Keesokan paginya diawali seperti biasa. Bangun pagi dan siap-siap untuk berangkat ke sekolah setelah membuat sarapan dan bekal makan siang yang dibantu oleh Michiru. Di perjalanan menuju sekolah, aku dan Michiru bertemu dengan Yusuke yang sedang memegang roti panggang di sebelah tangannya. “Kau ini … apa tidak ada waktu untuk duduk diam di meja makan dan memakan sarapanmu seperti orang biasa pada umumnya?” tanyaku setelah melihat lagi-lagi Yusuke makan roti sambil berangkat menuju sekolah. “Mhm, selamat pagi juga, Akari, Michiru,” kata Yusuke yang jelas-jelas mengabaikan ocehanku. “Jangan biasakan makan sambil jalan!” sahut Michiru yang entah kena angin apa mengatakan sesuatu yang benar. Tetapi perasaan itu kembali kutelan setelah mendenga

