... tolong aku... batin Alina lirih. Apa aku benar-benar tidak berarti bagimu?
Di luar gedung tua di perbatasan kota.
Langit sudah gelap. Dua buah mobil hitam berhenti jauh dari gerbang masuk agar tidak menarik perhatian.
Damian dan Sam keluar dari mobil, diikuti oleh lima orang pengawal elit bersenjata lengkap. Tidak ada lagi setelan jas rapi; Damian kini mengenakan rompi anti-peluru di balik kemejanya yang lengan bajunya digulung, memperlihatkan otot-otot yang tegang siap tempur.
Wajahnya dingin dan mematikan, seperti malaikat pencabut nyawa.
"Ada dua penjaga di pintu depan, Tuan," lapor Sam setelah memantau situasi dengan teropong night vision.
"Lumpuhkan. Tanpa suara," perintah Damian datar.
Dua anak buah Damian bergerak secepat kilat dalam bayangan. Dalam hitungan detik, kedua penjaga di depan pintu rubuh tanpa sempat mengeluarkan suara, leher mereka dipukul dengan teknik militer yang presisi.
Damian melangkah maju tanpa ragu, melangkahi tubuh penjaga yang pingsan itu. Mereka sampai di depan pintu utama yang terkunci palang besi.
"Dobrak," perintah Damian.
BRAK!
Pintu kayu tebal itu hancur dalam sekali tendangan keras dari salah satu pengawal. Suara hantaman itu menggema ke seluruh gedung.
Damian langsung menerobos masuk dengan pistol di tangan kanan, matanya menyapu seisi ruangan luas yang kosong itu dengan awas. Pandangannya terkunci pada sebuah ruangan kecil di sudut yang pintunya sedikit terbuka.
Ia berlari ke sana dan menendang pintu itu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di depannya membuat darah Damian mendidih hingga ke ubun-ubun.
Di tengah ruangan, di bawah sorot lampu bohlam yang redup, Alina terikat tak berdaya di kursi. Wajahnya sembab, matanya bengkak, dan tubuhnya gemetar ketakutan.
"T-tuan..." lirih Alina. Suaranya serak dan hampir hilang.
Saat melihat sosok tegap suaminya berdiri di ambang pintu, Alina hampir tidak percaya. Tatapan Damian saat itu begitu mengerikan—campuran antara kelegaan luar biasa karena menemukan miliknya, dan amarah iblis yang siap membakar dunia karena ada yang berani menyentuh istrinya.