Masuk ke tubuh majikan
Masuk ke tubuh majikan
Merasa lelah dan cemburu buta, Yuri - seorang istri yang merasa diabaikan oleh suaminya nekat mengakhiri hidupnya dengan cara melompat terjun bebas dari ketinggian mencapai 15 meter menuju sebuah sungai deras yang mengalir lembut.
Tak ayal, Lira - gadis biasa yang selama ini menjadi salah satu temannya pun panik lalu ikut menceburkan dirinya demi menyelamatkan nyawa Yuri- sang majikannya.
Di dalam air yang tak terlalu dalam, Yuri mendorong tubuh Lira agar menjauhinya, namun Lira tak sedikitpun berniat untuk melepaskan wanita yang tengah putus asa tersebut, dengan bahasa isyarat keduanya pun saling berlawanan dengan tujuan masing-masing.
Yuri yang terus-menerus menodong tubuh Lira. Namun Lira, justru sebaliknya, gadis itu gigih menarik-narik tubuh majikan mudanya tersebut.
Dalam hitungan puluhan detik, tubuh Yuri pun melemas kekurangan oksigen. Tak tinggal diam, Lira pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah majikan mudanya tersebut demi memberikan pasokan oksigen untuk wanita yang tubuhnya sudah mulai lemah tersebut.
Lira mendekatkan mulutnya pada mulut Yuri, meski samar, keduanya saling beradu tatapan.
Mata Lira membulat sempurna, sesuatu yang dirasakannya aneh. Detik berikutnya, keduanya pun tak sadarkan diri.
***
Beberapa hari kemudian ....
POV Lira
Aku terbangun dalam keadaan dadaku yang terasa sesak dan kepala pusing. Seluruh ruangan terlihat warna putih dan aroma khas obat-obatan. Kuyakin ini adalah rumah sakit.
Kusisir keadaan sekitar, terlihat Tuan Felix dengan wajah kusutnya yang tengah terjaga menatap ke arah lantai. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Tatapannya begitu fokus.
Iya! Tuan Felix. Eh, tunggu! Tuan Felix? Ngapain suami majikanku ada disini. Dan ... Aku juga ngapain ada disini? Terakhir yang kuingat adalah ...
"Kamu ngapain bunuh diri?!" tanya Tuan Felix menatapku sengit. Ia dengan cepat menghampiriku. Terlihat kentara kekesalannya padaku. Aku terkejut dengan pertanyaan Tuan Felix, hanya mengerutkan kening dengan pertanyaan tuan dingin tersebut.
Cih! Benar kata Non Yuri, Tuan Felix memang suami dingin yang nyebelin. Bahkan padaku saja sikapnya begitu dingin dan ketus.
"Jawab!?" tuntutnya padaku. Aku tak mengerti mengapa Tuan Felix bertanya padaku tentang bunuh diri. Karena yang bunuh diri adalah istrinya, Non Yuri. Bukan aku, seorang Lira. Anak babu yang diperlakukan seperti keluarga sendiri oleh Non Yuri dan Nyonya Yantini.
"Jawab! Aku ngomong sama kamu!" bentaknya kesal. Pria itu begitu arogan dan terlihat mendominasi percakapan kami. Aku tak mengerti dengan pola pikir Non Yuri, apa yang dilihatnya dari seorang Tuan Felix yang ketus.
Apa karena dia tampan? Gagah perkasa dengan tubuh yang tinggi dan berotot? Atau karena Tuan Felix pintar dan cerdas, serta gigih? Atau ... Akh ... Ternyata ada banyak kelebihan yang dimiliki oleh Tuan Felix. Pantas saja Non Yuri begitu cinta mati terhadap pria dingin ini.
"Jawab Yuri!" tanyanya lagi, membuyarkan lamunanku dari pikiran anehku.
"Tuan, anda salah paham. Bukan saya yang mau bunuh diri. Tapi Non Yuri," jawabku merendah. Meski sebenarnya hatiku kesal dengan sikap Tuan Felix yang ketus. Ternyata itu sipat aslinya. Bukan sikap ketusnya pada Non Yuri saja. Padaku pun demikian ketusnya.
Tuan Felix mengangguk-angguk pelan, kedua tangannya memegangi pinggangnya, "Yuri! Bersikaplah waras. Kamu tuh sudah dewasa! Sampai kapan akan bersikap kekanak-kanakan!" tegurnya sinis.
Aku semakin mengerutkan kening keheranan. Yuri? Apa Tuan Felix mengigau? Aku Lira, bukan Non Yuri.
"Tuan, saya tuh Lira ... Bukan Non Yuri, " sangkalku bingung.
"Non Yuri," sapa ibuku lembut, matanya sembab. Aku terkejut dengan sapaan ibuku. Beliau pun menganggap bahwa aku adalah Non Yuri. Apa-apaan ini?
Aku menggeleng pelan, "Bu, Aku Lira," jawabku seraya meraih tangan keriputnya. Tangan yang selalu hangat membelaiku.
"Cukup Yuri! Ini semua karena kamu! Gara-gara kamu yang hendak nenggelamin diri ke kolam, gara-gara ulah konyol kamu, saat ini Lira koma karena menolong kamu!" bentak Tuan Felix.
What? Bunuh diri? Yang ingin berbuat demikian tuh Non Yuri! Istrinya.
"Gara-gara kamu yang mau bunuh diri, Lira pun jadi terbaring koma!" Tuan Felix mengulang kembali ucapannya.
Aku tercengang dengan ucapan majikanku tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka mengira bahwa aku adalah Non Yuri?
Bi Lela sesegukan kecil. Aku menggeleng pelan, "engga Bu, ini Lira, Bu. Aku disini! Aku anak Ibu! Bujukku pelan. Meyakinkan wanita yang melahirkanku.
Ibuku pun menutup matanya, seolah melerai rasa sedihnya. Matanya penuh dengan air mata yang membanjiri kelopak matanya.
"Jangan ngaco kamu! Meski kamu bersalah dan mengklaim diri kamu sebagai Lira, kamu gak bisa bohongin kita semua, Yuri!" Potong pria dingin itu, lagi-lagi Tuan Felix membentak diriku. Tak bisakah ia bersikap lebih baik padaku. Aku benci diperlakukan tak lembut.
"Enggak! Aku Lira! Bukan Non Yuri!" sangkalku menjerit keras dan menutup telingaku.
"Non Yuri, sabar Non. Lira pasti akan sadar kembali, kita berdoa saja pada Gusti Allah semoga Lira segera sembuh," ibuku menghiburku. Aku sungguh tak mengerti mengapa mereka mengira bahwa diriku adalah Yuri.
"Non sabar, ya. Bibi tau Non Yuri gak bermaksud untuk membuat Lira terbaring koma. Bibi yakin ini hanya salah paham saja, Bibi tau kalian berteman dekat," ucapnya memelukku. Aku pun balas memeluk ibuku. Menumpahkan kebingungan yang terjadi.
"Aku Lira, Bu," ucapku lagi. Tetap menyangkal.
"Nih!" dengan wajah geram dan kesal, Tuan Felix menyodorkan sebuah cermin padaku. Entah darimana ia dapatkan sebuah cermin.
Aku meraih cermin yang diberikan Tuan ketus padaku.
Damn! Dadaku terasa bergemuruh hebat saat mataku melihat wajah Non Yuri dalam cermin. Bibirku bergetar hebat menahan kebingungan yang terjadi. Apa-apaan ini? Mengapa wajahku jadi berubah menjadi wajah Non Yuri - majikanku?
Ini benar-benar tak terduga. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah mungkin tubuhku bertukar posisi dengan Non Yuri? Aku yakin bahwa diriku adalah Lira, putri Bi Lela yang selama belasan tahun ini bersahabat dekat dengan Non Yuri, yang dikarenakan kami seusia. Bahkan tanggal lahir pun kami sama. Hanya berbeda tempat dan waktu. Juga nasib dan takdir, sebagai nyonya dan babu.
Tuhan, apa yang terjadi? Meski hidupku tak seberuntung nasib Non Yuri, tapi aku cukup bersyukur terlahir menjadi sosok Lira, putri Bi Lela, sang ART yang mencintaiku sepenuh jiwanya.
Tidak! Aku tak mau menjadi diri orang lain. Aku pun sungguh tak berniat lancang mengambil alih sosok Non Yuri yang baik hati. Meski manja dan sedikit egois. Tidak! Aku tak ingin menjadi orang lain.
"Akhhhhh!" aku berteriak kembali seraya menutup telingaku. Melemparkan cermin ke arah sembarangan.
"Non, sabar Non Yuri. Lira akan segera sembuh kok. Bibi sedikitpun tak marah atas kejadian ini. Karena ini semua kehendak Gusti Allah," ibuku kembali menghiburku. Dia begitu tabah menghadapi ujian ini.
Aku meraung-raung dalam tangis yang tak dapat ku bendung. Ini benar-benar sulit untuk kuterima. Aku tak ingin menjadi orang lain. Sungguh!
Beberapa saat kemudian datanglah beberapa perawat yang terlihat tergesa-gesa menghampiriku. Sekilas, terlihat Tuan Felix yang mondar-mandir dengan wajah yang resah.
"Suster! Tolong Yuri, sepertinya Yuri depresi," desah Tuan Felix yang mulai terlihat gelisah. Tangannya aktif memainkan gawainya. Kuyakin ia menghubungi seseorang. Entah siapa.
"Enggak! Saya bukan Non Yuri! Kalian salah paham!" teriakku lantang dengan deraian air mata. Tanganku aktif menghalau tiga suster yang hendak menjangkau diriku.
Dari sudut mata, kulihat ibuku menutup mulutnya dengan tangisan pilu, meski tanpa suara yang keras.
"Bu, Aku Lira, Bu!" seruku pasrah saat para suster tersebut memegangi lenganku. Satu diantaranya bergegas menyuntikkan obat padaku. Mungkin itu obat bius agar diriku tak berontak. Sial.
Hanya dalam beberapa waktu tubuhku terasa melemas. Kepalaku terasa berat, pandanganku pun terasa kabur. Detik berikutnya aku tak lagi mengingat apa yang terjadi.
Garut perbatasan, 1 Oktober 2021