Setibanya di rumah, Zahara langsung masuk ke kamarnya tanpa berkata sedikit pun. Dia masih menangis, meratapi nasibnya yang baru saja dihina oleh calon suami. Umi Zahara yang tak sempat bertanya karena anaknya itu langsung menutup pintu kamar, menghampiri suaminya yang terduduk lesu di ruang tamu. “Abi, Zahara kenapa? Apa terjadi sesuatu tadi?” tanyanya seraya meletakkan gelas berisi air putih di atas meja. Ustad Syahrul menggeleng lemah. “Bukan hal yang serius, Umi. Zahara memutuskan untuk mengakhiri perjodohannya.” “Apa?” Umi Zahara terkejut. “Kenapa dibatalkan, Abi? Bukankah Zahara juga menginginkan hal ini?” “Iya, Abi tau. Tapi, kita nggak bisa berbuat dengan sesuai keinginan jika Nak Dewa nya sendiri tidak setuju.” “Terus, kenapa Zahara sampai menangis seperti itu, Abi? Umi nggak

