“Terserah Anda, Nona. Sebaiknya jangan menghalangi jalan saya,” ucap Sam dingin, matanya menatap tajam ke arah wanita itu. “Heh, Tuan Sombong yang terhormat!” seru Yuna tak mau kalah. Telunjuknya mengarah ke dadanya sendiri yang kini basah dan berwarna cokelat. “Dari awal kita bertemu, Anda yang menabrak saya! Dan sekarang? Anda menabrak saya lagi sampai cokelat panas ini tumpah dan mengotori baju saya!” Sebenarnya baju kotor bukanlah masalah besar bagi Yuna. Namun, sikap pria di hadapannya yang memasang wajah datar tanpa rasa bersalah itulah yang membuatnya naik pitam. Sam melirik sekilas noda di baju Yuna, lalu mendengus pelan. “Ck. Saya akan ganti rugi. Sekarang minggir,” ucap Sam meremehkan. Ia merogoh dompetnya, mengambil beberapa lembar uang, dan menyodorkannya begitu saja ke ara

