BAHU LETIH SI PENCARI RIZKI

1414 Kata
MRT di sore hari dipenuhi dengan wajah suntuk para pekerja, menyiratkan beban pekerjaan yang terpaksa dibawa pulang, menjadi penat dan marah tak berkesudahan. Wajah-wajah lelah mereka tidak bisa disembunyikan. Mereka memilih berkutat dengan hp mereka, menjejaki sosial media yang berisikan kepalsuan, menyemangati diri sendiri agar sebahagia para influencer, padahal mereka tidak sebahagia kelihatannya. Kita semua tahu hidup tidak semudah yang ditunjukkan sosial media, kita terkadang jadi manusia bodoh yang kemakan motivasi palsu. MRT berhenti di salah satu stasiun. Ada penumpang yang turun dan ada penumpang baru yang mengisi kursi-kursi kosong. Karena gabut, aku memperhatikan pergerakan semua orang dalam jangkauan pandanganku, sampai mata ini menangkap sosok familiar, dia masuk dari salah satu pintu dan duduk bersebrangan, tidak jauh dariku. Dia tidak melihatku, dia sibuk dengan HPnya. Lagi cari-cari motivasi palsu juga kali, pikirku. Lukman, jangan-jangan mobilnya ada masalah juga mangkanya pulangnya naik MRT. Ternyata dia seperti ayah-ayah lainnya yang pulang bekerja dengan tampang lusuh, tapi masih tetap tampan. Dia memperbaiki letak kacamatanya, menangadah lalu kembali pada layar hpnya. Dia berulang kali menggeleng dan terlihat begitu kesulitan dengan Hp itu. "Mas, mas lukman kenapa?" Aku ingin bertanya seperti itu. "Mas, udah dong main hpnya!" "Mas, jangan pusing masalah pekerjaan ya." "Mas, mas Lukman jangan kerja sampai capek ya, mas Lukman juga perlu istirahat. Anak-anak itu cuma punya Mas Lukman sekarang." "Mas.." Mampus! Dia menoleh dan mata kami beradu dengan keterkejutan yang sama. Aku tersenyum lebar. Dia cuma memainkan alisnya sedetik lalu seperti orang yang tidak mengenalku dia kembali bermain Hp. Hpnya berdering, dia mengangkat telepon itu. Mataku gak bisa pindah kemana-mana lagi, mas Lukman adalah titik fokusnya. "Minggu depan ya, minggu depan cair kok. Insya Allah. Tolong ya, maaf banget gue ngerepotin lo terus." Begitu kira-kira samar-samar yang aku dengar dari tempat dudukku. Dia mematikan telponnya. Melihatku, dan aku tertangkap basah sedang memperhatikannya. Karena canggung, aku mengangkat kelima jariku untuk menyapanya. Sudut bibirnya berkedut tersenyum, tapi sedingin ruangan yang ACnya nggak dimatikan semaleman seperti itu senyumnya. Coool…. Satu persatu orang-orang keluar dari MRT dan berganti orang baru, aku berharap dia pindah duduk di sebelahku, tapi ternyata tidak. Dia tetap di tempat yang sama sampai kami berhenti di stasiun yang sama. "Mas Lukman." Aku mengalah, karena dia terlalu dingin biar aku deh yang lebih dulu menyapa. "Hai," sapanya kaku. "Mobilnya mana?" Dia berhenti, menoleh melihatku. "Kamu, mobilmu mana?" Ya ampun gue melted. Ini pertama kalinya gue merasa diperhatikan. Gak penting sih. Tapi ya udah gue melted aja pokoknya. "Di bengkel." "Oh." Dia kembali berjalan sangat cepat, entah karena sengaja atau karena memang terburu-buru. Aku bersusah payah menyeimbangkan langkahnya yang lebar menaiki tangga menuju jalan raya. "Mobilku dijual," akunya dengan wajah tanpa ekspresi. "Untuk melunasi rumah sakit Rosa, sementara harus naik MRT dulu." Nggak dong?! Gue merasa jadi orang jahat karena menanyakan hal yang pasti membuat harga dirinya terluka. Apa aku menyakiti egonya? Dia pasti tambah membenciku. "Sorry mas aku nggak tahu," ucapku hati-hati. Dia malah terkekeh. "Gak apa-apa" Dia menepuk bahuku. "Aku duluan ya, ojekku sudah di depan stasiun." "Oh iya iya." Astaga belum sempat aku mencerna tawanya yang bikin panas dingin, eh main pergi aja. Baru beberapa langkah menuju ke luar stasiun tiba-tiba dia berhenti dan kembali menghampiriku. "Kamu naik apa dari sini ke rumah?" "Jalan kaki." "Jalan kaki? Yakin?" Dia nggak terima dengan jawabanku. "Jauh loh." Entah kenapa aku pengen tersenyum. "Gak kok, aku lagi senang jalan mas. Enak aja jalan di jam pulang kantor, rasanya tuh kayak jadi pekerja kantoran." "Jangan Jalan, di simpang tiga sana banyak anak-anak nakal." Dia berusaha agar aku memilih alternatif lain, tapi dia nggak ngasih option apapun. "Gak apa-apa kok mas." Dia menghela nafas. "Oke bareng aja kalau gitu." Apa? Apa? Apa? Apa? Jadi dia ngajakin jalan bareng nih? Ada bunga yang tumbuh di kepalaku. Aku mau menari sambil berguling-guling saking senangnya. Dia mau nemenin aku jalan sampai rumah? Ini nyata nggak sih? Tahu gini, gue dandan dulu tadi. Mana muka gue lecek lagi. Dia menelpon ojeknya. "Pak biayanya sudah saya bayar pakai e money ya. Ini saya ketemu temen. Mau jalan aja. Bapak tinggalin aja, makasi pak." Telpon pun dimatikan. "Yuk," ajaknya dengan nada datar yang kusambut dengan senyum bahagia. Tanganku nggak sekalian digandeng mas? Biar aku sekalian melayang ke awan. Aku berusaha bersikap santai, mempertahankan senyum tiga jari supaya nggak keliatan t***l di depan dia. Tapi ini benar-benar menegangkan, menyenangkan, ah campur aduk. Aku seneng banget, padahal cuma diajakin pulang bareng jalan kaki tapi rasanya sudah kayak diajak ke pelaminan. Hadeh…, gue lebay! Santai, chill Jul,,, Chill aja gitu, kek orang oke. Tangan ku basah karena grogi mau jalan bareng sama Lukman. Kami jalan bersisian tanpa banyak bicara. Lukman sering memperhatikan jalanku. "Awas ada lubang," Dia memberitahukan ada lantai gorong-gorong yang amblas di trotoar. Dia benar-benar irit bicara, aku rasa suku katanya kurang deh. Atau mungkin dia bapak-bapak yang susah komunikasi dan membaur, ah nggak mungkin, dia kan pekerja kantoran, sudah bekerja lama, nggak mungkin dia nggak punya teman. Tapi mungkin sikapnya memang irit. Irit bicara, irit uang, irit senyum. Jantungku mendadak jadi nggak normal, seperti orang yang sebentar lagi cek out dari dunia fana, berdebar terlalu kencang. Bukannya jatuh cinta aku malah jatuh mati kalau jantungku berdebarnya kencang gini. "Jul." Lukman menarik lenganku lebih ke pinggir. "Kamu kurang hati-hati ya orang nya? Lagi banyak pikiran ya? Ngelamun sambil jalan itu bahaya." "Oh aku, gak tahu," balasku dengan wajah melongo karena kaget hampir ditabrak orang bersepeda. Dia tidak menggubris, dia berjalan mendahuluiku beberapa langkah. Kami tidak bisa berjalan bersisian karena ternyata trotoarnya terlalu sempit untuk adegan romantis yang sempat terbayang di kepalaku. Artinya semesta belum mengamini khayalanku yang kejauhan. Teleponnya berdering lagi, Lukman segera mengangkatnya. "Iya Bro?" Ternyata Lukman lumayan tinggi, lehernya jenjang banget, posturnya sesempurna itu dari belakang. Kalau liat punggung Lukman begini, rasanya pengen minta gendong. Apa gue pura-pura keseleo aja? "Ntar sampai rumah gue kirim filenya. Eh, yang PT. Gandum siapa yang dapet ya?" Masalah pekerjaan, dia kan arsitek. Aku mencatat itu dengan baik di otak setelah stalking sosial media Rose beberapa waktu lalu. "O, belum ada ya, gue ngajuin diri bro untuk gedungnya. Iya. Gue mau nambah-nambah bayar cicilan." Cicilan? Dia tertawa dingin. "Si Bonas sudah gue rela’in, iya bro. Yah tahu sendiri, musibah." Telingaku melebar mendengar percakapannya. Si Bonar itu pasti panggilan sayang untuk mobilnya yang baru dia jual. "Bantu ya Bro, ngomong ke bos! Ngandelin bonus aja nggak bisa nutupin." Ada jeda sejenak. "Siap." Jeda lagi. "Thanks ya." Jeda. "Oke." Telpon dimatikan. Hp pun kembali masuk ke kantong kemejanya. Dengan adanya percakapan telepon itu, aku tahu beban Lukman tidak sedikit. Tidak mudah membiayai rumah sakit penderita kanker, pasti mahal banget. Sampai jual mobil dan rela bekerja lebih banyak dari biasanya untuk menutupi cicilan. Beruntung banget Rosa, Seandainya ada orang yang mencintaiku seperti itu pastinya aku nggak akan hidup menyedihkan lagi. Aku pasti akan memperbaiki semuanya, SE-MU-A-NYA, dari atas sampai bawah, dari luar sampai ke dalam hanya untuk orang itu. "Anak-anak gimana mas?" tanya ku, ingin kembali membuka obrolan. "Oke mereka oke." "hmmm" terus tanya apa lagi? "Gak apa-apa ditinggal sampai malam?" "Ada Ningsih," jawabnya. "Kenapa nggak di bawa ke kantor?" Pertanyaanku mulai bodoh. "Lingkungan kerja itu nggak cocok untuk anak-anak, tempatku kerja banyak orang dewasa yang sibuk dan suka marah-marah. Gak sehat buat mereka, paling yah kalo Ningsing ada urusan aku titip ke mertua." Dia diam sejenak. "Anak-anakku kurang nyaman tinggal di rumah mertuaku." "Owh iya?" Aku senang akhirnya dia sedikit membuka diri. Ceritakan aku semuanya mas, sampai aku tahu siapa dirimu. "Lagian mamanya Rosa sering keluar negeri, disana juga dijagain pengasuh. Aku nggak percaya pengasuh lain selain Ningsing." Aku mengangguk "Mas Lukman keren deh." "Gimana?" tanyanya. "Eh." Aku nyengir, agak sedikit keceplosan rupanya. "Ya, Keren bisa ngadepin semuanya dengan lapang dada." Aku ngefreeze beberapa detik, dia mendadak terkekeh geli, kerut di ujung matanya membuatnya tambah ribuan kali lebih manis. "Kelihatannya aja Jul, aslinya yah hanya Allah yang tahu. Aku juga sedang berusaha mencerna, menerima segala perubahan di hidupku. Semua ini terlalu mendadak." Aku mengangguk. "Aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa secinta-cintanya aku sama Rosa, Rosa bukan milikku, Rosa milik Allah. Dia datang di hidupku dan kapan saja bisa diambil oleh pemiliknya." Sekali lagi Lukman menarik tanganku mencoba menghindarkan aku dari seseorang yang berjalan terlalu cepat dari arah berlawanan. "Bisa ya mas Lukman mikir gitu?" "Aku sedang berusaha." "Kalau gitu aku beruntung hanya mencintai diriku sendiri," celetukku begitu saja. Dia tersenyum. "Yah, itu mungkin lebih baik." Lalu dia berjalan mendahuluiku jalannya cepat banget. Aku sampai megap-megap berusaha menyesuaikan langkahku dengan langkah kakinya yang lebar. Pelanan dikit kenapa sih mas, aku engap!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN