Part 10 Ide Cerdik Gilen

1458 Kata
~Selamat membaca~ Di rumah sakit yang di sebutkan oleh Sean, Gilen terpaku menatap seorang wanita muda yang tengah duduk di atas sebuah kursi roda dengan penampilan yang... sulit untuk di deskripsikan dengan kata-kata. "Siapa dia Sean? Kenapa bisa wanita ini rawat di rumah sakit jiwa seperti ini?" Gilen bertanya dengan menatap Sean menuntut penjelasan. "Ceritanya panjang kak," jawab Sean tampak ketakutan. "Aku sudah sampai kemari, artinya aku memiliki cukup waktu untuk mendengarkan penjelasan darimu." Tuntut Gilen tak mau menerima alasan sang adik. "Dia...dia Monica..teman semasa SMA ku," sahut Sean pelan. Ada getaran halus dari suaranya, Gilen langsung menangkap hawa negatif dari arah pembicaraan sang adik. "Lalu? Kenapa bisa sampai seperti ini? Di sini? Kita tau ini bukan tempat yang lumrah untuk sekedar di kunjungi oleh orang-orang sehat. Temanmu tak mungkin tinggal di sini karena melakukan piknik, bukan? Pasti ada penjelasan logis yang bisa di terima akal sehat." Cecar Gilen membordir Sean dengan kalimat mengintrogasi. "Beberapa bulan yang lalu, saat itu aku sedang mabuk berat dan berada dalam pengaruh obat perang sang. Aku tak sengaja memperkosanya ketika memberikan Monica tumpangan sepulang bekerja. Aku...aku memperkosanya kak...aku juga mengancamnya setelah aku tersadar esok harinya. Aku mengancam akan membunuhnya bila berani berbicara kepada siapapun. Dan saat Monica mengatakan jika sedang mengandung anakku, aku menolak dan mempermalukannya di depan para alumni SMA ketika kami sedang mengadakan acara reunian sekolah. Monica pergi dari sana, dan ternyata berniat mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari lantai tiga restoran di mana kami berkumpul." Sean menjeda ceritanya sembari menyeka pipinya yang sudah basah. "Monica benar-benar menjatuhkan dirinya dari sana, dan beruntung Monica terjatuh di atas atap mobil salah satu temanku. Namun benturan keras di kepalanya, membuat pikiran Monica terganggu. Aku baru tau jika Monica hanya anak yatim yang di asuh oleh paman dan bibinya yang jahat. Hidup monica sudah cukup menderita dan aku menambah daftar penderitaannya tanpa berpikir panjang. Anak kami terlahir prematur satu minggu yang lalu, itulah sebabnya aku lebih sering menginap di apartemen dengan alasan pekerjaan yang menyita waktu. Aku sedang berusaha menjadi ayah yang baik untuk menebus dosaku kak," akhirnya tangisan Sean pecah tak lagi tertahankan. Sean menundukkan wajahnya di atas pangkuan Monica sembari menahan tangisannya. Gilen masih mencoba menjadi pendengar yang baik. Melihat Sean yang begitu terpukul atas apa yang terjadi pada Monica, hatinya terenyuh. Tampaknya laki laki itu benar-benar menyadari kesalahannya terhadap Monica, dan berniat untuk menebusnya dengan caranya sendiri. "Kenapa masalah sebesar ini tak pernah kamu ceritakan pada kakak, Sean? Kamu tau kamu bisa mengandalkan kakak dalam hal apapun. Mungkin pengalaman rumah tangga kakak bukanlah sesuatu yang bisa di jadikan panutan. Tapi paling tidak kakak bisa memberikan sedikit pembelajaran yang bisa kamu lakukan saat berada dalam situasi rumit seperti ini. Kamu hampir saja melenyapkan nyawa seorang wanita tak berdosa juga bayimu, Sean. Astaga!" Gilen berkecak pinggang mendengar kisah pilu yang harus Monica alami akibat ulah adiknya. "Aku tau aku salah kak, untuk itu aku merawat Monica juga putriku Sena dengan baik. Hanya saja, dokter mengatakan bila Monica bisa di rawat di rumah saja agar proses pemulihannya lebih cepat. Kakak tau aku tak mungkin memisahkan diri tanpa seijin kakek, bagaimana bisa aku meluangkan waktu penuh untuk Monica juga putriku sekaligus." Keluh Sean bercerita tentang kerisauannya. "Kamu bisa membagi waktumu, kakak akan berbicara pada kakek. Kamu hanya perlu mengikuti alur yang kakak buat dan mengiyakan semuanya tanpa bantahan." Usul Gilen menatap Sean memastikan bila adiknya itu bisa dia percaya untuk mengelabui sang kakek. Sean mengangguk mantap tanpa keraguan. Gilen menepuk bahu Sean menyatakan dirinya berada di pihak laki laki itu saat ini. "Kakak akan mencarikan rumah sederhana untuk kalian tempati sementara, karena kakek tak akan menduganya. Kakak tau tempat yang cocok untuk kalian tinggali. Kakak jamin lingkungannya aman dan nyaman untuk Monica juga bayimu," ujar Gilen tersenyum penuh makna. ************************** "Papa jangan aneh aneh deh, masa mama di suruh merawat orang gila sih!" Protes Kellen tak setuju. Gilen lekas menoleh ke arah mobilnya, dia khawatir Sean bisa mendengar percakapannya dengan sang anak dan membuat adiknya tersinggung. "Bukan gitu maksud papa, Kellen. Ini hanya sementara saja, mama hanya perlu datang memastikan Tante Monica dan adikmu Sena baik baik saja. Mama tak perlu melakukan pekerjaan rumah atau semacamnya, benar-benar hanya berkunjung agar tante Monica bisa lebih cepat sembuh karena memiliki teman." Bujuk Gilen tak habis akal. Kellen menyandarkan tubuhnya dengan kasar di punggung kursi. Tatapan anak laki-laki itu terlihat kesal atas ide nyeleneh sang ayah. "Jujur deh, sebenarnya papa sengaja kan, melibatkan mama supaya papa juga bisa mengambil bagian untuk berdekatan dengan mama?" Tuduh Kellen menatap nyalang kepada ayahnya. Gilen berdehem untuk menetralisir ekspresinya yang berusaha menahan malu. Idenya malah menjebaknya dalam keadaan rumit di hadapan putranya sendiri. "Kamu lupa kalau papa sudah menikah?" Bantah Gilen terlihat menjaga wibawanya. "Gimana aku bisa lupa, semenjak papa menikah papa semakin jauh dariku." Sarkas Kellen semakin menambah runyam perasaan Gilen. Laki-laki itu tak menyangka akan mendapatkan serangan kata-kata nyelekit dari putranya sendiri. "Papa gak pernah berubah Kellen, papa hanya sibuk dengan perusahaan. Kamu bisa tanya mama kalau tidak percaya," ucap Gilen yang berusaha meyakinkan putranya. "Kenapa harus tanya mama? Istri papa kan tante Sofi," skak. Gilen kehabisan kata-kata menghadapi sikap kritis putranya itu. "Baiklah, maafkan papa bila belakangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Mari kita kembali pada topik awal. Bagaimana? Apa kamu bisa meyakinkan mama untuk membantu om Sean dan tante Monica?" Akhirnya Gilen memilih untuk menyerah daripada terus berdebat dan berakhir dengan kekalahan. "Akan aku coba," jawab Kellen asal. "Papa butuh kepastian Kellen?" Tuntut Gilen tak ingin bernegosiasi lagi. "Ck, maksa banget sih!" Gerutu anak itu mulai kesal. "Kapan om Sean pindahan?" Akhirnya kalimat yang di nanti oleh Gilen keluar juga. Laki-laki itu mengulum senyum penuh kemenangan. "Secepatnya setelah kamu memastikan mama bersedia menemani Tante Monica, sewaktu waktu om Sean membutuhkan." Sahut Gilen cepat. "Ya sudah, nanti malam aku akan berbicara dengan mama terus mengabarkannya pada papa setelah mama setuju. Tapi aku tak akan memaksa bila mama keberatan," putus Kellen. Gilen mengangguk setuju, dia yakin Kendes tak akan mungkin menolak untuk membantu orang lain. Wanita itu berhati mulia dan mudah tersentuh. Anggap saja dia jahat karena memanfaatkan kelembutan hati Kendes, tapi itu juga merupakan salah satu upaya pendekatannya untuk mendapatkan hati Kendes seutuhnya. Setelah kesepakatan alot, akhirnya keduanya berpisah. Kellen menolak untuk diantar pulang karena memang dirinya membawa kendaraan sendiri. "Gimana kak?" Tanya Sean saat Gilen kembali masuk ke dalam mobil. Gilen menatap sang adik lalu menghempas nafas kasar. "Kellen setuju untuk berbicara dengan Kendes, semoga saja Kendes tak menolak. Kamu tau sendiri bagaimana baiknya Kendes, wanita itu tak pernah bisa menolak permintaan tolong seseorang. Apalagi bila Kellen yang memintanya," jawab Gilen penuh keyakinan. Sean melebarkan senyum sumringah. Dia tak perlu lagi merasa khawatir saat harus meninggalkan putrinya juga Monica saat harus bekerja. Kendes adalah wanita yang baik selama dia mengenal wanita itu hampir 10 tahun lamanya. Sayang sekali sang kakak memilih untuk melepaskan wanita sebaik Kendes, dan menikah dengan nenek lampir seperti Sofi. Dirinya dan Paula adalah dua orang yang tak pernah menyukai keberadaan Sofi di rumah sang kakek. Sayang semua keputusan final berada dalam kuasa kakek tua itu. "Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan Kendes pada kami kak?" Tanya Sean membuat Gilen reflek memutar tubuhnya. Tatapan tak biasa dari sang kakak membuat Sean menyesal telah menanyakan hal itu. Dia khawatir Gilen akan memanfaatkan hutang jasa Kendes untuk kepentingannya sendiri. "Pastikan Monica tetap berpura-pura sakit meski telah sembuh," ucapan Gilen sontak membuat Sean melotot tajam. "Kakak kalau bicara jangan sembarang ya!" Kesal laki-laki itu jengkel. "Aku hanya meminta sedikit bantuan dan lihatlah reaksimu? Ck! Tidak inginkan kamu melihat kakakmu ini hidup normal dan bahagia? Kakak hanya ingin Kendes kembali ke pelukan kakak lagi agar kami bisa menjadi keluarga kecil yang bahagia. Hanya sesederhana itu impian dan harapan kakak, Sean." Membuat hati Sean terenyuh. Selama ini Gilen terkenal dengan sikap acuh dan dingin. Kehidupan Gilen tampak sempurna dari luar. Siapa sangka jika kehidupan laki laki itu begitu memprihatinkan dalam hal kebahagiaan hati, serta kebebasan dalam menyuarakan pendapatnya dalam keluarga. Randall yang diktator merubah keluarganya yang hangat menjadi sepanas bara api. Beruntung bagi Randall, karena anak-anak serta cucunya tak ada ambisi untuk saling menyaingi. Jika ada salah satu saja, maka lengkaplah keluarga tersebut. "Baiklah, aku setuju bila untuk sebuah rencana yang baik. Semoga saja hati Kendes terbuka untukmu kak," doa Sean tersenyum tulus. "Amin." Balas Gilen lalu mulai menyalakan mesin mobil meninggalkan putranya yang masih memperhatikan dari atas kuda besi kesayangannya. "Aku harap mama menolaknya," entah mengapa Kellen begitu enggan ibunya terlibat terlalu jauh dalam keluarga sang ayah. Luka batin yang di alami Kendes tak hanya di rasakan oleh wanita itu sendiri, tapi juga putranya. Setelah tak lagi melihat mobil ayahnya, Kellen memutuskan untuk segera pulang. Dia mencemaskan ibunya yang saat dia tinggalkan tidak dalam kondisi baik-baik saja. TBC Semoga terhibur ya teman-teman Salam sayang, author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN