SEPERTI WARNA KUNING YANG TERTUMPAH

1087 Kata
Tips untuk jadi makeup artis profesional, jadilah pendengar yang baik! Ini aku lagi mendengarkan isu keretakan rumah tangga dari si penyanyi itu sendiri. Jamela lagi menceritakan aib suaminya sendiri. "Lakik itu sudah satu minggu nggak pulang." Jamela berceloteh. Aisa, anak Jamela yang berusia dua belas tahun tertunduk terlihat ada duka yang dalam dari sorot matanya. Aku mengingat diriku saat melihatnya. Yang paling menyedihkannya, ibunya sendiri tidak menoleransi perasaan sang anak. Tapi seperti itulah orang tua terkadang mereka selalu merasa paling tersakiti atas rumah tangga yang retak. Yang sesungguhnya paling hancur adalah seorang anak. "Jadi perempuan harus mandiri, aku kasi tahu itu sama Aisa. Laki-laki tidak menjamin hidupmu akan bahagia." Aisa merunduk semakin dalam, ada yang runtuh pada dirinya yang sampai dewasa nanti akan berusaha dia bangun kembali. Aku adalah anak seperti Aisa, dia adalah gambaranku kala itu. Hai para orang tua, cobalah bertoleransi dengan perasaan kami. Aku tahu jadi orang tua tidaklah mudah, tapi jadi kami juga tidak mudah. Jangan merusak mimpi anak-anakmu karena mimpimu sendiri telah dirusak pasanganmu. Jangan paksa kami memilih antara ibu dan ayah, jangan suruh kami membenci salah satu dari mereka. Biarkan kami tumbuh tanpa luka-luka rumah tangga yang seharusnya bukan beban kami. Kami terlalu kecil untuk mengemban itu. "Ngomong-ngomong aku tahu kamu dari Sosmednya chef Laudya. Kebetulan aku ngefans banget style Laudya di acara Chef Master. Aku liat biomu dan ternyata kontak personnya terhubung sama asistenmu." Jantungku terpompa, aku menjatuhkan kuasku, genggamanku terasa melemah. Nama Laudya terkoneksi dengan kejadian beberapa hari yang lalu, kenangan itu seperti pukulan di wajahku. "Duh," kataku sambil menunduk memberi jeda sejenak pada ketegangan di dalam kepalaku. Malam itu…, aku menghianati Laudya. Aku tidur dengan tunangannya. "Iya kami memang saling kenal." Zya merespon, mempermudah aku kembali fokus pada wajah Jamela. "Lau dan Jullie satu SMA. Jullie pacaran sama calon adik iparnya Lau. Jadi mereka mungkin akan satu keluarga suatu saat nanti." Si Zya pakai acara becandain aku. "Iya? Jul?" Jamela menahan tanganku, matanya membesar meminta konfirmasi informasi mengagetkan itu. "Ih keluarga ber-asap tuh. Lo bisa kaya tujuh turunan Jul!" Keluarga Kemal dan Davi adalah keluarga terkaya nomor sembilan karena perusahaan cigarette milik mereka terbesar di indonesia. Banyak yang menyebut mereka keluarga ber-asap. "Haha." Aku tertawa dingin, ujung mataku memberikan tatapan mengancam pada Zya. Ada kegetiran di ujung suara tawaku. Ingatanku tidak pernah lepas dari cara Davi meninggalkanku malam itu. "Udah jangan kerja, minta duit aja sama gebetan lo." Aku tertawa. "Bukannya lo yang bilang cewek itu nggak boleh hanya mengandalkan cowok saja." Dia terlihat berpikir, malu menjilat ludah sendiri. "Yah, kecuali kalau kamu pacarin penerus Kusumo," ujarnya dengan nada bercanda. Kami tertawa. Nggak salah Jamela bicara seperti itu, bisa kulihat sendiri seperti apa tajirnya mereka. Karena itu juga Kemal semanja itu, kebutuhannya selalu terpenuhi sejak kecil. Waktu kuliah dulu kedua anak itu selalu dikejar-kejar wanita. Siapapun yang posting foto sama mereka pasti jadi selebriti. "Laudya beruntung banget ya," lanjut Jamela. "Yah, siapa sih yang nggak kepenganan sama Chef sexy kayak dia, gua kagum karena dia nggak bodoh milih sembarang cowok untuk dipacari. Pewaris Kusumo." aku melihat pantulan wajah Jamela yang sangat mengagumi kekayaan leluhurnya Davi dan Kemal tersebut. "Gue dengar-dengar sekarang dia pemilik restoran hotel Heriston ya?" Dia menoleh padaku. Aku mengangguk kecil. Zya menoleh dengan kaget padaku. "Bener Jul?" tanyanya seakan aku memang sedekat itu dengan Laudya. Aku mengedikkan bahu "Baca situs online gue, nggak sengaja ketemu artikel itu." Semoga artikel itu benar-benar ada. "Buset dah, angkat tangan gue. Lau memang tidak terkalahkan. Selain itu dia punya karisma yang mematikan kan?" Jamela benar-benar mengagumi Laydia. "Gue aja yang sama-sama artis. Nggak bisa sembarang ngomong sama dia, dia kan orangnya sangat menjaga etika. Dia kalau tersenyum tipis, minum dengan gaya para perempuan elit. Gile sih, nggak bisa sembarangan didekati tuh cewek kayak Lau. Entah Lau yang beruntung apa si Kusumo itu." "Mereka mau nikah tahun depan kan Jul?" Pertanyaan tentang pasangan itu selalu dilempar ke aku. Aku tahu niat Zya mau mencandai aku, dia kan tahu aku suka sama Davi, tapi kali ini, semua itu nggak lucu sama sekali. "Nggak tahu gue," jawabku singkat, berusaha sekerasnya untuk tetap fokus pada wajah Jamela. Aku nggak mau percakapan ini membuat pekerjaanku tidak maksimal. "Gue dengar juga mereka mau nikah. Kalian pasti jadi bredes mereka kan?" Jamela memainkan alisnya, meminta jawabanku. "Nggak sih kayaknya. Gue nggak sedeket itu sama Laudya, lagian gue dan adik iparnya udah lama udahan..." "Tapi pasti lo yang makeupin dia." "Pastilah kalau itu." Zya menambahkan. "Lau tidak bisa hidup tanpa tangan dewi Jullien Gweny" Gue gosok mulut lo ZY! Aku sangat bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena percakapan kami tentang Laudya berhenti sampai disitu. Tapi percakapan itu masih berputar di kepalaku untuk beberapa saat berikutnya. Ternyata, sosok Laudya itu begitu dikagumi dan dipuji banyak orang, sepertinya dia adalah salah satu manusia paling sempurna di indonesia. "Kita cuma menghabiskan malam bersama. Tidak ada rasa di antara kita" Kata-kata itu masih tertinggal dan sulit untuk dihapus dari ingatanku. Aku menggeleng dan cepat-cepat menenangkan diri. Sebelum pergi dari rumah Jamela aku menghampiri Aisa, anak Jamela yang dipaksa mamanya ikutan manggung bareng dia. Padahal menurutku suaranya pas-pasan. Aisa duduk menunggu mamanya di sofa sambil main hp. Aku membungkuk di depannya. Memberikan satu lipstik kesukaan ku padanya. "Untuk apa ini tante?" tanyanya, agak takut menerima pemberianku. Aku mengelus kepalanya "Penyemangat untukmu." "Penyemangat?" "Pokoknya penyemangat." Aku berhenti sejenak. "Yang nggak bisa kamu tanggung jangan ditanggung, masalah orang tuamu bukan masalahmu. Jadi dirimu sendiri aja, oke?" Aku mengedipkan mata. Aku berani bicara seperti itu karena di sana nggak ada siapapun selain kami berdua, Zya sudah keluar dia menunggu taxi online di luar rumah. Aku mengelus kepala Aisa. "Tegakkan kepalamu, kamu lebih cantik dari yang kamu kira." "Thanks tante." Aku mendengar dia berbisik pelan sebelum aku meninggalkan rumahnya. Aku tersenyum padanya, sebelum menutup pintu yang sangat tinggi. Matahari sore membentang di hadapanku, sangat indah. Seperti warna kuning yang tertumpah dan menyebar di sebuah kanvas berwarna biru, merusak keutuhan warna biru sekaligus menimbulkan warna jingga yang membuat mata tidak berpaling. Di ujung sana, di balik gedung-gedung tinggi, matahari tampak begitu kecil, bulat dan sempurna. "MOBILNYA DATANG JUL!" teriak Zya dari depan gerbang putih rumah Jamela. Aku turun dari teras rumah Jamela. "Aku jalan aja Zy, aku naik MRT aja." "Ih.., katanya mau ngemol dulu." Aku menggeleng. "Aku langsung pulang aja mau istirahat." Zya memperhatikan wajahku lekat-lekat "Ada apa?" tanya Zya hati-hati. Aku menggeleng dan tersenyum penuh agar dia tidak mengkhawatirkanku. Lalu aku menengadah ke atas langit. "Langit ini terlalu indah. Gue mau jalan sedikit ke stasiun sambil menikmati langit sore ini." "Sok indi lo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN