Hal pertama yang kulakukan ketika bangun tidur adalah nengok tetanggaku, sedang apa ya mas Lukman yang guanteng itu? Aku membuka tirai jendela dan melihat lurus ke rumah nomor 225
Semalam aku akhirnya tidur sambil senyum-senyum sendiri. Aku merasa spesial aja jalan bareng Lukman dan diliatin satpam komplek meski dia jalan kaya orang kebelet poop. Cepat banget.
Lukman belum keluar rumah, Ningsih sudah datang dan sekarang lagi bersih-bersih di halaman depan. Rumah Lukman tidak memiliki pagar pembatas, begitu polos sampai ke pintu masuknya. Tidak ada garasi hanya space kecil untuk memarkir mobil, yang kini sudah tidak ada.
Aku meraih handphone bermaksud untuk mencari tahu berapa biaya yang dikeluarkan pengidap kanker untuk membiayai kemoterapi dan pengobatan yang lain-lain. Kanker apa ya si Rosa?
Tapi begitu Melihat tampilan pesan di layar utama aku sudah ingin membanting Hpku lagi rasanya.
Bpk.Rochman
Jangan salah, jangan ngira aku pelakor ditelpon bapak-bapak. Pak Rockhman itu bapak ku. Saking jauhnya hubungan kami berdua, mangkanya aku simpan nomornya seperti itu, bukan "papa". Lagian papa juga punya tiga anak yang akan memanggilnya, mengaguminya, memperlakukannya sebagai seorang “papa”. Aku hanya pernah bertemu adik tiriku yang bungsu, aku lupa namanya. Saat aku meninggalkan rumah papa, dia masih berusia enam bulan.
Begini isi pesan Bpk. Rochman : Ke rumah papa. Makan siang sama adik-adik.
Kalo gue nolak, durhaka nggak?
Aku butuh satu jam untuk membalas pesan dari papaku. Aku sungguh tidak menyukai lingkungan di sekitar kedua orang tuaku. Suatu siksaan rasanya diminta untuk beramah tamah dengan keluarga baru mereka.
***
Rachel duduk di tengah tiga buah hatinya. Mereka semua laki-laki. Si sulung bernama Romeo, dia sudah kelas satu SMP. Dia melihatku dengan tatapan awas, dikiranya aku seorang musuh yang akan mengambil harta bapaknya.
"Pekerjaanmu lancar Jul?"
Aku tersenyum malas pada Rachel, aku tidak akrab dengannya. Dan aku masih membencinya, karena usia kami tidak jauh berbeda dan dia adalah ibu tiriku. Menurutku itu menjijikkan.
Rumah papa kini sudah lima puluh kali lebih besar dari terakhir kali aku kemari. Mataku menyapu kristal-kristal pajangan di rumah ini, lampu gantung yang megahnya seperti kerajaan. Senang sekali adik-adikku tercinta ini tinggal di rumah semegah ini.
"Jul, sering-seringlah kemari, makan seperti ini kan enak." Papa berbicara dari kursinya
"Aku sibuk." Terima kasih atas karirku yang sukses, terkadang menjadikan-nya dalih untuk menghindari keluarga papa sangat membantu.
Papa mendesah lelah, dapat ku lihat gurat di wajahnya yang telah menua "Minggu depan Austin ulang tahun." Kalau papa tidak memindahkan pandangannya pada anaknya yang bernama Austin aku gak akan tahu kalau si bungsu itu bernama Austin. "Ulang tahunnya di Bali, Papa buka POM di sana, besok kita semua berangkat ke Bali, sekalian liburan. Kamu mau ikut ?"
"Maaf pa, jadwalku satu bulan ini full." Dalam hal ini aku jujur banget.
Papa meletakkan sendok dan garpunya, dia memperbaiki letak kaca matanya.
"Aku..." Aku melepaskan sendok dan garpuku. Aku bisa menangkap gestur marah papa. "Pa, aku sudah punya kehidupan sendiri. Aku sudah dewasa."
"Tapi kamu tetap anakku, kalau papa gak chat kamu duluan. Pasti kamu gak akan pernah menghubungi papa"
Rachel mengisyaratkan memberi pandangan aneh agar papa menahan diri. Rachel melihatku dengan mata yang seakan tersenyum padaku. "Adik-adik ingin kenal lebih dekat dengan kakak mereka." Dia melihat si sulung. "Iya kan bang ?"
Si sulung yang dipanggil Abang hanya terdiam.
"Aku rasa mereka akan canggung." jawabku asal lalu, sambil meneguk segelas lemon tie "Jangan dipaksakan, Kita malah akan jadi orang dewasa yang tidak menghormati mereka. Jangan paksa mereka berhadapan dengan situasi yang nggak sesuai usia mereka."
Ragu-ragu aku melirik papaku, dia melihatku dengan tampang membekunya. "Kamu batu seperti mamamu"
Tanganku mengepal, sering kali aku mendengar papa bilang aku seperti mama. Menurutnya jadi seperti mama itu buruk? Aku heran kenapa dia menikahi orang yang dianggapnya buruk?
"Aku bukan batu pa, aku baja. Aku baja yang kalian tempa sejak kecil, hingga seperti ini. Besarkan anak laki-laki papa dengan baik supaya kelak tidak menyusahkan ketika dewasa." Aku mengambil tasku di kursi sebelah.
Sebelum meninggalkan meja makan mewah tersebut, aku sempatkan untuk memberi salam. "Siang semuanya."
***
Belum benar-benar di mood yang bagus, aku justru mendapat pesan baru yang sudah bikin overthinking duluan. Antara lega akhirnya dia menghubungiku dan juga ingin berteriak marah karena aku masih sakit hati padanya.
Davi : Ada waktu ?
Aku langsung membalas : Ada
Davi : Kafe Cerah ya, jam tiga sore ini.
Aku : Oke
Masalah pada malam itu, memang harus diselesaikan. Sudah satu minggu, munggu depan gue harusnya period. Kalau gue gak dapet itu artinya gue hamil. Masalah hidup gue akan semakin pelik.
Aku tidak mau ketika anak itu besar dia tahu bahwa dia dibuat karena ada campur tangan Alkohol. Aku tidak mau dia hanya bisa melihat papanya dari TV tanpa bisa memanggilnya dengan sebutan "Papa"
Entah kenapa aku jadi meraba perut rataku. "Jangan jadi ya Davi, please!" ujarku pada perut itu. Mobilku sudah ku ambil dari bengkel dan sekarang aku lagi mau pergi ke kf Carah untuk menemui Davi.
Aku datang lebih cepat dari waktu yang dia tentukan. Aku duduk dan mendapat telpon dari mamaku. Aku tidak mengangkat telepon pertama, lalu hpku kembali berdering empat kali, karena mengganggu ketenangan kafe Cerah aku memutuskan mengangkatnya saja.
"Sesibuk apa sih, sampai telpon mama sendiri gak diangkat?" Suaranya tinggi, aku menjauhkan Hp dari telingaku.
"Sibuk ma." Alasan yang sama yang selalu jadi senjataku.
"Tadi kamu ke rumah si Sandi?" Papaku bernama Sandi Rochman, nama lengkap ku Jullien Gweny Rochman. Tapi aku selalu menulis namaku dua penggal, Jullien Gweny saja. Aku risih harus pakai nama Rochman, soalnya si Rachel sudah menggunakan nama belakang itu lebih dulu di sosial medianya. Gue nggak sudi pake nama yang sama kayak dia.
"Iya ma."
Aku mendengar suara tawa meremehkannya, tawanya melengking seperti orang putus asa "Ketemu sama ibu tirimu yang super kaya itu?" Pertanyaannya padaku semakin sarkastik saja. "Kamu nggak dengar dari papamu, kalau mereka beli tanah triliunan di Bali, nggak diceritain ya?"
"Ada apa si ma?"
Kenapa sih ada orang yang saling benci tapi nikah, romantis nggak, yang jadi malah anak mental issue kayak aku.
Sayangnya aku nggak bisa banget dipancing gini pas lagi capek. "Mama mau beli tanah juga, sakit hati kekayaan suami mama dikalahkan mantan? Mama iri sama Rachel ya?"
"Kurang ajar kamu ya !" Aku memejamkan mata, seakan aku bisa melihat raut wajah marahnya.
"Tadi aku dikatain seperti mama sama papa, Ternyata memang benar aku seperti mama." Aku mengaduk-ngaduk kopi di hadapanku. "Bukan kurang ajar, aku dari kecil kurang kasih sayang ma. Jadi mohon dimaklumi aja kalau aku ngomongnya to the point, aku gak ada maksud nyakitin mama."
Dia terdiam, aku menunggu dia bicara tapi aku tidak mendengar apapun, sampai aku melihat ke Hpku, durasi di sambungan telponku masih berjalan.
"Sampai kapan kamu sedendam itu ke orang tuamu? Apa karena kami tidak membesarkanmu?"
Tanganku mengepal, aku tertunduk, menahan jeritan di hatiku. Sebegininya jadi aku...
"Sudahlah, aku rasa pembicaraan kita kali ini pun akan berujung pertengkaran lagi. Aku menelponmu karena ingin menanyakan satu hal."
Aku mendengarkan.
"Rachel nggak cerita apa-apa soal mama kan? Kami sempat bertengkar di acara fashion show nya Marina Gunandar. Papamu mendatangi mama ke butik katanya mama mencemarkan nama baik. Dia mengancam mau melaporkan mama.."
Aku memejamkan mata, kenapa sih mereka seperti anak-anak? Kalau pernikahan udah selesai ya selesai aja gitu…, masih aja sama-sama cari masalah.
"Jujur aja ya Jull, mama gak tahan banget dia ikut nimbrung di society mama. Tahu kan? Kok bisa-bisanya dia berteman dengan Puspa dan Woro?" Dua sahabat mama yang merupakan istri orang-orang berduit. "Mama yang mau ketemu temen-temen kan mesti ketemu dia juga, aduh sakit kepala aku. Sebel banget."
"Ma.." Suaraku terdengar sangat dalam "Kalau mama memang menyinggung Rachel, minta maaf aja. Jujur, aku males banget terseret karena masalah kalian berdua." Aku mendesah lelah. "Kalian konyol menurutku."
Aku mematikan telepon dengan perasaan kesal sampai ke ubun-ubun. Jadi sekarang aku tahu maksud papa ngajakin aku makan siang. Semata-mata ingin aku membelanya, semata-mata ingin aku satu kubu dengannya untuk membenci mamaku. Karena itu dia berdalih agar aku dekat dengan anak-anaknya. Yang sudah pasti tidak akan pernah terjadi. Kurasa dia ngajakin ke Bali ingin pamer properti barunya padaku, sekali lagi dia mungkin punya maksud membuat mama iri.
Aneh.