~Selamat membaca~
Sementara Gilen sejak tadi berusaha untuk menahan luapan emosi di hatinya, saat dirinya tak dapat membalas perkataan penuh hinaan kakeknya terhadap Kendes. Sejak dahulu Gilen selalu bungkam bila Kendes di rundung oleh keluarganya.
"Seharusnya ayah tau kamu tak akan pernah bisa di andalkan. Pantas saja Kellen lebih memilih Kendes, ketimbang merasa bangga memiliki ayah seorang bangsawan seperti dirimu." Pungkas Philip menatap Gilen penuh kekecewaan.
Laki-laki itu berharap sekali saja, Gilen memberikan pembelaan terhadap mantan istrinya. Namun sayang, putranya itu tetaplah pria pecundang yang sama seperti saat masih bersama Kendes. Tak heran mengapa Kendes begitu mudah menerima perceraian dengan putranya. Tak ada yang bisa wanita itu andalkan dengan tetap bertahan dalam pernikahan yang tak pernah membuatnya bahagia.
Philip beranjak menuju ruang makan membawa hati yang kecewa. Meski tengah bertikai sekalipun. tradisi makan bersama harus tetap berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dalam keluarga tersebut.
Ferdy mengusap lengan sang keponakan sembari tersenyum simpul.
"Kamu lebih tau apa yang harus kamu lakukan, ayahmu hanya meluapkan kekecewaannya saja. Jangan terlalu di pikirkan, ayo bersiap. Kita semua punya tanggung jawab di keluarga gatot kaca ini," canda Ferdy yang memang lebih santai dalam keluarga mereka.
Sang paman pulalah yang selalu menengahi bila terjadi perdebatan sengit dalam keluarga mereka. Menjadi orang yang netral, membuat Ferdy cukup mudah untuk bertindak sebagai perantara. Meski menjadi anak yang penurut, Randall lebih cenderung perhatian terhadap Philip si anak sulung. Namun sang paman tak pernah mempermasalahkannya sama sekali.
"Hari ini aku ijin tak masuk kantor kak," ucap Sean tiba-tiba. Laki laki itu berbisik pelan di samping Gilen.
Gilen menghentikan langkahnya lalu menatap sang adik menuntut jawaban.
"Aku ada janji dengan seseorang, ini tentang masa depanku. Maksudku..."
"Aku mengerti, pergilah dan kembalilah ke rumah seolah kamu baru pulang dari kantor." Saran Gilen lalu meninggalkan sang adik yang terpaku dalam senyum lega.
Di kediaman sederhana Kendes, wanita itu masih bergelung dalam balutan selimut tebal. Sejak subuh Kendes mengalami demam tinggi namun menolak untuk di bawa ke rumah sakit.
"Mama yakin aku tidak perlu ijin sekolah?" Tanya Kellen entah untuk ke berapa kali.
Kendes mengangguk lemah dengan mata terpejam.
"Mama keras kepala banget sih," gerutu anak itu sedikit kesal. Dia kesal karena tak bisa melakukan apapun untuk mengobati ibunya, selain memberikan obat penurun panas yang tersimpan di lemari penyimpanan obat.
"Mama baik baik saja Kellen, pergilah ke sekolah sebelum terlambat. Bukankah hari ini kamu ada ulangan harian? Mama akan membaik setelah sarapan dan minum satu obat lagi." Ucap Kendes meyakinkan putranya dengan memaksakan senyum di bibir pucatnya.
Dengan terpaksa Kellen akhirnya berangkat ke sekolah. Sepanjang perjalanan pikiran anak itu tak tenang. Apalagi nomornya ternyata di blokir oleh Misha tanpa sebab.
Di sekolah Kellen berfokus pada lembar soal ulangannya. Pikirannya tertuju pada sang ibu yang sedang sakit di rumah dalam kesendirian.
"Kellen," sapa seorang gadis cantik dengan senyum ceria.
"Hmmm.." seperti biasa tanggapan Kellen selalu sama. Anak itu cenderung acuh terhadap siapapun.
"Siang ini pulangnya kita nonton yuk? Ada film baru, aku udah beli tiketnya. Satu buat kamu satu buat aku, nih!" Tunjuk Sonya memamerkan dua lembar tiket bioskop.
"Aku harus cepat pulang, mamaku sedang sakit. Kamu bisa ajak yang lain saja, lagi pula aku tidak suka nongkrong gak jelas." Tolak Kellen tanpa basa basi.
Sonya mencebik kesal. Bukan sekali dua kali ajakannya di tolak. Tapi kali ini Sonya benar benar kesal. Pasalnya dia sudah bertaruh dengan teman teman satu kelasnya, bahwa dirinya kali ini akan berhasil mengajak Kellen keluar bersamanya.
Mendapatkan penolakan jelas membuat Sonya marah.
"Yaelah Kellen..mama kamu bukan anak kecil keles. Masa urus dirinya sendiri gak bisa, lagian paling cuma sakit tipes doang bukan penyakit parah kan?" Mendengar kalimat meremehkan dari mulut Sonya membuat kemarahan Kellen meluap.
"Susah ya kalau ngomong sama orang yang lebih sering di manjakan oleh kemewahan daripada kasih sayang seorang ibu. Kamu gak akan pernah ngerti artinya di kasihi dan mengasihi dengan hati," ucap Kellen menohok.
Sonya berusaha menahan malu di hadapan teman-teman sekelasnya akibat perkataan lugas Kellen.
"Awas saja, Kellen. Akan aku balas rasa malu ini suatu saat nanti," desis Sonya mengepal tinjunya. Wajahnya memerah karena terlalu malu menghadapi tatapan iba dan remeh terhadapnya.
Di gedung kantor RA Mitra Group, Gilen tampak gelisah karena tak mendapati Kendes di meja kerjanya. Pikiran pria itu di landa kecemasan, namun dia tak bisa meninggalkan kantor di saat Sean pun tak bisa hadir di perusahaan saat ini. Mereka harus bisa saling menutupi, agar sang kakek tak murka dengan ketidakhadiran salah satu di antara mereka.
"Yolanda, kamu sambangi divisi marketing, lihat apakah ada salah satu anggota divisi yang tidak hadir hari ini." Perintah Gilen kepada sekretarisnya.
Yolanda akhirnya meninggalkan pekerjaannya lalu bersilaturahmi ke lantai 5, di mana ruangan divisi marketing dan divisi finance berada.
"Yol? Tumben kamu berkunjung kemari? Ada berita apa nih?" Kepo Misha yang rupanya sudah cukup akrab dengan Yolanda.
"Gak ngerti juga sih, aku cuma di suruh cek cek jumlah karyawan di divisi ini lengkap apa kagak. Ngomong-ngomong ada yang gak hadir, hari ini?" Tanya Yolanda sembari mengedarkan pandangannya ke beberapa kubikel. Matanya tertuju pada satu meja yang di tempati oleh Kendes.
Dengan bibir mencebik akhirnya Yolanda memahami maksud sang atasan yang mengirimnya ke sana, rupanya hanya untuk memastikan apakah Kendes hadir atau tidak.
"Kendes mana?" Tanya Yolanda pada Misha yang nampak tak acuh akan ketidakhadiran Kendes di sana.
"Mana aku tau, aku kan bukan ibunya." Jawan Misha tampak acuh.
Dahi Yolanda mengerut dalam, tak biasanya Misha seacuh ini. Apa mereka sedang ada masalah?
"Ya sudah, aku balik dulu. Kalau Kendes masih belum ada kabar sampai siang, kabarin aku ya..." Pinta Yolanda namun hanya di balas anggukan malas oleh Misha.
Meski heran, Yolanda tak ingin menambah daftar beban pikirannya semakin rumit. Wanita itu memilih segera kembali untuk melaporkan hasil temuannya di sana dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Kamu yakin dengan penglihatanmu, begitu Yolanda? Bisa jadi Misha sedang sibuk dengan pekerjaannya saat kamu bertanya." Pendapat Gilen menilai sikap Misha menurut laporan Yolanda yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Tapi saat saya tiba di sana Misha terlihat ceria, hanya saja saat saya bertanya tentang keberadaan Kendes. Misha langsung berubah acuh," terang Yolanda kukuh pada penilaiannya.
Apa yang dia lihat itulah yang dia laporkan kepada sang atasan.
Gilen tampak berpikir keras. Misha dan Kendes bagai inang dan bayangan. Keduanya tak terpisahkan. Akan terasa aneh bila salah satunya tiba-tiba berubah acuh tanpa penjelasan yang logis.
Aku harus menyelidikinya sendiri
"Lalu apa lagi yang kamu lihat di sana? apa yang Misha katakan saat kamu meminta untuk melaporkan ketidakhadiran Kendes?" Gilen kembali bertanya untuk memastikan praduganya.
"Misha hanya mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi tak bersemangat, dan tak mengatakan apapun sampai aku meninggalkan ruangan." Jawab Yolanda kembali menjelaskan situasi yang dia lihat di ruangan Kendes.
Gilen mengangguk paham dan tak lagi mengajukan pertanyaan lain.
TBC
Semoga terhibur ya teman teman...
Salam sayang, author AQYa TRi