Kalau saja kunci mobil Archi nggak ketinggalan, dan aku gak harus keluar dengan muka bantal untuk memberikan kuncinya, Lukman nggak akan liat adegan kurang enak antara aku dan Archie.
Waktu aku mengembalikan kuncinya, Archi menangkap pinggangku dan menciumku dengan cara yang serakah. Aku berusaha mendorongnya karena takut diliat tetangga, tapi dia masih ingin menciumku. Dia menyentuh bokongku dan memukulnya sekali. Aku menjerit kecil dan menjauhkan diri "Ih." Aku meringis.
Dia malah terkekeh merasa menang.
Lukman ada di seberang sana sedang membersihkan mobilnya, dia melihat kami, dia melihatku sedetik sebelum memalingkan wajahnya tidak peduli. Aku pasti terlihat seperti perempuan murahan di matanya.
"Pergi lo!" Aku menendang Archie.
Dia terkekeh sambil melambai. "Jangan kangen ya," ujarnya sok manis.
"Najis." Aku pun berbalik, aku berlari masuk ke dalam rumah. Malu sekali rasanya. Aku nggak mau Lukman menganggap aku perempuan murahan, ahhhhhh aku merasa hina dina karena si sialan Archie.
Tidak lama mobil Archie sudah pergi. Aku sedang mengintip lewat jendela, Lukman sedang memeras handuk menatap lurus ke mobil Archie yang sudah melintas jauh. Kepalanya menggeleng-geleng.
Ekspresi yang ditunjukkan Lukman, menimbulkan kekecewaan pada diriku sendiri. Aku nggak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Kenapa yang liat mesti Lukman sih?
Ih, sebel.
Ya udah deh, nanggung. Aku membuka tirai lebih lebar untuk memperhatikan dia membersihkan mobil new fortuner miliknya. Sora keluar dari dalam rumah menyeret boneka yang besarnya sama dengan dia. Aku tersenyum ketika melihat Lukman menghentikan pekerjaannya untuk menghampiri gadis kecilnya. Dia mencium Sora, Sora terlihat serius menjelaskan sesuatu ke ayahnya, sok dewasa memang bocah itu. Lukman mendengarkan Sora dengan wajah sama seriusnya, bukti bahwa dia tidak ingin Sora merasa tidak dipedulikan.
Tanpa sadar aku tersenyum. Betapa beruntungnya Sora punya ayah seperti Lukman, yang mau mendengarkan omong kosongnya.
Suara pesan masuk menyadarkan, membuyarkan senyumanku. Zya mengingatkan aku jadwal pekerjaanku hari ini. Aku paling males harus jalan sepagi ini untuk makeup-in orang. Lagian lamarannya pagi banget sih jam sebelas. Nggak bisa sorean dikit apa? Mau gimana, nafkah tetap harus dikejar, meski kondisi belum sober-sober amat. Anjing si Archie ngapain ngajak minum sih semalem.
Setelah memberiku pesan Zya menelpon. "Kenapa? Gue udah baca kok chat lo kok."
"Bukan, ini mendadak banget. Terserah lo mau diambil apa nggak. Jamila! Mau tampil di acara resepsi anaknya menteri. Dia mau didandanin sama anaknya, Aisa. Kita harus ready jam lima sore. Gue oke-in ya?!" Biasanya memang begitu, kebanyakan Zya yang menerima pekerjaan gue. Kadang kalau sama gue, artis-artis suka nggak profesional minta harga temen. Jadi gue serahkan masalah per-bookingan ini ke Zya. "Ini lumayan kan, Jul. Dia mau bayar empat puluh."
"Oke." Mendengar nominal itu aku langsung yes.
"Mata duitan."
"Ini namanya bertahan hidup kawan."
"Oke deh, gua jemput sejam lagi. Mandi sana. Awas aja lo minum lagi!"
Tahu aja ni anak, jangan jangan si Zya memasang kamera tersembunyi di salah satu sudut rumahku.
***
Mobil Lukman sudah tidak di garasi ketika aku dijemput Zya. Kami pergi ke hotel dimana lamaran si anak orang kaya berlangsung. Aku diseret ke ruangan calon pengantin. Ada aja cobaan, pengantinnya tau-tau masih tidur. Kami harus menunggu tiga puluh menit, ibu pengantin bilang anaknya terlalu cemas sampai tidak bisa tidur semalam.
Kenyataannya si calon pengantin mabuk semalam mangkanya belum bangun. Aku tahu karena begitu bangun mukanya udah bengkak dan beda, mamanya memberikan sepotong pil yang katanya vitamin, tapi aku tahu pil itu Aspirin, aku juga sering minum itu.
Aku melihat wajahnya dengan memiringkan kepalaku, mau aku apakan wajah bengkak karena mabuk ini?
Aku menghela nafas, oke! clean makeup look. Akan membuat dia kelihatan sedikit fresh. Aku akan menaburkan warna fusha di wajahnya.
"Kak aku gugup banget." Dia curhat sama aku. Sebagai makeup artist aku harus mendengarkan, aku harus menjadi teman curhat si customer. Meskipun sebenarnya, GUE NGGAK PEDULI!!
"Wajar kan, mau ketemu calon keluarga besar."
"Kakak sudah liat kebaya ku?"
"Udah, ini sudah aku sesuaikan dengan makeupnya."
Debi, baru datang tergopoh-gopoh dengan perintilan rambutnya. Aku mengangguk "Langsung aja Deb!" ujarku agar mempersingkat waktu. Debi adalah penata rambut, aku sudah sering berkolaborasi dengan Debi.
"Siap," kata Debi.
"Kak lingkaran mataku jelas banget kan?"
Aku tersenyum "Jangan panggil aku makeup artis kalau tidak bisa menghilangkan masalah semudah itu."
Tarang!
Nggak pernah ada yang kecewa sama hasil karya seni yang dibuat oleh tanganku di wajah seorang wanita. Aku yakin dulunya aku seorang penyihir.
Setelah beres dengan anak si orang kaya. Aku dan Zya berangkat ke rumah Jamila, artis yang akan kami dandanin. Na'as nasib dinda ini, ban gue bocor di tengah jalan. Zya pusing. "Lu nginjek apa sih Zya? Gue baru aja ganti ban sebelah kiri."
"Ya elah emang mata gue ada di roda, mana tahu gue nginjek apa, memang gunanya roda buat nginjek juga kan.."
Kami beristirahat di pinggir jalan, aku menelpon seorang montir kenalanku, tempat biasa aku service mobil. Dia setuju untuk menghampiri kami dan membawa peralatan untuk ganti ban. Tapi masalahnya waktu kita mepet banget. Cari taksi online di daerah sini susah banget.
Aku udah cemas klayen akan marah. Aku meminta hp Zya. "Sini biar gue hubungin Jamilanya." Gue nggak punya kontak Jamila, Zyalah yang komunikasi dengannya.
Zya menyerahkan hpnya dengan pasrah, aku melihat foto Zya dan cowoknya di wallpaper Hp. Najis! bisikku dalam hati, bisa-bisanya dia norak kecintaan gitu sama si Bedul. Namanya Abdul aku biasa panggil Bedul. Cowoknya Zya adalah orang yang ter tidak punya motivasi di dunia ini.
"Hai Jamila, ini Jullie."
"Kalian dimana?" Suaranya cempreng nadanya sedikit tinggi, dasar penyanyi.
Aku menjauhkan hp dan mendesah. "Ban kami pecah, udah nggak jauh sih dari rumah lo, bisa kirimin sopir nggak untuk nyamperin kami? Soalnya waktunya nggak nuntut kalau harus nunggu orang bengkel perbaiki mobil gue. Kami juga udah berusaha cari taxi online tapi permintaan kami ditolak terus."
"Oke sekarang! Share loc! Ada-ada aja sih kalian. Ih..."
Aku memutar bola mataku. Ya, ya, untung aja aku masih miskin, masih butuh bayaran dua kali lipatnya untuk mabok-mabokan.
Nggak lama sopir Jamilah dan orang bengkel datang bersamaan.
****