"Lepaskan! Lepaskan aku!" Lucy terus memberontak, berusaha melepas kungkungan Tian di pinggangnya, sesekali umpatan ia keluarkan ketika usahanya gagal. Tian melepaskan Lucy begitu keduanya keluar dari ruangan Darrel. "Kenapa kau menarik ku?!" Lucy menatap Tian marah, tidak ada lagi air mata, yang tersisa hanya kemarahan. "Harusnya kau biarkan aku menampar wanita itu, biarkan aku memberi pelajaran pada wanita itu. Aku tidak menyangka dia bisa seja--" Plakkk .... Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi mulus Lucy. "Dia adikmu! Tidak seharusnya kau menyebutnya seperti itu." Lucy memandang tak percaya pada Tian, "Kau menamparku hanya karena jalang kecil itu?" Tian mengepalkan kedua tangannya, ia tak menyangka bisa kelepasan seperti itu. Ia hanya tidak ingin Lucy mengata-ngatai adiknya se

