Rania dan Fajar kini sudah berada di rumah. Pasutri itu duduk di sofa ruang tengah. Rania terlihat fokus mengompres wajah Fajar yang dipenuhi memar. Sedangkan Fajar. Sejak tadi ia terdiam, matanya tak pernah lepas menatap wajah Rania lekat dengan jarak yang cukup dekat. Raut wajah pria itu terlihat sayu. Entah kenapa kini ia membenci dirinya sendiri. Perkataan Alvin kembali terngiang di kepalanya. Beruntung Rania tidak mengalami gangguan kejiwaan atas apa yang ia perbuat di apartemen malam itu. Jika itu terjadi, Fajar mungkin akan merasa sangat bersalah. Dirinya telah menghancurkan hidup gadis yang tidak pernah punya salah padanya. Alvin benar, Rania adalah gadis yang kuat. "Kenapa?" Rania yang baru sadar kalau sejak tadi Fajar menatap wajahnya, lantas bertanya. Fajar tidak menjawab. P

