“Dewa, berhenti!” Pagi ini, suara Buk Nana menggelegar hingga penjuru sekolah. Suasananya yang masih sepi karena belum banyak siswa yang datang. Dewa yang saat itu tengah berjalan santai di koridor, terpaksa menghentikan langkahnya. Berbalik dan melihat Buk Nana yang baru datang dengan raut wajah kusut. “Pagi, Buk,” sapanya ramah. Buk Nana mendekat, menatap Dewa lekat. “Kemarin kamu ke mana?” tanya Buk Nana tanpa basa basi. “Nggak ke mana-mana, Buk, di rumah aja. Umi nggak suka Dewa keluyuran, takut nanti ada yang nyulik.” Dewa tersenyum, menampilkan gigi putihnya. Buk Nana semakin melayangkan tatapan tajan pada Dewa, tapi pria itu malah tidak menggubrisnya. “Kemarin kamu bolos saat jam pelajaran Pak Santul. Kamu tau, nggak? Pak Santul kalau sudah marah seperti apa orangnya?” “Tau,

