Dimuka bumi ini, tak ada wanita yang paling kubenci selain satu nama. Yuri. Ya, Yuri adalah wanita yang paling menyebalkan yang pernah kutemui seumur hidupku.
Sikapnya yang manja, cengeng, dan egois, membuat diriku merasa muak melihat tingkahnya.
Apa yang diinginkan oleh seorang Yuri, haruslah selalu terwujud. Meski harus mengorbankan kepentingan orang lain demi memenuhi keinginan dirinya sendiri. Itu membuat rasa benciku mengakar kuat.
Sialnya, dia malah jatuh cinta padaku. Parahnya, ia pun mengaku kepada semua orang bahwa diriku adalah pria pujaan hatinya.
Cih! Sedikitpun aku tak bangga ditaksir oleh wanita yang tak memiliki atitude. Kelakuannya sungguh buruk. Mau bagaimana nanti dengan putra-putriku dimasa depan kelak.
Tragisnya, tanpa bertanya pada diriku, ia dengan lancangnya melamar diriku sebagai calon suaminya, pada ibuku.
Malangnya, ibuku dengan senang hati menerima lamaran dari gadis menyebalkan tersebut.
Aku pernah menolak mentah-mentah pada ibuku, tentang lamaran dari Yuri. Namun, yang terjadi adalah drama ibuku yang mengutuk dirinya sebagai seorang ibu yang tak berguna. Pun melaknat diriku anak yang tak mampu membeli hati ibunya.
"Ibu hanya akan menerima Yuri sebagai menantu ibu!" ucapnya merajuk, kala dirinya dibawa ke rumah sakit dengan drama stroke ringan.
"Bu, aku ingin menikah dengan cinta," kilahku membela diri. Pun yang ku impikan adalah hal lumrah kala seseorang memutuskan untuk menikah.
"Cinta? Apa cinta bisa membuat kamu kenyang? Apa cinta bisa membuat kamu jadi jutawan? Ingat Felix! Kita ini bukan orang yang berada! Hanya dengan cara menikah dengan Yuri, hidup kamu bisa sejahtera! Dengan begitu, kamu bisa menunjukkan pada ayahmu, bahwa kamu bisa sukses tanpa bantuan dia!" cecarnya meluapkan emosi.
Ini bukan yang pertama kalinya ia mengungkit luka di masa silam. Ibuku selalu menyinggung tentang ayah yang mencampakkan aku dan ibuku demi wanita yang kaya raya.
Ayahku yang egois, rela membuang kami, belasan tahun lalu, demi hidup yang lebih baik. Ibuku yang menolak mentah-mentah untuk dimadu, lebih memilih membawaku pergi dengan kekecewaan yang menggunung.
Ayahku bahkan tak memberiku nafkah satu rupiah pun demi membuktikan pada ibuku, bahwa hidup ini butuh uang.
"Felix, ibu mohon, Nak! Jangan hancurkan harapan ibu, kamu tahu kan' ibu tak pernah minta hal yang macem-macem, sama kamu," pintanya memelas. Membuyarkan lamunanku tentang kisah pahit di masa lalu. Tangannya erat memegangi tanganku. Sorot matanya berkaca-kaca.
"Tapi aku gak cinta sama Yuri, Bu," ucapku lirih. Mengatakan perasaanku yang sesungguhnya.
"Ibu tau. Tapi cinta bisa hadir karena terbiasa bertemu. Nantinya, kalian akan saling mencintai satu sama lain. Percayalah sama ibu," ia terus meyakinkan diriku.
Aku menghela napas panjang dengan permintaan ibuku tersebut.
"Zaman dulu nikah juga kadang gak butuh cinta. Tapi mereka bisa langgeng. Kamu anak baik, ibu yakin kalian akan bisa menemukan jalan kebahagiaan kalian," bujuknya lagi.
"Felix gak lihat sikap baik dan positif dari Yuri, Bu," jawabku apa adanya.
"Hus! Jangan syuudzon, barangkali nantinya Yuri bakal berubah saat nikah sama kamu. Justru itu tugas kamu untuk mendidik Yuri ke arah yang lebih baik lagi," ucapnya keukeuh bahwa aku harus menikahi gadis itu.
"Terus gimana kalau Yuri nantinya gak berubah juga?" tanyaku.
"Haduuuuh! Yang penting saat ini tuh, kalian nikah aja dulu, ya'! Soal sikap Yuri, nanti kita sama-sama bimbing dia," tukasnya menutup pembicaraan kami.
Aku mengangguk samar, jiwaku rasanya hampa saat memutuskan untuk menikah dengan wanita yang tak kucintai sedikitpun. Terlebih wanita itu sangat menyebalkan.
Tak selang berapa lama, akhirnya aku dan Yuri pun melaksanakan akad pernikahan secara khidmat di sebuah masjid besar yang dihadiri oleh banyak orang. Terutama kalangan pegawai Nyonya Yantini.
Sedikitpun aku tak merasa bahagia dengan pernikahan ini. Sedangkan Yuri, terlihat begitu ceria dan penuh bahagia.
Usai ijab kabul, kami pun pergi menuju sebuah gedung yang telah dipilih oleh Yuri untuk acara resepsi pernikahan kami. Gedung mewah yang indah. Sayangnya, sedikitpun tak berkesan dihatiku.
Cukup banyak tamu yang hadir. Terutama dari kalangan elit dan kawan bisnis Nyonya Yantini. Tak lupa, para teman sejawat Yuri yang berjubel hadir. Pun seorang pria yang bernama Dion. Ia adalah sahabat dekat Yuri.
"Titip Yuri, ya Bro!" ucapnya canggung. Senyumnya hambar dan terlihat dipaksakan. Seperti posisiku saat ini.
Aku mengangguk tanpa hati, entahlah bagaimana caraku menjaga Yuri. Karena gadis itu terlalu menyebalkan untuk dicintai.
Aku menghela napas panjang saat memikirkan apa yang terjadi dalam hidupku saat ini. Hanya bisa menjalani hidup dan napas dengan apa adanya.
Jika ditanya apakah aku menyukai seseorang? Tepatnya seorang gadis? Ada.
Ya, tentu saja, aku pria normal yang bisa juga menyukai wanita.
Tak tanggung-tanggung, aku bahkan menyukai dua gadis sekaligus. Gadis yang pertama, gadis itu memiliki kepribadian yang anggun dan elegan.
Gadis yang kedua, gadis itu memiliki karakter yang ceria dan cerdas.
Siapakah dia?
Dia adalah ...
"Selamat ya Felix, semoga pernikahannya langgeng," ucap Mita, kawan dekatku yang anggun dan elegan. Tatapannya terhadapku begitu sayu.
Aku kembali mengangguk pelan. Memberikan senyuman hambar dihari yang begitu istimewa tersebut. Itu menurut orang lain. Bukan menurutku.
Mita pun melangkahkan kakinya mendekati Yuri, "selamat ya buat pernikahannya. Semoga langgeng," ucapnya lagi. Yuri mengangguk penuh kegembiraan. Terbalik dengan diriku.
"Selamat ya Yuri, akhirnya bersatu dengan orang yang disemogakan," ucap Lira, kawan dekat Yuri yang ceria. Mereka berdua pun berpelukan penuh kebahagiaan.
"Selamat ya Den Felix," ucap Lira mendekatiku. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Memperlihatkan senyum hambarku. Senyum yang sekuat hati ku paksakan.
"Bulan madu kemana nih?" tanya Lira ceria.
"Aku sih maunya ke Bali, atau keluar negeri. Soalnya ... "
Dari ujung mata, dapat kulihat Mita yang tertegun dengan pertanyaan seru yang dilontarkan oleh Lira pada Yuri.
"Untuk saat ini kami belum bisa melaksanakan bulan madu dikarenakan saat ini ada banyak banget pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan," potongku tegas tanpa melihat ke arah sang penanya. Membuang tatapan ke arah lain.
Mereka bertiga pun terdiam dengan jawabanku. Tatapan mata Mita begitu serius menatap ke arahku.
"Ou gitu ya. Ya udah gapapa. Beresin aja dulu pekerjaannya. Nanti kalau udah rileks dengan pekerjaannya baru otewe liburan bulan madu. Biar bulan madunya fokus," timpal Lira cekikikan. Tangannya erat memegangi tangan Yuri.
Yuri pun mengangguk-angguk setuju. Sedangkan Mita kembali menunduk sendu dengan prediksi Lira.
Aku hanya menghela napas panjang dengan ucapan gadis itu. Terserah mereka berpikir apa tentang pernikahan ini.
Karena yang terpenting saat ini bagiku adalah pernikahan atas perintah ibuku. Hanya nikah kah? Bukan berlanjut ke arah bulan madu.
Lagipula, bulan madu yang dipaksakan akan terasa menyakitkan. Bukannya terasa indah dan berkesan.
Demi apapun, aku akan mencoba mengutarakan sejuta alasan untuk menolak mentah-mentah bulan madu itu. Sebisa mungkin tak ada yang akan terjadi antara aku dan Yuri. Aku terlalu muak melihat tingkahnya.
Aku bukan boneka Yuri!
Bersambung ...
Garut perbatasan, 2 Oktober 2021
By : Juwita Abdillah