Bertahanlah

926 Kata
Pintu kayu itu hancur berantakan. Di ambang pintu, Damian berdiri dengan napas memburu. Matanya yang tajam menyapu ruangan, dan seketika melembut saat menemukan sosok yang dicarinya. "Tuan..." lirih Alina. Suaranya serak, matanya basah. Ia nyaris tidak percaya Damian benar-benar datang untuknya. Melihat kondisi istrinya yang terikat dan berantakan, rahang Damian mengeras. Tanpa mempedulikan sekeliling, ia melangkah maju hendak menghampiri Alina. Namun, langkahnya terhenti paksa. DOR! Suara letusan senjata api memekakkan telinga. Sebuah peluru melesat, nyaris menyerempet kepala Damian dan menghantam kusen pintu di belakangnya. Serpihan kayu beterbangan. Damian menoleh cepat ke arah tembakan berasal. Mata elangnya membelalak saat melihat sosok pria paruh baya yang melangkah keluar dari bayangan. Sosok yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu. "Paman?" desis Damian tak percaya. "Kejutan, Keponakan," sapa Andre dengan senyum miring yang meremehkan. Di tangannya, sebuah pistol hitam terarah lurus ke d**a Damian. "Cih. Ternyata kau sangat bodoh, bisa masuk ke perangkap semudah ini," hina Andre. Damian berusaha menyembunyikan keterkejutannya, otaknya berputar cepat mencari celah. "Apa kau tidak salah bicara, Paman? Kau yang bodoh karena menampakkan diri di hadapanku." Andre terkekeh sinis. "Apa wanita ini istrimu?" Ia menunjuk Alina dengan ujung pistolnya. "b******k! Lepaskan istriku!" bentak Damian. Hatinya teriris melihat air mata Alina yang terus mengalir. "Apa kau sungguh mencintainya?" tanya Andre dengan nada mengejek. "Atau dia hanya mainan baru?" Deg! Alina mendongak menatap Damian dengan pandangan kabur. Hatinya berdebar menyakitkan menunggu jawaban itu. Jangan berharap, Alina. Jangan berharap... batinnya perih. Tiba-tiba, Andre bergerak cepat. Ia mencengkeram rambut Alina dan menariknya kasar hingga kepala wanita itu mendongak paksa. "Arghhh!" Alina menjerit kesakitan. Darah Damian mendidih seketika. Wajahnya memerah padam menahan amarah yang siap meledak. "Lepaskan tangan kotormu dari istriku, b******n!" teriak Damian. Tangannya terkepal erat hingga buku-bukunya memutih. Jika tatapan bisa membunuh, Andre sudah hangus saat itu juga. "Jangan harap. Nyawanya ada di ujung jariku," ucap Andre santai. Ia menempelkan moncong pistol ke pelipis Alina. Tangisan Alina semakin terdengar pilu, membuat konsentrasi Damian pecah. "Apa maumu?" tanya Damian akhirnya, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Kau memang pintar. Tidak naif seperti ayahmu," Andre menyeringai licik. "Oh, aku lupa. Ayahmu itu kakakku sendiri." Mata Damian menyipit. "Apa maksudmu? Apa kau... dalang di balik pembantaian keluargaku dua puluh tahun lalu?" "Kupikir aku tidak perlu merahasiakannya lagi darimu," jawab Andre enteng, seolah sedang membicarakan cuaca. "Jika saja ayahmu yang bodoh itu tidak serakah menerima semua warisan kakekmu, aku tidak perlu repot-repot menyewa orang untuk menghabisi mereka." Kebenaran itu menghantam Damian telak. Pamannya sendiri. Darah dagingnya sendiri. "Iblis kau! Aku akan membunuhmu!" raung Damian. Ia mengangkat pistolnya, bersiap menembak. Namun Andre lebih cepat. "Bergerak sedikit saja, otak istrimu akan berceceran di lantai ini." Damian membeku. Ia tidak berani mengambil risiko. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Paman?" tanya Damian, menahan gejolak amarah dan kesedihan. "Kau sudah tahu alasannya. Warisan itu seharusnya milikku. Dan sekarang... giliranmu menyusul orang tuamu." Mata Andre berkilat kejam. Tanpa peringatan, ia menggeser arah pistolnya sedikit dan menarik pelatuk. DOR! Sebuah peluru menembus bahu kiri Damian. "Argh!" Damian mengerang tertahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang akibat dorongan peluru, darah segar seketika merembes membasahi kemeja putihnya. Keseimbangannya goyah, dan ia jatuh berlutut dengan satu kaki. "Mas Damian!" teriak Alina histeris. Tawa Andre menggelegar memenuhi ruangan. "Itu baru permulaan. Aku ingin kau menyaksikan kematian istrimu dulu, sebelum kau mati perlahan karena kehabisan darah." Andre kembali mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Alina. "Jangan pernah bermimpi..." desis Damian. Ia berusaha bangkit meski bahunya terasa seperti terbakar, namun tenaganya terkuras cepat. Andre menyeringai. Jarinya mulai menekan pelatuk. "Selamat tinggal." Alina memejamkan mata, pasrah pada takdirnya. DOR! Suara tembakan meletus. Namun, bukan Alina yang merasakan sakit. BRUK! Tubuh Andre tersentak ke depan, lalu ambruk ke lantai. Sebuah lubang peluru menganga di punggungnya. Darah segar mengalir dari mulutnya saat ia berusaha bernapas. "Sial... an..." umpat Andre terbata-bata, sebelum akhirnya tubuhnya kaku dan tak bergerak lagi. Di ambang pintu, Sam berdiri dengan pistol berasap di tangannya. Wajah sekretaris itu dingin tanpa ekspresi. "Maaf saya terlambat, Tuan," ucap Sam tenang. Ia segera berlari menghampiri Damian dan membantunya berdiri. "Kau tidak terlambat, Sam. Kerja bagus," ucap Damian sambil menahan sakit. Dengan sisa tenaganya, Damian berjalan tertatih menghampiri Alina. Ia memotong tali yang mengikat tangan dan kaki istrinya dengan pisau lipat yang disodorkan Sam. Begitu ikatan terlepas, Alina langsung berhambur memeluk Damian erat-erat, tidak peduli pada darah yang membasahi pakaian suaminya. "Mas... Mas Damian..." isak Alina. Damian meringis pelan karena pelukan itu menekan lukanya, namun ia tidak melepaskannya. Ia membelai rambut Alina dengan tangan kanannya yang masih berfungsi. "Buka matamu, Alina. Semuanya sudah berakhir," bisik Damian lembut. Alina mendongak, wajahnya banjir air mata. "Mas terluka... darahnya banyak sekali..." "Aku baik-baik saja. Ini hanya luka gores," bohong Damian, padahal wajahnya sudah pucat pasi. "Tuan, kita harus segera pergi. Tuan kehilangan banyak darah," sela Sam tegas. Ia memapah Damian di sisi kiri, sementara Alina memegang tangan kanan Damian. Mereka berjalan keluar dari gedung terkutuk itu. Di luar, beberapa anak buah Sam sudah mengamankan area. Mayat Gun—tangan kanan Andre—tergeletak tak jauh dari pintu masuk, hasil kerja senyap Sam sebelumnya. "Bereskan tempat ini. Jangan sisakan jejak," perintah Sam dingin pada anak buahnya. "Siap, Komandan!" Saat mobil Damian melaju meninggalkan area tersebut, sebuah ledakan besar terdengar di belakang mereka. BOOM! Gedung tua itu runtuh dilalap api, mengubur Andre dan segala kejahatannya bersama puing-puing sejarah. Di dalam mobil, Alina merobek ujung dress-nya untuk menekan luka di bahu Damian. Air matanya tak henti mengalir melihat wajah suaminya yang semakin memucat. "Bertahanlah, Mas... kumohon," bisik Alina gemetar. Damian menatap wajah panik istrinya. Dalam kesakitan itu, sudut bibirnya sedikit terangkat. Setidaknya dia selamat, batin Damian sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN