Detik jam yang berputar terdengar jelas di telingaku. Mataku perlahan terbuka perlahan.
Kulihat disekitar hanya ada Bi Lela yang tengah berjaga.
Air mataku mengalir pelan saat melihat ibuku yang begitu setia terhadap keluarga Nyonya Yantini. Ibundanya Yuri.
"Nyonya Yantini sudah sangat baik terhadap kita, Neng. Maka kita pun harus bisa memberikan sikap terbaik kita untuk Nyonya Yantini," tekan ibuku kala itu, kala tangannya dengan lembut mengepang rambutku di usiaku yang ke 15 tahun.
Aku pun mengangguk setuju. Memang itu yang kurasakan dari keluarga Nyonya Yantini dan Non Yuri.
"Nyonya Yanti juga sudah baik hati menyekolahkan Neng ke sekolah terbaik sama Non Yuri. Kamu beruntung Neng, bisa sekolah di tempat yang terbaik sama Non Yuri. Ibu lihat, Non Yuri juga sayang sama kamu, Neng. Jadi, kita tak boleh mengecewakan mereka. Toh mereka juga sudah memperlakukan kita seperti keluarga sendiri," terang ibuku mengingatkan. Ini sudah lebih dari 200 kali ibuku mengatakan hal demikian, di sepanjang usia 15 tahunku. Sudah bosan telingaku mendengarnya.
"Kemarin, Ibu melihat bapakmu di supermarket sama keluarganya," ucapnya pelan.
"Terus?" tanyaku tak bersemangat. Saat membahas tentang bapak, ibu memang selalu murung dan penuh sedih. Kutahu luka yang digoreskan oleh bapak terlalu dalam dan menyakitkan. Lucunya, ibu selalu saja membicarakan tentang bapak meski mereka berdua sudah tak ada lagi ikatan.
"Ya gapapa, Ibu sudah lama belajar melepaskan bapakmu," jawabnya sok tegar. Padahal kutahu dihati ibu, bapak adalah satu-satunya pria yang bertahta atas nama cinta.
Ibu selalu mengatakan, seandainya dirinya menjadi orang kaya raya, atau gadis yang terpelajar, mungkin saja mertuanya takkan menganggap rendah ibuku. Mungkin saja bapak pun takkan terpaksa meninggalkan ibu demi hidup yang lebih baik lagi.
Bapak adalah anak yang dimanjakan oleh orang tuanya. Saat nekat mencintai ibu dan menikah dengan ibu, bapak tak mampu hidup di dalam kesusahan.
Keluarga bapak pun meyakinkan bapak agar bercerai dari ibuku dan menikah dengan gadis pilihan keluarga bapak, alias pilihan nenekku.
Dengan berat hati, bapak pun melepaskan ibuku karena tak sanggup hidup dalam kesusahan. Bagiku, bapak adalah pria pecundang.
Lalu, ibu akan marah saat aku mengatai hal-hal jelek tentang bapak.
Terbukti kan' bahwa dihati ibu, bapak tetap bertahta atas nama cinta.
Jika sudah demikian, aku hanya berpura-pura paham tentang perasaan ibu terhadap bapak. Pura-pura paham mengapa bapak meninggalkan ibu demi harta.
"Seburuk apapun bapakmu, Neng, dia tetaplah bapakmu yang suatu saat kamu akan butuh perwalian darinya saat nikah nanti," pesannya mengingatkan lagi.
"Pake aja wali hakim," usulku tegas.
"Hus! Udah Neng. Apapun yang terjadi dia tetap bapakmu. Kamu gak boleh benci dia, ya'!" titahnya.
Aku mendengus kesal seraya mengangguk.
"Non Yuri sudah bangun?" sapa ibuku lembut. Membuyarkan lamunanku yang melayang ke masa silam.
"Non Yuri butuh minum? Bibi ambilkan air ya?" sarannya. Aku mengangguk pelan.
"Non Yuri jangan khawatir, Lira baik-baik aja kok. Satu jam sekali, Bibi gantian berjaga dengan pelayan yang lain. Satu jam sama Non Yuri, satu jam sama Lira," terangnya seraya menyodorkan air mineral padaku. Aku tersenyum tipis tanpa ucapan.
Pikiranku masih melayang tentang apa yang terjadi saat ini. Sulit ku percaya bahwa saat ini aku berganti posisi dengan Non Yuri.
"Nyonya akan segera pulang lagi. Katanya ada banyak pekerjaan yang tak bisa ditunda. Tapi hampir setiap waktu, Nyonya selalu mencari tahu perkembangan Non Yuri. Untuk Lira pun, Nyonya sudah memberikan pelayanan yang terbaik dengan memberikan perawatan terbaik di rumah sakit dengan kelas VIP room," jelasnya panjang lebar.
"Lewat video call, Nyonya memantau perkembangan Non Yuri dan Lira. Zaman sekarang memang canggih ya Non," cetusnya.
Aku menatap nanar pada ibuku. Menyadari tatapanku, ibuku pun menghentikan aktivitasnya yang tengah mengupas buah untukku.
"Non Yuri kenapa?" tanyanya cemas.
"Bolehkah saya menjenguk Lira?" tanyaku berkaca-kaca. Tepatnya menjenguk jasadku.
Ibuku pun mengangguk setuju, "tentu boleh Non," jawabnya mantap. Mengelus pucuk kepalaku. Aku tersenyum tipis dengan sikap lembut ibuku.
"Bibi ambilkan dulu kursi roda ya," pamitnya seraya melangkahkan kakinya menuju ke luar ruanganku. Aku mengangguk setuju.
Tak berapa lama kemudian, ibuku pun membawakan ku sebuah kursi roda. Disusul dengan dua orang perawat muda.
Dengan perlahan dua perawat muda tersebut, membantu menyangga tubuhku untuk berpindah tempat ke kursi roda.
"Makasih suster," ucapku lirih.
"Yuk, Non!" ajak ibuku seraya mendorong lembut kursi roda menuju sebuah ruangan.
Dadaku berdegup kencang memikirkan apa yang terjadi saat diriku melihat jasadku sendiri. Tubuhku terasa panas dingin dan degdegan tak karuan.
Aku dan ibuku pun sampai di sebuah ruangan setelah beberapa menit kami berdua melewati beberapa ruangan sebelumnya.
Pintu pun terbuka lebar dibukakan oleh seorang wanita yang selalu menunggui ruangan yang terbaring sesosok tubuh wanita yang tak sedikitpun bergerak di ranjangnya.
Dadaku berdegup kencang, bahkan telingaku pun mampu mendengar detak jantungku. Perlahan tapi pasti, kursi roda yang kutumpangi pun mendekati tubuhku. Tubuh seorang Lira.
Mataku membulat sempurna dengan pemandangan yang sulit ditebak oleh nalar, bahkan oleh nalarku sendiri.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, melihat jasadku yang tergeletak lemah. Aku menutup mulut untuk meredam suara tangisku.
Tangisku pecah melihat tubuhku yang tak berdaya. Jika aku terjebak di dalam tubuh Non Yuri, lalu bagaimana dengan Non Yuri? Dimana dia sekarang.
Aku meraung-raung dalam kekalutan saat memikirkan bagaimana dengan nasib Non Yuri. Dadaku terasa bergemuruh hebat mempertanyakan mengapa keadaan ini terjadi? Mengapa hal ini harus terjadi padaku dan Non Yuri.
Selama ini, yang kutahu, aku selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tentang Non Yuri, meskipun sikapnya sedikit menyebalkan, tapi hatinya cukup tulus.
Dalam pecah tangisku, ibuku pun erat memelukku dengan turut serta menitikkan air matanya.
"Sabar Non Yuri, Lira pasti akan sadar kembali. Ini ujian Non. Jangan terlalu dibawa pikiran," ucapnya menghiburku.
Aku berpelukan erat dengan ibuku. Ibu yang menganggap bahwa aku adalah majikannya.
Ibu yang memiliki porsi cinta yang sama terhadapku dan terhadap Non Yuri. Ibu yang selalu mengajarkanku agar mencintai Non Yuri seperti cinta seorang saudara kembarnya.
Toh kami terlahir di hari yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang sama. Begitu kata ibuku.
"Non Yuri, ayo kita ke kamar lagi ya, Non Yuri harus istirahat lagi. Mungkin, jika tak ada halangan, besok Nyonya akan pulang. Nanti Nyonya akan marah jika melihat keadaan Non Yuri yang seperti ini," bujuknya menerangkan sebuah akibat.
Aku mengangguk setuju untuk pergi beristirahat, dengan mempertimbangkan bujukan dari ibuku. Akan sangat merepotkan jika seandainya keadaanku saat ini terlihat kacau balau. Ibuku mungkin akan terkena dampak negatif. Mungkin Nyonya Yantini akan menganggap ibuku kurang peduli pada Non Yuri.
Dengan hati yang masih berat untuk meninggalkan jasad tubuhku, aku pun terpaksa mengikuti saran ibuku untuk beristirahat. Ini demi kebaikan bersama. Pikirku panjang.
Kursi roda pun kembali maju menuju sebuah ruangan yang beberapa waktu belakangan, menjadi kamar pribadiku yang menjenuhkan.
Non Yuri, kamu dimana, Non? Lira khawatir. Apakah Non Yuri bersembunyi di dalam jasad Lira?
Kapan-kapan lagi, Lira pasti akan menjenguk lagi jasad Lira. Menjenguk Non Yuri, Lira janji, Non. Batinku berikrar.
Bersambung ...
Garut perbatasan, 4 Oktober 2021
By Juwita Abdillah