Malam bertaburan bintang yang bersinar dan indah. Namun tak seindah hati dan pikiranku saat ini.
Pikiranku semrawut dengan keadaan yang tak bisa ku jelaskan pada siapapun. Entah apa yang harus kulakukan agar ibuku dan Tuan Felix percaya bahwa aku adalah Lira. Teman dekat Non Yuri.
Pintu terbuka lebar dibukakan oleh Tuan Felix dengan kasar. Wajahnya dipenuhi oleh amarah saat menatapku. Apa dia sebenci itu pada pemilik jasad ini?
Cih! Tampan yang tak berguna.
Aku tak menggubris kedatangan Tuan Felix. Hanya sekadar menoleh kearah pria yang memasuki ruangan rawat inapku. Lalu kembali menatap bintang di langit melalui kaca jendela. Indah yang fatamorgana.
Pria dingin itu pun mondar-mandir di ruanganku. Sedikitpun aku tak ingin tahu apa yang saat ini tengah terjadi dalam hidupnya. Kuyakin saat ini dirinya tengah berada dalam masalah. Terlihat dari bagaimana sikapnya yang kalut. Sayangnya, aku tak ingin peduli. Toh hidupku pun saat ini terlalu rumit untuk dipikirkan. Lagipula, dia juga belum tentu peduli terhadap pemilik tubuh ini.
"Kamu tau gak Yuri, gara-gara kelakuan kamu yang gila ini, aku harus gigit jari karena kehilangan partner bisnis dari klienku! mereka pikir, aku tuh gak serius menggarap kontrak dengan perusahaan mereka!" keluhnya padaku. Aku tak peduli. Juga tak ingin bertanya. Tubuhnya masih mondar-mandir di ruanganku.
"Oh ya," jawabku santai. Aku tak ingin bertengkar dengan pria yang sudah jelas-jelas membenci Non Yuri. Bukankah dimata orang yang membenci, hanya mampu melihat sisi buruknya saja?
Mungkin begitu pun dengan Tuan Felix saat ini. Apa yang dilakukan oleh Non Yuri hanyalah ada kesalahan dan kekeliruan semata. Tak ada sedikitpun empati mengapa istrinya ingin mengakhiri hidupnya. Sejatinya, tak ada orang yang dimuka bumi ini ingin mati di usia yang masih muda.
Bahkan, seseorang yang lanjut usia pun tak begitu saja ingin mati. Apalagi Non Yuri, yang notabene wanita cantik dan muda. Terlalu mengherankan jika dirinya ingin mati konyol jika bukan karena muak atas perlakuan suaminya. Kuyakin Non Yuri terlalu mentok dalam masalah ini. Selalu disalahkan dan disalahkan.
Jadi, percuma saja jika aku hendak beradu argumen dengan orang yang hanya melihat sisi buruk sang pemilik asli jasad ini.
"Oh ya? Kamu cuma bilang oh ya? Kamu setenang itu saat aku kehilangan proyek yang berpotensi mendapatkan profit sekitar 2 triliun?" tanyanya tak percaya dengan sikap acuhku terhadap masalah yang dihadapinya. Tangannya bertolak di pinggangnya yang kekar. Terlihat seperti bos yang tengah memarahi anak buahnya.
"Terus apa? Apa mesti aku ganti rugi?" tanyaku mendelik. Entah apa maunya orang ini. Benar-benar tak tahu diri, bukankah perusahaan yang dijalankannya adalah perusahaan ibunya Non Yuri?
"Ini bukan masalah ganti rugi! Tapi ini masalah sikap kamu! Harusnya kamu dukung aku untuk proyek besar ini! Bukan malah mengacaukan keadaan yang membuat aku harus pinter-pinter bagi waktu untuk ngurusin orang dewasa yang kekanak-kanakan kaya kamu!" ucapnya menyudutkan ku.
Aku tersenyum sinis. Pikiranku bertanya-tanya apakah Non Yuri diperlakukan seperti ini setiap harinya?
Jika iya, aku sangat menyayangkan sikap bodoh Non Yuri yang mau -maunya menikahi pria anggkuh seperti ini.
"Aku harap, ini yang terakhir kalinya kamu buat onar!" tekannya tegas. Meski kesal kulihat Tuan Felix pun berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya.
"Oke!" jawabku acuh. Seraya kembali memalingkan wajah dari pria yang sejak awal aku siuman, selalu saja menekanku. Rasanya muak.
"Oke? Ringan banget kamu ngucapin kata oke!" protesnya kesal. Seolah kembali terpancing emosi oleh sikap cuekku.
"Terus apa?" tanyaku datar. Bersikap masa bodo.
"Seenggaknya kamu belajar minta maaf atas kesalahan yang udah kamu buat!" jelasnya. Sikapnya begitu mengintimidasi padaku.
"Oke! Aku minta maaf," ucapku apatis. Tunduk pada keinginan pria itu. Agar percakapan kami berdua segera selesai. Dengan begitu pria dingin itu secepatnya pergi dari hadapanku. Rasanya mataku perih saat melihat pria menyebalkan itu.
"Yuri! Kamu ... "
"Yuri!" potong seorang pria dari arah pintu yang terbuka lebar dengan tiba-tiba. Suaranya terdengar nyaring memanggil nama Non Yuri. Hingga Tuan Felix pun terdiam karena terpotong oleh kehadiran sahabat Non Yuri.
Aku dan Tuan Felix pun refleks secara bersamaan menoleh ke arah pemilik suara.
Terlihat Den Dion yang tengah ngos-ngosan mengambil napas, kuyakin ia telah berlari demi segera bertemu dengan Non Yuri. Pria tampan itu begitu mengistimewakan Non Yuri, dia adalah sahabat dekat Non Yuri.
"Yuri! Lu gapapa kan?" tanyanya mendekatiku dengan napas yang tersengal-sengal. Aku menoleh ke arah Tuan Felix, pria itu pun memalingkan tubuhnya dengan ekpresi kesal. Mungkin karena percakapan kami terputus.
"Yuri! Lu baik-baik aja kan?" Den Dion mengulang tanyanya padaku. Meletakkan tangannya pada keningku. Ia begitu perhatian, meski aku terlihat baik-baik saja. Buktinya aku sudah siuman dan duduk dengan baik.
Ragu untuk kukatakan padanya, apa yang sebenarnya terjadi. Namun, apa salahnya untuk mencoba mengutarakan sebuah kenyataan.
"Den Dion, saya tuh bukan Non Yuri. Saya adalah Lira," jawabku pelan. Berharap ia tak berpikir aku tak waras.
Den Dion pun terpaku dengan ucapanku. Ia menutup mulutnya dengan tangannya. Tercengang dengan penuturanku. Syukurlah, kuharap Den Dion percaya pada ucapanku.
"Yuri, Gua sahabat Lu, sorry kalau Gua gak lagi perhatian sama Lu, ampe Lu ngaco kayak gini," hiburnya lembut. Ia pun duduk di sampingku. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Astaga! Kupikir Den Dion yang tercengang barusan dikarenakan mencerna dan mempercayai ucapanku. Ternyata ...
"Ini semua salah Lu, Felix! Kalau seandainya Lu sedikit aja bisa lebih bersikap baik sama Yuri, gak mungkin Yuri se-error ini!" protes Den Dion menoleh ke arah Tuan Felix.
"Salah Gua?!" Tuan Felix mengulang ucapan Den Dion. Matanya menyipit menatap diriku kesal. Damn! Tuan Felix pasti semakin menyalahkan Non Yuri.
"Iya!" sahut Den Dion tegas.
Tuan Felix tersenyum sinis, "Pikir baik-baik, kalau aja Yuri punya sikap dewasa sedikit aja, gak mungkin kan dia ngelakuin hal segila itu!" bantah Tuan Felix, jari telunjuknya di rapatkan pada pada ibu jarinya. Tatapannya pada Den Dion begitu sinis. Pria itu tak terima jika dirinya disalahkan.
"Oooh, jadi Lu numpahin semua kesalahan ini pada Yuri? Apa Lu gak ngaca siapa yang duluan membuat kesalahan?" geram Den Dion yang terlihat emosi dengan sikap Tuan Felix. Aku kebingungan untuk melerai keduanya untuk tak berdebat di rumah sakit.
"Heh! Apa kamu pikir ada orang yang bisa tahan dengan kelakuan manja dan egoisnya Yuri?" bantah Tuan Felix.
Lagi-lagi pria itu menyalahkan Non Yuri. Begitu jujur ia menilai bagaimana sikap istrinya tersebut. Aku ingin bertanya, apa dia pernah mendidik Non Yuri agar istrinya tersebut memiliki sikap?
Sepertinya tidak! Toh diantara keduanya pun jarang berkomunikasi. Dasar pria menyebalkan.
"Cukup!" teriak seseorang yang berdiri balik pintu. Kami semua pun menoleh ke arah pemilik suara. Terlihat seorang wanita yang tengah berdiri menatapku tajam. Wanita yang berprofesi sebagai eksekutif muda yang cantik dan berwibawa.
Anggun ia melangkah kakinya menuju ke arahku. Aku mendelik kesal melihat wanita itu. Ia adalah teman dekat Tuan Felix. Namanya Mita Estianty.
Hah! Mau apa dia?
Bersambung ...
Garut perbatasan, 14 Oktober 2021