Part 9 Kekepoan Nisa

1048 Kata
~Selamat membaca~ Setelah mendengarkan penjelasan dari Yolanda, Gilen memutuskan akan mencari tau apa yang terjadi pada kedua sahabat karib tersebut. "Baiklah, kamu boleh kembali bekerja. Hari ini aku tak ingin menerima kunjungan dari siapapun, dan pastikan panggilan ke ruang wakil direktur di alihkan ke interkom di ruanganku tanpa terkecuali." Perintah Gilen setelah berpikir sejenak. Yolanda mengangguk paham. Bukan sekali dua kali adik kakak itu bekerja sama untuk saling menutupi ketidakhadiran salah satu di antara mereka. Namun Sean lah yang lebih sering mangkir dari pekerjaannya, katimbang Gilen yang memang terkenal gila kerja. Gilen beberapa kali mencoba menghubungi sang anak namun tak ada jawaban sama sekali. Kian resahlah hati laki-laki itu. "Kellen tumben banget gak langsung jawab panggilan seperti ini..." Gumam Gilen semakin cemas. Beberapa hari ini hatinya tak dapat membendung rasa penasaran akan sikap acuh Kendes terhadap semua perhatian laki-laki di sekitarnya. Bahkan termasuk perhatian kecil darinya. "Apa hatimu sudah beku, Des. Sampai sampai kamu lebih memilih untuk menepi dari kehidupan para pria, dan memutuskan untuk tetap menyendiri selamanya..." Gumam Gilen lirih. "Teramat dalamkah luka yang pernah aku torehkan di hatimu dahulu? Tak bisakah kita melupakannya saja dan memulai segalanya dari awal bersama Kellen serta adik-adiknya kelak jika mungkin kita bisa bersatu kembali." Tanpa terasa aliran hangat mengalir tanpa permisi di kedua pipi tegas pria tampan itu. Satu tahun terkahir ini hidup Gilen bagai di jungkir balikan oleh perasaannya sendiri. "Siapa wanita cantik itu, aku pernah melihatnya di pesta ulang tahun perusahaanmu sebulan yang lalu." Tanya Jordan menunjuk seorang wanita yang tengah bercengkrama di sudut restoran bersama dua orang temannya. Salah satunya adalah Misha dan satu lagi adalah Paula. Gilen mengikuti arah pandangan Jordan dan rahangnya mengeras sempurna. Ternyata rasa tak rela itu masih menguasai hatinya walau Kendes bukan lagi istrinya. "Hanya karyawan biasa di bagian marketing," jawab Gilen seolah tak peduli. "Aku menyukainya," ucap Jordan terus terang. Gilen tersentak dan mulai merasa pertemuan mereka tak akan berkahir baik bila di sana Kendes masih belum pergi. "Aku rasa wanita seperti itu ada banyak di dunia ini, kenapa memilih wanita biasa jika kamu bisa mendapatkan wanita yang istimewa? Wanita itu seorang janda dengan satu anak remaja. Bisa kamu bayangkan usia berapa wanita itu menikah atau mungkin memiliki anak tanpa seorang pendamping. Carilah wanita yang sepadan denganmu, karena kesetaraan akan selalu menjadi pertimbangan seluruh keluarga." Nasihat Gilen sok bijak. Entah mengapa mulutnya begitu ringan mengatakan hal menyakitkan tersebut. Tanpa sadar Kendes baru saja melewati tempat duduk mereka menuju toilet restoran. Wanita itu jelas mendengar semuanya namun tak mengetahui bila yang menjadi topik pembicaraan kedua laki-laki tampan itu adalah dirinya sendiri. Hingga suatu momen Kendes mengetahui kebenarannya. Ketika dengan gamblang Jordan mempermalukan dirinya di depan banyak orang, ketika perasaannya di tolak oleh wanita itu. Semua yang pernah Gilen ucapkan, di urai bagai mengurai dosa tanpa memikirkan bila ada hati bisa saja terluka sangat parah saat mendengarnya. Gilen tak bisa menampik. Dengan tatapan penuh penyesalan Gilen menatap Kendes dari kejauhan memohon pengampunan. Dan itulah alasannya, kenapa Kendes begitu sulit untuk dia gapai hingga saat ini. Kendes benar-benar menjaga circle nya dari para pria termasuk dirinya. Gilen telah melakukan kesalahan besar yang hingga kini masih belum bisa dia tebus pada wanita baik itu. Berbagai cara Gilen lakukan agar bisa menjalin komunikasi dengan Kendes. Namun Kendes bagai batu gunung yang sulit untuk di tempa. Drrrtt drrrtt drrrtt Gilen kembali menatap layar ponselnya dan mendapati Sean lah yang menghubunginya. "Kenapa Se?" Tanya Gilen tanpa basa-basi. "Kak..aku ingin minta tolong. Bolehkah?" Pinta Sean seperti orang yang tengah putus asa. Dengan suara yang begitu pelan dan cenderung memelas. "Katakan secara langsung Sean kamu tau aku tak suka di buat penasaran," todong Gilen tanpa basa basi. "Datanglah ke rumah sakit jiwa Permata Kasih kak, aku benar-benar membutuhkan mu saat ini." Mohon Sean dengan nada sendu bahkan terdengar hampir seperti isakan kecil. Meski kebingungan dengan permintaan sang adik, Gilen tetap menyetujui untuk datang ke alamat yang Sean sebutkan. "Baiklah, aku segera ke sana." Gilen tak lagi banyak bertanya. Meski terlihat cuek dan dingin, namun Gilen begitu peduli terhadap semua saudaranya tanpa terkecuali. "Yolanda, tolong handle semua pekerjaanku hari ini. Bila kakek menghubungiku melalui sambungan telepon kantor, katakan aku sedang ada pertemuan dengan klien di luar." Pesan Gilen lalu meninggalkan wanita seksi itu sebelum sempat Yolanda menjawab apapun. "Sepertinya mendesak sekali...apa ada hubungannya dengan nona Kendes ya?" Tebak wanita itu mulai kepo. Dia tau tentang siapa Kendes dan apa hubungan sang atasan dengan wanita cantik itu. Di ruangan lain, Nisa menghampiri meja kerja Misha karena melihat wanita itu terus melamun saat bekerja. "Mis...ke kantin yuk! Laper nih, budget lagi mepet banget, kan lumayan bisa makan dengan diskon merakyat di kantin bawah." Ajak Nisa cengengesan. Sebenarnya wanita itu hanya beralasan karena dia cukup terganggu untuk tak mengkepo sikap aneh Misha hari ini. "Males ah, kamu aja...aku titip es teh aja sama pisang keju." Tolak Misha yang memang terlihat jelas sedang malas melakukan apapun. Wanita itu berbicara dengan wajah menempel di permukaan meja dan mata terpejam. Nisa berdecak kesal karena niatnya tak berhasil mendapatkan informasi yang dia butuhkan. "Aku juga males sebenarnya, makanya nyari teman supaya bibit kemalasanku itu sedikit enggan menempeli diriku yang cantik dan lucu ini." Ucap Nisa narsis. Misha mencibir jengah. "Kalau begitu gak usah ngide kalau malas," sambar Misha ikut dongkol. Suasana hatinya sedang tak baik malah di tambah dengan sikap Nisa yang mencoba untuk mengorek informasi darinya. "Kan kali aja kamunya mau, gitu," alasan Nisa dengan wajah memelas. "Mager nih! Kamu aja, nih aku traktir makan nasi campur di kantin Bu sari," ucap Misha seraya mengeluarkan dua lembar pecahan lima puluh ribu rupiah kemudian menyerahkannya kepada Nisa. Meski enggan terpaksa Nisa mengambilnya, karena dia terlanjur menjadikan kebokek_annya sebagai alasan. "Yakin nih gak mau ikut sekalian?" Tawar Nisa tak menyerah. Dengan gelengan pasti Misha menggeleng cepat. Nisa akhirnya pergi seorang diri menuju kantin kantor, namun wanita tetap akan mencari tau tentang perubahan sikap Misha. Karena dirinya rupanya mendapatkan tugas tambahan dari Sofi untuk mengawasi Kendes di kantor tersebut. Sebagai karyawan biasa, jelas gajinya hanya sebatas UMR, dan beruntung bila mendapatkan bonus tambahan juga upah lembur yang menguras energi. Kerja sama yang di tawarkan oleh istri pemilik perusahaan tersebut, tentu saja menggiurkan bagi Nisa yang selalu merasa gajinya tak pernah cukup. TBC Semoga terhibur ya teman teman... Yang baru berkunjung jangan lupa tap LOVE ya... Salam sayang, author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN