~Selamat membaca~
Tok tok tok
Kendes tersentak dari lamunannya. Dengan sedikit bergegas wanita itu turun dari ranjang menghampiri pintu kamarnya yang di ketuk dari luar.
Klek
"Kellen?" Kendes menatap putranya dengan heran. Namun Kellen hanya menyunggingkan senyum lalu menerobos masuk ke dalam kamar ibunya. Bukan hal aneh lagi bagi Kendes. Putranya kerap tidur bersamanya meski sudah remaja.
"Aku tidur sama mama malam ini, sepertinya mama kesulitan untuk tidur nyenyak." Celoteh Kellen merebahkan dirinya di kasur empuk sang ibu. Kendes menggeleng melihat tingkah putranya.
"Gak malu apa, sudah besar masih suka tidur bareng mama?" Canda kendes menggoda putranya.
"Kenapa harus malu? Itu tandanya aku sayang banget sama mama, dan mama sayang sama Kellen." Jawab anak itu enteng.
"Umur kamu sebentar lagi 15 tahun loh..." Ujar Kendes mengingatkan kembali.
"Aku tau, dan aku harap di ulang tahunku bulan depan aku mendapatkan kado yang spesial dan istimewa. Bukan berupa barang tapi lebih berkesan dan memiliki makna yang tak pernah terlupakan." Ungkap Kellen dengan mata terpejam. Kedua tangannya di takutkan di atas kening lebarnya.
Tampaknya permintaan sang anak begitu dalam sampai sampai Kellen tak berani menatap netra ibunya saat berbicara.
Kendes menarik nafas lalu menghembuskan perlahan.
"Mari kita membuat permohonan kepada Tuhan, apakah permintaanmu tak begitu sulit untuk di kabulkan." Ucap Kendes menghibur.
Kellen membuka kedua matanya lalu menatap penuh harapan kepada Kendes.
"Aku harap tidak ma, Tuhan tau doa anak baik sepertiku akan sangat sulit untuk di tolak." Balas Kellen tertawa kecil.
Akhirnya malam itu di gunakan ibu dan anak tersebut untuk bercerita ngalur ngidul, hingga akhirnya Kellen menyerah pada kantuk dan tertidur. Kendes tersenyum hangat melihat wajah tampan putranya yang tertidur damai di sampingnya.
Baginya Kellen selalu menjadi bayi kecilnya. Tak peduli sebesar apa anak itu bertumbuh, Kellen bagai lentera kecil yang menyinari malam malam kelamnya selama beberapa tahun terakhir.
"Berikanlah aku umur yang panjang agar bisa membahagiakan putraku, Tuhan." Doa Kendes sebelum akhirnya terlelap dalam mimpi indah menyusul Kellen yang lebih dahulu merangkai mimpinya.
Pagi tiba di kediaman Gilen, seperti biasanya rutinitas keluarga tersohor itu di isi dengan cengkramaan pagi hari ala para sultan, dan yang lain sibuk menyiapkan sarapan. Meski itu tak berlaku bagi Sofi dan beberapa anak gadis lainnya.
"Pagi son, bagaimana keadaan kantor selama papa pergi?" Tanya Philip yang rupanya baru tiba dari perjalanan bisnis subuh tadi.
"Semuanya berjalan baik yah," jawab Gilen lalu ikut bergabung bersama sang ayah dan beberapa sepupu juga pamannya. Di sana ada sang kakek, namun Gilen tak menyapanya sama sekali.
"Pagi om, Sean..." sapa Gilen kepada adik dari ayahnya. Juga Sean sang adik sepupu.
"Pagi juga kak,"
"Pagi nak," sapa sang paman juga Sean bersamaan.
"Itu bagus, ayah senang mendengarnya. Ayah harap kehadiran Sean di perusahaan semakin membuatmu terbantu dalam beberapa pekerjaan mendesak." Lanjut Philip menatap bangga putranya juga sang keponakan.
Sean tersenyum tipis menanggapi kalimat sang paman, sedangkan Gilen hanya mengangguk samar.
"Ah ya, ayah tak melihat Kellen sejak tadi pagi. Anak itu biasanya sudah berjalan jalan santai di taman belakang meski matahari belum muncul. Kemana anak itu sepagi ini sudah tak terlihat?" Tanya Philip heran. Dirinya memang lumayan dekat dengan cucunya itu, namun sayang pekerjaan Philip yang lebih banyak di luar negeri membuat dirinya tak memiliki banyak waktu untuk menemani Kellen saat menginap di sana.
"Kellen masih menginap di rumah Kendes yah, selama satu minggu ke depan Kellen akan berada di sana." Sahut Gilen.
"Why? Bukankah ini jadwal Kellen seharusnya berada di sini?" Tanya Philip kian heran. Tak biasanya Kellen mangkir dari jadwal yang sudah di sepakati bersama dengan sang ibu, jika bukan karena karena alasan yang kuat.
"Kendes sedang tak sehat beberapa waktu belakangan ini, ayah tau kalau Kendes tak bisa beradaptasi dengan perubahan cuaca ekstrim. Terutama bila musim penghujan seperti sekarang," terang Gilen mengingatkan sang ayah.
Di sofa lain, ada hati yang membara mendengar kalimat penuh perhatian yang Gilen ucapkan. Dia adalah Sofi. Wanita itu mengepal tangannya dengan erat berusaha menahan gejolak perasaan yang serasa tak di hargai oleh suaminya sendiri.
"Jangan buang buang energimu untuk memendam emosi kepada kak Gilen, karena akan percuma saja. Lebih baik fokus saja hidupmu agar kakek tak mendepakmu dari istana megahnya ini." Bisik Paula dengan nada meledek.
Paula adalah adik dari Sean. Ayah mereka adalah adik dari ayahnya Gilen. Jelas posisi Gilen lebih tinggi berdasarkan silsilah keluarga.
Sofi melirik adik sepupu suaminya dengan tatapan jengah. Dia tau Paula tak pernah menyukainya, namun tak memiliki kuasa untuk menentang kakeknya.
Sofi adalah jodoh pilihan Randall untuk Gilen jauh sebelum Gilen menikah dengan Kendes.
Menjadi cucu kesayangan seorang mantan perwira tinggi TNI, membuat status Sofi menjadi layak di mata Randall. Meski melalui jalur jabatan sang kakek yang kini bahkan sudah pensiun, Sofi tetap memiliki nama yang di segani di kalangan kelas atas.
Berbeda dengan Kendes yang hanya anak yatim piatu berasal dari panti asuhan, dan hidup sebatang kara setelah keluar dari panti.
"Kita lihat saja, setelah Gilen jatuh sepenuhnya dalam pelukanku. Kamu adalah orang pertama yang akan aku singkirkan dari keluarga ini," ucap Sofi penuh ancaman.
Namun Paula hanya terkekeh kecil tanpa rasa takut.
"Aku tunggu saat itu tiba, kakak ipar." Balas Paula berbisik pelan lalu beranjak pergi meninggalkan Sofi yang menatapnya penuh kebencian.
Entah apa masalah kedua wanita itu, namun hubungan mereka tak pernah baik sebelum Sofi menikah dengan Gilen sang kakak sepupu.
"Ayah ingat, lalu bagaimana keadaan Kendes sekarang? Sudah lama sekali ayah tak berjumpa dengan Kendes, ayah merindukan masakan rumahan yang selalu Kendes masak di dapur paviliun." Ucap Philip menerawang.
Kendes tak pernah di ijinkan untuk ikut masak di dapur rumah utama. Alasannya Kendes tak memahami selera makan keluarga Admaja. Padahal itu semua hanya untuk menyingkirkan Kendes agar tak ikut makan di rumah utama.
"Bisakah kita tak membahas tentang orang asing?" Potong Randall yang mulai jengah mendengar pembahasan mengenai Kendes di antara mereka.
"Kendes bukan orang asing jika saja papa lupa, Kendes adalah mantan menantu kesayanganku, ibu hebat yang telah membesarkan keturunan keluarga ini dengan didikan yang baik." Bela Philip tanpa rasa takut.
Ferdy menatap sang kakak dengan gelengan pelan agar Philip tak berdebat dengan ayah mereka. Namun bukan Philip bila tunduk pada perintah seseorang termasuk ayahnya sendiri.
"Kamu menyadari bahwa wanita itu hanya mantan menantumu, hargailah Sofi yang jelas jelas adalah menantu di keluarga ini. Sofi jauh di atas wanita rendahan itu, jangan pernah ada yang berani membahasnya lagi di rumah ini." Tegas Randall tak ingin lagi di bantah.
Di bantu oleh sang asisten pribadi, Randall meninggalkan ruang keluarga menuju ruang makan.
Meski langkahnya tak lagi segagah dahulu, namun kewibawaan Randall tak memudar sama sekali. Laki laki tua angkuh itu tetap memiliki kuasa atas hirarki Admaja.
TBC
Semoga masih suka ya teman teman.....
Salam sayang, author AQYa TRi