“Al,” Umik memanggil Al namun Al hanya diam sembari menundukkan kepala. Di ruang tengah itu, terdapat seorang kakek tua yang mengenakan jas hitam dan sarung batik bewarna coklat. Dia adalah Kakek Gus Al. Di sampingnya, juga ada pria tua yang memakai baju yang hampir mirip dengan sang kakek. Bedanya, pria tua itu warna bajunya sedikit lebih cerah. Dan dia adalah Abinya Gus Al. Mereka berdua kini tengah menatap objek yang sama. Yakni Gus Al yang kini tengah menundukkan kepala. “Al, kamu boleh menolak rencana lamaranmu dengan Salma. Tapi kamu harus mendengarkan ucapan Abuya dan Abimu.” Ucap Umik dengan suara yang lembut. Al mendongak, wajahnya terlihat sangat kacau. Ada sisa air mata di wajahnya. Matanya memerah dan raut wajahnya tak enak sekali dilihat. Selama dua puluh satu Al hidup d

